Articles by "Takhrij Hadis"

Tampilkan postingan dengan label Takhrij Hadis. Tampilkan semua postingan

SQ BLOG - setelah admin sebelumnya share 5 Hadis Palsu Seputar Ramadhan, dan tentu masih banyak hadis-hadis palsu yang lain, kali ini admin akan share terkait dengan hadis-hadis seputar keutamaan ramadhan.

Admin juga telah menyusun hadis-hadis tersebut dalam bentuk PDF yang sobat dapat download. Admin memberinya judul Hadis-hadis Shahih dan Makbul tentang Keutamaan Seputar Ramadhan; Disarikan dari Hadis Nabawi dan Hadis Qudsi.

Dalam uraian tersebut dan juga dalam postingan kali ini, admin utarakan 19 Fadhilah seputar bulan Ramadhanh sehingga diberi judul "19 Hadis Shahih dan Makbul Seputar Keutamaan Ramadhan"

Sungguh pun demikian, hadis-hadis yang terdapat di dalamnya tidak hanya 19 saja, karena terdapat penyebutan beberapa hadis dalam satu fadhilah/keutamaan. Penyebutan 19 Hadis dalam judul postingan ini hanya untuk menunjukkan 19 tema umum atas kategori keutamaan dari hadis-hadis tersebut.

Sobat, langsung simak aja ulasannya di bawah ini:

Untuk bekal pengajaran ataupun dakwah silahkan download pada link di bawah:

LINK 1LINK 2

Postingan ini telah kami update dengan nama: 30 Hadis Makbul seputar Fadhilah Puasa.
 
SEKIAN
SEMOGA BERMANFAAT

SQ BLOG - Salam semuanya, Alhamdulilah memasuki bulan ramadhan tahun kali ini tinggal menghitung jam. Marhaban yaa ramadhan... 
Telah datang kepada kalian ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah wajibkan kepada kalian puasa di bulan ini. Di bulan ini, akan dibukakan pintu-pintu langit, dan ditutup pintu-pintu neraka, serta setan-setan nakal akan dibelenggu. Demi Allah, di bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari pada 1000 bulan. Siapa yang terhalangi untuk mendulang banyak pahala di malam itu, berarti dia terhalangi mendapatkan kebaikan. (H.R. Ahmad)
Janji hadis di ataslah tentunya yang membuat setiap kita bergembira untuk menyambut bulan nan suci ini. Sehubungan hal ini, admin kali ini akan berbagi beberapa hadis dha'if seputar Ramadhan. Hadis-hadis tersebut sebenarnya banyak, tapi admin hanya menyajikan 5 buah pokok bahasan yang admin sadur dari karya Ali Mustafa Ya'qub. Admin menyadari belum saatnya menghukumi sebuah hadis tanpa berdiri di atas pijakan yang benar-benar mumpuni. Karena hal ini bukan sekedar klaim ini shahih atau dha'if, tapi lebih dari itu, penguasaan akan sebab-sebab atau illatnya dan studi ilmu lainnya yang terkait.

Berikut 5 Hadis Palsu tersebut:
Telah datang kepada kalian ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah wajibkan kepada kalian puasa di bulan ini. Di bulan ini, akan dibukakan pintu-pintu langit, dan ditutup pintu-pintu neraka, serta setan-setan nakal akan dibelenggu. Demi Allah, di bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari pada 1000 bulan. Siapa yang terhalangi untuk mendulang banyak pahala di malam itu, berarti dia terhalangi mendapatkan kebaikan.

Read more https://konsultasisyariah.com/22686-anjuran-bergembira-dengan-datangnya-ramadhan.html
Telah datang kepada kalian ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah wajibkan kepada kalian puasa di bulan ini. Di bulan ini, akan dibukakan pintu-pintu langit, dan ditutup pintu-pintu neraka, serta setan-setan nakal akan dibelenggu. Demi Allah, di bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari pada 1000 bulan. Siapa yang terhalangi untuk mendulang banyak pahala di malam itu, berarti dia terhalangi mendapatkan kebaikan.

Read more https://konsultasisyariah.com/22686-anjuran-bergembira-dengan-datangnya-ramadhan.html
Telah datang kepada kalian ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah wajibkan kepada kalian puasa di bulan ini. Di bulan ini, akan dibukakan pintu-pintu langit, dan ditutup pintu-pintu neraka, serta setan-setan nakal akan dibelenggu. Demi Allah, di bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari pada 1000 bulan. Siapa yang terhalangi untuk mendulang banyak pahala di malam itu, berarti dia terhalangi mendapatkan kebaikan.

Read more https://konsultasisyariah.com/22686-anjuran-bergembira-dengan-datangnya-ramadhan.html

1. HADIS PERTAMA; 3 BAGIAN DALAM KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN

حَدَّثَنَاهُ أَحْمَدُ بْنُ دَاوُدَ قَالَ: حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ قَالَ: حَدَّثَنَا سَلَّامُ بْنُ سَوَّارٍ قَالَ: حَدَّثَنَا مَسْلَمَةُ بْنُ الصَّلْتِ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَوَّلُ شَهْرِ رَمَضَانَ رَحْمَةٌ، وأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ، وَآخِرَهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ» ﴿رواه العقيلي في الضعفاء الكبير﴾

Artinya: Permulaan bulan Ramadhan itu Rahmat, Pertengahannya maghfirah (ampunan), dan penghabisannya merurpakan pembebasan dari neraka.”[1] (.H.R. Al-Uqaili)

Hadis ini diriwayatkan juga oleh Ibnu ‘Adiy, Al-Khatib al-Bagdadi, Al-Dailami, dan Ibn ‘Asakir. Menurut Imam al-Suyuti, hadis ini nilainya dha’if (lemah), dan menurut Albani bahwa hadis ini adalah mungkar. Pernyataan Albani ini tidak berlawanan dengan pernyataan Al-Suyuti karena hadis mungkar adalah bagian dari hadis dha’if. Hadis mungkar termasuk kategori hadis yang sangat lemah dan tidak dapat dipakai sebagai dalil apa pun.[2]

Sumber kelemahan hadis ini adalah dua orang rawi, yaitu Sallam bin Sawwar dan Maslamah bin al-Shalt. Menurut Ibn ‘Adiy, Sallam bin Sawwar adalah munkar al-Hadis. Ibnu Hibban mengatakan Sallam tidak boleh dijadikan hujjah (pegangan), kecuali apabila ada rawi lain yang meriwayatkan Hadisnya. Sedangkan Maslamah bin al-Shalt adalah matruk, yaitu dituduh sebagai pendusta.

Hadits lemah yang senada dengan hadits diatas yaitu:

عَنْ سَلْمَانَ الْفَارِسِيّ قَالَ : خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي آخِرِ يَوْمٍ مِنْ شَعْبَانَ فَقَالَ : أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيمٌ ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ ، شَهْرٌ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ، جَعَلَ اللَّهُ صِيَامَهُ فَرِيضَةً ، وَقِيَامَ لَيْلِهِ تَطَوُّعًا ، مَنْ تَقَرَّبَ فِيهِ بِخَصْلَةٍ مِنَ الْخَيْرِ ، كَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيضَةً فِيمَا سِوَاهُ ، وَمَنْ أَدَّى فِيْهِ فَرِيْضَةً كَانَ كَمَنْ أَدَّى سَبْعِيْنَ فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ ، وَهُوَ شَهْرُ الصَّبْرِ ، وَالصَّبْرُ ثَوَابُهُ الْجَنَّةُ…وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُه رَحْمَةٌ وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ... ﴿رواه ابن خزيمة في صحيح ابن خزيمة﴾

“Dari Salmân al-Fârisi Radhiyallahu ‘anhu, dia mengatakan, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkhutbah dihadapan kami pada hari terakhir bulan Sya’bân. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Wahai manusia, sungguh bulan yang agung dan penuh barakah akan datang menaungi kalian, bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allâh Subhanahu wa Ta’ala menjadikan puasa (pada bulan itu) sebagai satu kewajiban dan menjadikan shalat malamnya sebagai amalan sunnah. Barangsiapa yang beribadah pada bulan tersebut dengan satu kebaikan, maka sama (nilainya) dengan menunaikan satu ibadah wajib pada bulan yang lain. Barangsiapa yang menunaikan satu kewajiban pada bulan itu, maka sama dengan menunaikan tujuh puluh ibadah wajib pada bulan yang lain. Itulah bulan kesabaran dan balasan kesabaran adalah surga …. Itulah bulan yang awalnya adalah rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya adalah merupakan pembebasan dari api neraka...”. (H.R. Ibnu Khuzaimah)[3]

Sanad hadits ini dha’îf (lemah), karena ada seorang perawi yang bernama Ali bin Zaid bin Jud’ân. Orang ini seorang perawi yang lemah sebagaiamana diterangkan oleh Imam Ahmad, Yahya, Bukhâri, Dâruquthni, Abu Hâtim dan lain-lain. Ibnu Khuzaimah sendiri mengatakan, “Aku tidak menjadikannya sebagai hujjah karena hafalannya jelek.” Imam Abu Hatim mengatakan, “Hadits ini mungkar.”[4]

Sehingga, hadis di atas merupakan hadis dha’if yang kedha’ifannya sangat parah sehingga tidak dapat dijadikan dalil apa pun, termasuk dalam fadhailul amal.

2. HADIS KEDUA; MAKAN SEBELUM LAPAR

نَحْنُ قَوْمٌ لَا نَأْكُلُ حَتَي نَجُوْعَ وَإِذَا أَكَلْنَا لَا نَشْبَعُ.

Artinya: Kami adalah orang-orang yang tidak makan sehingga kami lapar, dan apabila kami makan, kami tidak sampai kenyang.[5]

Ungkapan di atas banyak yang menganggapnya sebagai Hadis. Padahal tidak ditemukan sama sekali dalam kitab-kitab Hadis. Ungkapan ini ditemukan di dalam kitab Al-Rahmah fi al-Tibb wa al-Hikmah karya imam Al-Suyuti. Dan ternyata ungkapan tersebut hanyalah ucapan seorang dokter dari Sudan yang suatu saat diminta pendapatnya oleh Raja (Kisra) Persia.

Dengan demikian, ungkapan di atas bukanlah sebuah Hadis, melainkan sebuat kata-kata hikmah atau kata-kata mutiara.[6]

3. HADIS KETIGA; HARAPAN SATU TAHUN PENUH RAMADHAN

حَدَّثَنَا أَبُو الْخَطَّابِ زِيَادُ بْنُ يَحْيَى الْحَسَّانِيُّ ، حَدَّثَنَا سَهْلُ بْنُ حَمَّادٍ أَبُو عَتَّابٍ ، أَخْبَرَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي يَزِيدَ ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ قَالاَ : حَدَّثَنَا جَرِيرُ بْنُ أَيُّوبَ الْبَجَلِيُّ ، عَنِ الشَّعْبِيِّ ، عَنْ نَافِعِ بْنِ بُرْدَةَ ، عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ قَالَ أَبُو الْخَطَّابِ الْغِفَارِيُّ : قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (ح) وَقَالَ سَعِيدُ بْنُ أَبِي يَزِيدَ ، عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وَهَذَا حَدِيثُ أَبِي الْخَطَّابِ - قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ ذَاتَ يَوْمٍ وَقَدْ أَهَلَّ رَمَضَانُ ، فَقَالَ : لَوْ يَعْلَمُ الْعِبَادُ مَا رَمَضَانُ لَتَمَنَّتْ أُمَّتِي أَنْ يَكُونَ السَّنَةَ كُلَّهَا... ﴿رواه ابن خزيمة في صحيح ابن خزيمة﴾

Artinya: Seandainya ummatku mengetahui pahala ibadah bulan Ramadhan, niscaya mereka menginginkan agar satu tahun penuh menjadi Ramadhan semua.”[7] (.H.R. Ibnu Khuzaimah)

Hadis ini diriwayatkan juga oleh Usaman Al-Khubari, Abu Ya’la, Al-Baihaqi, Ibnu Al-Najjar dan Al-Mundziri. Kepalsuan hadis di atas disebabkan oleh salah satu sanadnya yang bernama Jarir bin Ayyub al-Bajali. Para kritikus Hadis menilainya sebagai pemalsu hadis, matruk dan munkar. Disamping terdapat juga kejanggalan dalam matan hadisnya. Hadis di atas hanyalah penggalan dari potongan matannya yang masih panjang.

Menurut para ulama hadis, salah satu dari tanda-tanda hadis palsu adalah hadis itu panjang disertai kejanggalan susunan kata-kata dan maknanya. Dalam hadis ini, kejanggalan makna itu terdapat dalam besarnya pahala atau balasan dari amalan yang sangat ringan sementara dalam hadis-hadis shahih hal serupa tidak disebutkan.[8]

Pertanyaannya kemudian, jika hadis ini palsu, mengapa Ibnu Khuzaimah memasukannya ke dalam kitab shahihnya? Sebenarnya Ibnu Khuzaimah tidak seceroboh itu, karena beliau dalam kitabnya itu menyatakan dua ungkapan yang dapat menyelamatkan beliau dari kritik itu. Pertama, beliau menyatakan: باب ذكر تزيين الجنة لسهر رمضان...إن صح الخير (Bab tentang dihiasinya surga untuk bulan Ramadhan…apabila hadis ini shahih). Kedua, beliau juga menuturkan: فإن في قلبي في جرير بن ايوب البجلي سيء (Dalam hati saya ada sesuatu tentang Jarir ibn Ayyub Al-Bajali).

Jadi kesimpulannya bahwa hadis ini tetap Maudhu’ (Palsu).

4. HADIS KEEMPAT; TIDURNYA ORANG PUASA ADALAH IBADAH

أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللهِ الْحَافِظُ، أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ عِيسَى، حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْعَلَاءِ، حَدَّثَنَا سِخْتَوَيْهِ بْنُ مَازِيَادَ، حَدَّثَنَا مَعْرُوفُ بْنُ حَسَّانَ، حَدَّثَنَا زِيَادٌ الْأَعْلَمُ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى الْأَسْلَمِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ، وَصَمْتُهُ تَسْبِيحٌ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ " ﴿رواه البيهقي﴾

Artinya: Tidurnya orang yang berpuasa itu ibadah, diamnya adalah tasbih, doanya dikabulkan, dan amalnya dilipatgandakan.”[9] (.H.R. Al-Baihaqi)

Hadits ini dha’if, sebagaimana dikatakan Al-Iraqi, Albani juga mendhaifkan hadits ini. Di dalam hadis ini terdapat nama-sama seperti Ma’ruf bin Hasan, seorang perawi yang dha’if, dan Sulaiman bin Amr al-Nakha’I, seorang perawi yang lebih dha’if dari pada Ma’ruf. Kesimpulan Ali Mustafa Ya’qub bahwa hadis ini merupakan hadis palsu.

5. HADIS KELIMA; PUASA RAMADHAN TIDAK DITERIMA HINGGA MENGELUARKAN ZAKAT FITRAH

حَدَّثَنَا أبو قاسم بْنُ الْحُصَيْنِ قَالَ أَنَا عَلِيُّ بْنُ أَبِي عَلِيٍّ الْبَصْرِيُّ قَالَ نا أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ إبراهيم بن حمدان الدير عاقولي قَالَ نَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنِ إِسْمَاعِيلَ بْنِ إِسْحَاقَ الْفَقِيهُ قَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَلِيِّ بْنِ عُبَيْدَةَ الْمُؤَدَّبُ قَالَ نا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ الْبَصْرِيُّ قَالَ نَا مُعْتَمِرٌ قَالَ نا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي خَالِدٍ عَنْ قَيْسِ بْنِ أَبِي حَازِمٍ عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّ شَهْرَ رَمَضَانَ مُعَلَّقٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ لا يُرْفَعُ إِلا بِزَكَاةِ الْفِطْرِ".

Artinya: Ibadah bulan Ramadhan itu tergantung antara langit dan bumi, dan tidak akan diangkat kepada Allah kecuali dengan mengeluarkan zakat fitrah.”[10]

Ibnu Jauzi menuturkan dalam kitabnya mengenai hal ini dengan dua buah hadis. Hadis pertama pertama berasal dari Jarir sebagaimana redaksi di atas, dan hadis kedua berasal dari Anas bin Malik.[11] Ibnu Jauzi kemudian berkomentar bahwa dua hadis itu tidak shahih (palsu). Hadis pertama di dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Muhammad bin Ubaid, seorang yang tidak dikenal identitasnya. Sedangkan hadis kedua di dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Abd al-Rahman bin Utsman, para ulama melemparkan Hadis Abd al-Rahman bi Utsman. Dan menurut Ibnu Hibban Abd al-Rahman bin Utsman tidak boleh dijadikan hujjah.

Demikian juga Al-Suyuti menutukan bahwa hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Syahin dan Al-Dhiya, keduanya berasal dari Jabir. Al-Suyuti mengatakan bahwa hadis ini dha’if tanpa menyebutkan alasannya. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir yang di dalam sanandnya terdapat rawi yang bernama Abd al-Rahman bin Utsman yang tidak diketahui identitsanya.

Dengan demikian, sanad hadis ini tidak dapat dinilai karena ada rawi yang majhul. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hadis ini palsu.

ENDNOTE

[1] Muhammad bin ‘Amr Al-Uqaili, Al-Dhu’afa al-Kabir (Beirut: Darr al-Maktabah al-Ilmiyah, 1404 H/1984 M), jilid 2, Cet. I, h. 162
[2] Lihat Ali Mustafa Ya’qub, Hadis-hadis Palsu Seputar Ramadhan (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2013), Cet. VI, h. 14
[3] Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Khuzaimah (Maktbah Syamilah)
[4] Almanhaj.or.id
[5] Muhammad bin ‘Amr Al-Uqaili, Al-Dhu’afa al-Kabir (Beirut: Darr al-Maktabah al-Ilmiyah, 1404 H/1984 M), jilid 2, Cet. I, h. 162
[6] Lihat Ali Mustafa Ya’qub, Hadis-hadis Palsu Seputar Ramadhan (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2013), Cet. VI, h. 23
[7] Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Khuzaimah (Maktbah Syamilah)
[8] Lihat Ibn Shalah, Muqaddimah Ibn Shalah, yang dinukil dalam Ali Mustafa Ya’qub, Hadis-hadis Palsu Seputar Ramadhan, h. 28
[9] Al-Baihaqi, Sya’b al-Iman, (Maktbah Syamilah), kemudian dinukil oleh Al-Suyuti dalam Al-Jami’ al-Shaghir
[10] Ibnu Jauzi, Al-‘Ilal al-Mutanahiyah fi al-Ahadits al-Wahiyah
[11] Dengan readaksi “لا يَزَالُ صِيَامُ الْعَبْدِ مُعَلَّقًا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ حَتَّى يُؤَدِّيَ زَكَاةَ فِطْرِهِ.”

SEKIAN


PDF Download
LINK 1LINK 2

SQ  Blog - Sobat, moga semuanya sehat wal afiyat. Kali ini admin mengajak untuk membicarakan satu tokoh hadis kontemporer asal Mesir. Menarik untuk mendiskusikan tokoh ini karena pemikirannya banyak mengandung kontroversi, lebih khusus di tanah kelahirannya sendiri, di Mesir. Dia adalah Mahmud Abu Rayyah. Berikut ulasan biografinya kawan.

Latar Belakang Pendidikan Mahmud Abu Rayyah

Mahmud Abu Rayyah dilahirkan di Kafr al-Mandara, di sebuah kota yang bernama Aja, provinsi Dakahlia di Mesir pada tanggal 15 desember tahun 1889 M, bertepatan 21 rabi’ al-tsani 1307 H.[1] Sebagian mengatakan bahwa Abu Rayyah dilahirkan pada tahun 1887 M,[2] dan dikatakan pula tahun 1889 M. Namun, tahun kelahirannya yang lebih masyhur adalah tahun 1889 M dan meninggal tahun 1970 dalam usia 81 tahun.[3] Ibunya meninggal ketika ia masih dalam buain, kemudian ia tumbuh dibawah pengasuhan dan pendidikan ayahnya dan saudara-saudaranya. Perjalanan pendidikannya dimulai di tanah kelahiran sendiri dengan mempelajari ilmu-ilmu agama dan juga ilmu lainnya sampai akhirnya memperoleh gelar sarjana pada tahun 1940 M di Mansoura University.[4]

Pada tahun 1957 M, Abu Rayyah melanjutkan pencarian ilmunya di kota Giza, sebuah kota tempat berdirinya sphinx dan piramida-piramida di Mesir. Tercatat bahwa Abu Rayyah pernah belajar di Madrasah Al-Da’wah wa al-Irsyad, lembaga dakwah yang didirikan oleh Rasyid Ridha pada tahun 1912 di Kairo. Ia juga pernah mengikuti berbagai kursus di sebuah sekolah tinggi teologi di dalam negeri. Kekaguman yang luar biasa terhadap Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha telah ia simpan sejak masa mudanya sehubungan dengan gagasan-gagasan Abduh dan Ridha tentang penolakan terhadap taqlid khususnya taqlid terhadap madzhab.

Abu Rayyah tertarik untuk melakukan penelitian tanpa perlu secara otomatis tunduk kepada teori-teori para ulama atau sarjana yang lebih senior. Merasa tidak puas atas sikap pasif (jumud) para ulama atau sarjana masa itu, serta tidak adanya imajinasi atau inspirasi dalam diri mereka, menjadi tujuan utama Abu Rayyah untuk menerobos rintangan taqlid ini yang dalam pandangannya merupakan penyebab terjadinya kemunduran dalam Islam.[5]

Setelah mengabdikan masa mudanya untuk studi kesusastraan Arab, Abu Rayyah menemukan beberapa hadis Nabi saw yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah yang penafsirannya membuat ia heran.[6] Beliau memiliki kesan bahwa Nabi tidak mungkin pernah mengucapkan kata-kata remeh dan kasar seperti itu, tidak memiliki retorika sebagaimana yang sering dijumpainya dalam berbagai tulisan.[7] Berangkat dari anggapan tersebut, Abu Rayyah kemudian menuangkan pandangan-pandangannyanya dalam Ilmu Hadis, walaupun demikian ia banyak menyandarkan argumen-argumennya dengan Muhammad Abduh dan Rasyid Ridho.

Buku dan Karya-karya Ilmiah Mahmud Abu Rayyah

Mahmud Abu Rayyah merupakan salah seorang penulis modern berkebangsaan Mesir yang banyak mengemukakan pandangannya mengenai ilmu Hadis. Diantara buku dan karya-karya ilmiah Abu Rayyah ialah:[8]
  1. Hadis Muhammad (artikel)
  2. ‘Adwa ala al-Sunnah al-Muhammadiyyah au Difa’a al-Hadis (أضواء على السنة المحمدية او ضفاع عن الحديث)
  3. Syekh al-Madi’rah; Abu Hurairah; (شيخ المضيرة: أبو هريرة)
  4. Al-Sayyid al-Badawy (السيد البدوي)
  5. Hayat al-Qurra’ (حياة القرى)
  6. Rasail al-Rafi’iy (رسائل الرافعي)
  7. Shoihah Jamaluddin al-Afghani (صيحة جمال الدين الأفغاني)
  8. Jamaluddin al-Afghani; Tarihihi wa Risalatihi
  9. Muhammad wa al-Masih Akhawani; Din Allah Wahid ala Alsanah al-Rusul (دين الله واحد علی ألسنة الرّسل ; محمد والمسیح أخَوان)
  10. Qishshah al-Hadist al-Muhammady (قصة الحديث المحمدي)
  11. Wa ma Laki’hi min Ashhabi al-Rasul (وما لقيه من أصحاب الرسول)
Pada 1945, ia pernah menulis sebuah artikel yang berjudul Hadis Muhammad yang memuat pemikirannya tentang hadis yang menyalahi kepercayaan para ulama Al-Azhar. Maka, terjadilah polemik dengan mereka, di antaranya dengan Abu Syahbah yang menyarankan agar ia meralat tulisannya. Akan tetapi, dengan keteguhan pendiriannya, Mahmud Abu Rayyah tidak mengindahkannya, bahkan menolaknya dengan artikel kedua yang tetap mempertahankan pendiriannya.[9]

Abu Rayyah terkenal karya kontroversialnya, yaitu Adwa’ ‘Ala al-Sunnah al-Muhammadiyyah yang mendapatkan banyak tanggapan dari para cendekiawan muslim. Pemikirannya yang terpengaruh oleh orientalis terlihat jelas dalam buku-bukunya tersebut. Di antara orientalis yang menjadi rujukan Abu Rayyah adalah Ignaz Goldziher, orientalis yang pertama kali melakukan kajian hadis dengan karya monumentalnya, Muhammadanische Studien.[10] Buku ‘Adwa ala al-Sunnah al-Muhammadiyyah ini insya Allah admin bahas pada postingan selanjutnya!

SEKIAN
Baca juga:
  • Sekelumit Diskusi Otentisitas Hadis Dulu Hingga Kini
  • 'Adwa ala al-Sunnah al-Muhammadiyah karya Kontroversi Abu Rayyah
  • Posisi Hadis menurut Abu Rayyah
  • Tadwin Hadis dalam Kacamata Abu Rayyah
  • 'Adalah al-Shabah dalam Pandangan Abu Rayyah
  • Kritikan Abu Rayyah terhadap Sahabat Abu Hurairah
ENDNOTE


[1] Murthadho al-Radwa’, Bersama Para Pembaharu di Mesir (T,t: T.p., 1232 H), Cet. I, dalam Wikipedia: https://ar.wikipedia.org/ /w/index.php?title=محمود_أبو_رية
[2] Mus’idul Millah, Mahmud Abu Rayyah (1887-1964) Penggerak Inkar Sunnah? Dalam Yang membela dan Yang Menggugat (Yogyakarta: CSS SUKA Press, 2012), h. 100.
[3] Sochimin, Telaah Pemikiran Hadis Mahmud Abu Rayyah dalam Buku ‘Adwa ala al-Sunnah al-Muhammadiyyah dalam Hunafa, Jurnal Studia Islamika, Vol. 9, No. 2, h. 273.
[4] Artikel “Min A’lami al-Fikri al-Hadis; Abu Rayyah, dalam http://www.adawaanews.net
[5] G.H.A. Juynboll, Kontroversi Hadis di Mesir (1890-1960), (Bandung: Mizan, 1999), h. 59.
[6] Salah satu redaksi Hadis tersebut ialah;
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لَا يَسْمَعَ التَّأْذِينَ فَإِذَا قَضَى النِّدَاءَ أَقْبَلَ حَتَّى إِذَا ثُوِّبَ بِالصَّلَاةِ أَدْبَرَ حَتَّى إِذَا قَضَى التَّثْوِيبَ أَقْبَلَ حَتَّى يَخْطِرَ بَيْنَ الْمَرْءِ وَنَفْسِهِ يَقُولُ اذْكُرْ كَذَا اذْكُرْ كَذَا لِمَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ حَتَّى يَظَلَّ الرَّجُلُ لَا يَدْرِي كَمْ صَلَّى.  (رواه البخاري)
Artinya: “dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika panggilan shalat (adzan) dikumandangkan maka setan akan lari sambil mengeluarkan kentut hingga ia tidak mendengar suara adzan. Apabila panggilan adzan telah selesai maka setan akan kembali. Dan bila iqamat dikumandangkan setan kembali berlari dan jika iqamat telah selesai dikumandangkan dia kembali lagi, lalu menyelinap masuk kepada hati seseorang seraya berkata, 'Ingatlah ini dan itu'. Dan terus saja dia melakukan godaan ini hingga seseorang tidak menyadari berapa rakaat yang sudah dia laksanakan dalam shalatnya.” (H.R. Imam Al-Bukhari)
[7] G.H.A. Juynboll, Kontroversi Hadis Di Mesir (1890-1960), terj. Ilyas Hasan (Bandung: Penerbit Mizan, 1999), h. 59-60; Lihat juga, Mus’idul Millah, Mahmud Abu Rayyah (1887-1964) Penggerak Inkar Sunnah? Dalam yang membela dan yang Menggugat (Yogyakarta: CSS SUKA Press, t.t), h. 101.
[8] Wikipedia: https://ar.wikipedia.org/ /w/index.php?title=محمود_أبو_رية
[9] Zaedmannan, Pemikiran Hadis Kontemporer Mahmud Abu Rayyah, Makalah, Dipostoing tanggal 24 Oktober 2013.
[10] Muh. Munib, Kodifikasi Hadis Perspektif Mahmud Abu Rayyah, Skripsi; Fakultas Ushuluddin Studi Agama dan Pemikiran Islam, 2012, h. 15.

SEKIAN

SQ Blog - Ilmu rijalul hadis membahas keadaan para perawi dari segi diterima tidaknya periwayatan mereka. Berikut hadis yang akan kita bahas:

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا حَاتِمُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ عَنِ الْجَعْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ سَمِعْتُ السَّائِبَ بْنَ يَزِيدَ يَقُولُ ذَهَبَتْ بِى خَالَتِى إِلَى النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ ابْنَ أُخْتِى وَجِعٌ فَمَسَحَ بِرَأْسِى وَدَعَا لِى بِالْبَرَكَةِ وَتَوَضَّأَ فَشَرِبْتُ مِنْ وَضُوئِهِ فَقُمْتُ خَلْفَ ظَهْرِهِ فَنَظَرْتُ إِلَى الْخَاتَمِ بَيْنَ كَتِفَيْهِ فَإِذَا هُوَ مِثْلُ زِرِّ الْحَجَلَةِ.[1]

Artinya: “Qutaibah menceritakan kami dari Hatim bin Ismail dari Ja’ad bin Abdirrahman berkata “Aku mendengar Sa’ib bin Yazid berkata : Bibiku membawaku kepada Nabi Saw, lalu ia berkata ‘Wahai Rasulullah, sesunggunya anak saudara perempuanku ini terkena penyakit di kakinya’. Maka Nabi Saw menyapu kepalaku kemudian mendoakan berkah bagiku kemudian Nabi berwudhu dan aku pun minum air wudhu Beliau. Kemudian aku berdiri di belakangnya dan aku pun melihat cap kenabian diantara dua pundaknya, sama seperti Zirrul Hajalah”.[2] (H.R. Tirmidzi)

Hadis di atas memuat beberapa hal penting dalam hubungannya dengan kehidupan kita sehari-hari. Di antaranya, cara nabi dalam mengobati orang yang sakit, tentang doa, hukum bekas air wudhu dan mengenai cap kenabian. Terkait hadis ini, fokus kami ialah untuk menganalisa para perawinya. Walaupun demikian, pada akhir pembahasan, kami juga mencantumkan beberapa penjelasan terkait hadis tersebut.

Syawahid dan Al-Mutabiat Hadis

Secara detail, hadis lain yang semakna dengan hadis di atas terdapat juga dalam beberapa kitab hadis, diantaranya:
  • Shahih al-Bukhari (صحيح البخاري)
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا حَاتِمٌ عَنْ الْجُعَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ سَمِعْتُ السَّائِبَ بْنَ يَزِيدَ قَالَ ذَهَبَتْ بِي خَالَتِي إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ ابْنَ أُخْتِي وَقَعَ فَمَسَحَ رَأْسِي وَدَعَا لِي بِالْبَرَكَةِ وَتَوَضَّأَ فَشَرِبْتُ مِنْ وَضُوئِهِ ثُمَّ قُمْتُ خَلْفَ ظَهْرِهِ فَنَظَرْتُ إِلَى خَاتِمٍ بَيْنَ كَتِفَيْهِ.[3]

Pada penelusuran kami, Imam Bukhari menyebutkan hadis di atas dalam empat tempat dalam kitab Shahihnya. Hadis yang kami cantumkan disini terdapat dalam pembahsan kitab Manakib (كِتَاب الْمَنَاقِبِ) dengan tanpa redaksi (مِثْل زِرّ الْحَجَلَةِ).

Adapun ketiga tempat lainnya terdapat dalam Pembahasan kitab Wudhu (الْوُضُوءِ), Kitab tentang Sakit (الْمَرْضَى) dan kitab do’a (الدَّعَوَاتِ) yang ketiganya disertai dengan redaksi (مِثْلُ زِرِّ الْحَجَلَةِ)
  • Shahih Muslim (صحيح مسلم)
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادٍ قَالَا حَدَّثَنَا حَاتِمٌ وَهُوَ ابْنُ إِسْمَعِيلَ عَنْ الْجَعْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ سَمِعْتُ السَّائِبَ بْنَ يَزِيدَ يَقُولُ ذَهَبَتْ بِي خَالَتِي إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ ابْنَ أُخْتِي وَجِعٌ فَمَسَحَ رَأْسِي وَدَعَا لِي بِالْبَرَكَةِ ثُمَّ تَوَضَّأَ فَشَرِبْتُ مِنْ وَضُوئِهِ ثُمَّ قُمْتُ خَلْفَ ظَهْرِهِ فَنَظَرْتُ إِلَى خَاتَمِهِ بَيْنَ كَتِفَيْهِ مِثْلَ زِرِّ الْحَجَلَةِ.[4]
  • Sunan al-Kubra al-Nasa’i (السنن الكبرى للنسائي) 
أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ قَالَ حَدَّثَنَا حَاتِمُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ عَنِ الْجُعَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ سَمِعْتُ السَّائِبَ بْنَ يَزِيدَ يَقُولُ ذَهَبَتْ بِي خَالَتِي إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ : يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ ابْنَ أُخْتِي وُجِعَ فَمَسَحَ رَأْسِي وَدَعَا لِي بِالْبَرَكَةِ ثُمَّ تَوَضَّأَ فَشَرِبْتُ مِنْ وَضُوئِهِ ثُمَّ قُمْتُ خَلْفَ ظَهْرِهِ فَنَظَرْتُ إِلَى خَاتَمِهِ بَيْنَ كَتِفَيْهِ مِثْلُ زِرِّ الْحَجَلَةِ.[5]
  • Mu’jam al-Kabir al-Thabrani (المعجم الكبير) 
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بن الْمُعَلَّى الدِّمَشْقِيُّ، حَدَّثَنَا هِشَامُ بن عَمَّارٍ، ح وَحَدَّثَنَا مُوسَى بن هَارُونَ، وَجَعْفَرُ بن مُحَمَّدٍ الْفِرْيَابِيُّ، قَالا: حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بن سَعِيدٍ، قَالا: حَدَّثَنَا حَاتِمُ بن إِسْمَاعِيلَ، عَنِ الْجُعَيْدِ بن عَبْدِ الرَّحْمَنِ، قَالَ: سَمِعْتُ السَّائِبَ بن يَزِيدَ، قَالَ: ذَهَبَتْ بِي خَالَتِي، إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ ابْنَ أُخْتِي وَجِعٌ، فَمَسَحَ رَأْسِي، وَدَعَا لِي بِالْبَرَكَةِ، ثُمَّ تَوَضَّأَ، فَشَرِبْتُ مِنْ وَضُوئِهِ، ثُمَّ قُمْتُ خَلْفَ ظَهْرِهِ، فَنَظَرْتُ إِلَى"خَاتَمِهِ بَيْنَ كَتِفَيْهِ مِثْلَ زِرِّ الْحَجَلَةِ".[6]

Perbandingan Redaksi Matan

Dari beberapa syawahid hadis di atas, berikut gambaran umum dari masing-masing redaksi matannya:
  • Sunan al-Tirmidzi (سنن الترمذي) 
السَّائِبَ بْنَ يَزِيدَ يَقُولُ ذَهَبَتْ بِى خَالَتِى إِلَى النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ ابْنَ أُخْتِى وَجِعٌ فَمَسَحَ بِرَأْسِى وَدَعَا لِى بِالْبَرَكَةِ وَتَوَضَّأَ فَشَرِبْتُ مِنْ وَضُوئِهِ فَقُمْتُ خَلْفَ ظَهْرِهِ فَنَظَرْتُ إِلَى الْخَاتَمِ بَيْنَ كَتِفَيْهِ فَإِذَا هُوَ مِثْلُ زِرِّ الْحَجَلَةِ. 
  • Shahih al-Bukhari (صحيح البخاري)
السَّائِبَ بْنَ يَزِيدَ قَالَ ذَهَبَتْ بِي خَالَتِي إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ ابْنَ أُخْتِي وَقَعَ فَمَسَحَ رَأْسِي وَدَعَا لِي بِالْبَرَكَةِ وَتَوَضَّأَ فَشَرِبْتُ مِنْ وَضُوئِهِ ثُمَّ قُمْتُ خَلْفَ ظَهْرِهِ فَنَظَرْتُ إِلَى خَاتِمٍ بَيْنَ كَتِفَيْهِ. 
  • Shahih Muslim (صحيح مسلم) 
السَّائِبَ بْنَ يَزِيدَ يَقُولُا ذَهَبَتْ بِي خَالَتِي إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ ابْنَ أُخْتِي وَجِعٌ فَمَسَحَ رَأْسِي وَدَعَا لِي بِالْبَرَكَةِ ثُمَّ تَوَضَّأَ فَشَرِبْتُ مِنْ وَضُوئِهِ ثُمَّ قُمْتُ خَلْفَ ظَهْرِهِ فَنَظَرْتُ إِلَى خَاتَمِهِ بَيْنَ كَتِفَيْهِ مِثْلَ زِرِّ الْحَجَلَةِ. 
  • Sunan al-Nasa’i al-Kubra (سنن النسائ الكبري) 
لاَ يَنْكِحُ الْمُحْرِمُ وَلاَ يُنْكَحُ السَّائِبَ بْنَ يَزِيدَ يَقُولُ ذَهَبَتْ بِي خَالَتِي إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ : يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ ابْنَ أُخْتِي وُجِعَ فَمَسَحَ رَأْسِي وَدَعَا لِي بِالْبَرَكَةِ ثُمَّ تَوَضَّأَ فَشَرِبْتُ مِنْ وَضُوئِهِ ثُمَّ قُمْتُ خَلْفَ ظَهْرِهِ فَنَظَرْتُ إِلَى خَاتَمِهِ بَيْنَ كَتِفَيْهِ مِثْل زِرِّ الْحَجَلَةِ. 
  • Mu’jam al-Kabir al-Thabrani (المعجم الكبير) 
السَّائِبَ بن يَزِيدَ، قَالَ: ذَهَبَتْ بِي خَالَتِي، إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ ابْنَ أُخْتِي وَجِعٌ، فَمَسَحَ رَأْسِي، وَدَعَا لِي بِالْبَرَكَةِ، ثُمَّ تَوَضَّأَ، فَشَرِبْتُ مِنْ وَضُوئِهِ، ثُمَّ قُمْتُ خَلْفَ ظَهْرِهِ، فَنَظَرْتُ إِلَى"خَاتَمِهِ بَيْنَ كَتِفَيْهِ مِثْلَ زِرِّ الْحَجَلَةِ". 

Melihat sekilas beberapa redaksi hadis di atas, tidak ada perbedaan signifikan antar satu riwayat dengan riwayat yang lain. Sisi perbedaan redaksi matannya sekedar perbedaan beberapa huruf yang tidak sampai merubah maknanya.

Adapun tumpuan perhatian terhadap matannya terletak pada kata (مِثْل زِرِّ الْحَجَلَةِ). Seperti dalam kitab Shahih Bukhari pada Kitab Manakib tidak mencantumkan kata tersebut, tetapi menampilaknnya dengan indikasi adanya penfsiran seperti berikut: 

قَالَ ابْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ الْحُجْلَةُ مِنْ حُجَلِ الْفَرَسِ الَّذِي بَيْنَ عَيْنَيْهِ قَالَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ حَمْزَةَ مِثْلَ زِرِّ الْحَجَلَةِ. 

Ibnu hajar mengomentari terkait hal di atas bahwa seakan-akan ada bagian yang hilang dari kalimat tersebut sebab cukup jauh kemungkinan bila gurunya (Muhammad bin Ubaidillah) hendak menafsirkan kata hajalah tanpa menyebutkan konteks kalimat sebelumnya terkait akan hal itu.

Seakan-akan dalam kalimatnya terdapat lafal (مِثْل زِرِّ الْحَجَلَةِ) dan kemudian beliau pun menafsirkan hajalah. Demikian pula tercantum dalam naskah al-Nasafi, yakni ditemukan lafal sisipan antar kalimat (بَيْنَ كَتِفَيْهِ) dan (قَالَ ابْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ).j[7]  

Biografi Singkat Perawi Hadis dan Jarh Ta'dilnya

Berdasarkan penelusuran hadis di atas, perawi hadis yang kami teliti sanadnya adalah hadis riwayat Imam Tirmidzi dengan komposisi sanad; Sa’ib bin Yazid, Ja’ad bin Abdirrahman, Hatim bin Ismail dan Qutaibah. Berikut sekilas tentang mereka berupa nama lengkap, tahun kelahiran dan wafat, guru-guru dan murid-murid mereka, pendapat ulama dan para mukharrij yang mengambil hadis dari mereka. Uraiannya sebagai berikut: 

a) Sa’ib bin Yazid (w. 86 H/91 H/96 H) 

Nama lengkapnya adalah (السائب بن يزيد بن سَعِيد بن ثمامة بن الأسود بن عَبد الله بن الحارث بن الولادة الكندي، ويُقال : الأسدي ، ويُقال الليثي ، ويُقال : الهذلي). Seorang sahabat yang dalam usia 7 tahun dibawa kedua orang tuanya melaksanakan haji Wada’ bersama Nabi Muhammad Saw. Mengenai tahun wafatnya terdapat ikhtilaf, Waqidy menyebutkan bahwa ia wafat tahun 91 H, pendapat lain berpendapat 86 H.[8]

Adapun menurut sebagian ulama menyebutkan Sa’ib bin Yazid wafat pada tahun 96 H dan inilah yang kami pilih. Alasan kami mengukuhkan pendapat ini (96 H) berdasarkan data-data sejarah serta hadis Nabi sebagai berikut: 

عَنِ الْجُعَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ رَأَيْتُ السَّائِبَ بْنَ يَزِيدَ ابْنَ أَرْبَعٍ وَتِسْعِينَ جَلْدًا مُعْتَدِلاً فَقَالَ : قَدْ عَلِمْتُ مَا مُتِّعْتُ بِهِ سَمْعِي وَبَصَرِي إِلاَّ بِدُعَاءِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِنَّ خَالَتِي ذَهَبَتْ بِي إِلَيْهِ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ ابْنَ أُخْتِي شَاكٍ فَادْعُ اللَّهَ قَالَ فَدَعَا لِي (رواه البخاري)[9]

Hadis lain menyebutkan: 

قال السائب بن يزيد : حج بي أبي مع النبي صلى الله عليه وسلم في حجة الوداع وأنا ابن سبع سنين.[10]

Dari keterangan hadis di atas, maka dapat diketahui bahwa Sa’ib bin Yazid hidup lebih dari 94 tahun berdasarkan keterangan Ja’ad bin Abdirrahman. Pada hadis kedua, diketahui bahwa Sa’ib bin Yazid ikut dalam haji Wada’ bersama Rasulullah yang terjadi pada tahun 10 H dan ketika itu ia berusia 7 tahun. Ibnu Hajar dalam Fath al-Ba’ri menyebutkan bahwa pada saat Nabi Saw meninggal dunia, Sa’ib bin Yazid berusia 8 tahun.

Ini menunjukkan bahwa Sa’ib bin Yazid lahir pada tahun 3 H. berdasarkan keterangan ini dan pernyataan dari Ja’ad bin Abdirrahman ketika melihatnya pada usia 94 tahun, ketika itu tahun 96 atau 97 H. Oleh karena itu, menurut kami wafatnya Sa’ib bin Yazid lebih tepat pada tahun 96 H. 

Ajaj Khatib menyebutkan bahwa Sa’ib bin Yazid termasuk Sahabat yang terakhir wafat di Madinah. Ibunya ialah Ulbah binti Syura’ih, saudara perempaun Makhramah bin Syuraih.[11] Mengingat posisinya sebagai sahabat, para ulama sepakat bahwa tidak perlu diragukan lagi kredibilitasnya.

Ulama telah sepakat bahwa seluruh sahabat adalah adil dan ini mendapat legitimasi dari banyak dalil, baik al-Quran maupun Hadis.[12] Adapun guru-guru dan murid Sa’ib bin Yazid dapat dilihat pada tabel berikut:[13]

NO GURU MURID
1 النبى صلى الله عليه وسلم الجعد بن عبدالرحمن
2 طلحة بن عبيد الله ابراهيم بن عبدالله بن قارظ
3 عائشة يحيى بن سعيد الانصاري

b) Ja’ad bin Abdirrahman (w. 114 H di Madinah) 

Nama lengkapnya (الجعد بن عبد الرحمن بن أوس ، و يقال ابن أويس الكندى ، و يقال التيمى المدنى ، و يقال الجعيد). Beliau termasuk Thabaqah ke-4 (من صغار التابعين) dan wafat pada tahun 114 H.[14] Berikut pendapat para ulama terhadap Ja’ad atau Ju’aid bin Abdirrahman:[15]

NO KRITIKUS JARH TA'DIL KETERANGAN
1 Yahya bin Main - ثقة -
2 Al-Nasa'i - ثقة -
3 Ibnu Hajar - ثقة -
4 Al-Zahabi - ثقة -

Berikut Guru-guru dan Murid-murid beliau:[16]

NO GURU MURID
1 السائب بن يزيد حاتم بن إسماعيل
2 عبد الرحمن بن ماعز إبراهيم بن سويد المدني
3 وعبد الملك بن مروان بن الحارث بن أَبي ذباب سُلَيْمان بن بلال

Berikut mukharij hadis yang meriwatkan hadis dari beliau: al-Bukhari; Muslim; Abu Daud; al-Tirmidzi; dan al-Nasa’i. 

c) Hatim bin Ismail (w. 186 H/187 H) 

Nama lengkapnya (حاتم بن إسماعيل المدني ، أبو إسماعيل مولى بني عبدالمدان من بني الحارث بن كعب). Beliau termasuk Thabaqah ke-8 (من الوسطى من أتباع التابعين) dan wafat tahun 186 H/ 187 H di Madinah.[17] Berikut pendapat para ulama terhadap Hatim bin Ismail:

NO KRITIKUS JARH TA'DIL KETERANGAN
1 Yahya bin Main - صدوق يهم صحيح الكتاب -
2 Al-Zahabi - ثقة -
3 Muhammad bi Said - وكان ثقة مأمونا كثير الحديث -
4 Al-Nasa'i - ليس به بأس -

Berikut Guru-guru dan Murid-murid beliau:[18]

NO GURU MURID
1 الجعيد بن عبد الرحمن قتيبة بن سعيد
2 بشر بن رافع عمرو بن محمد الناقد
3 أنيس بن أَبي يحيى الأَسلميّ عمران بن يزيد بن أبى جميل الدمشقى

Nubaih bin Wahab merupakan rawi jama’ah dari Imam hadis yang enam. 

d) Qutaibah bin Said (w. 240 H) 

Nama lengkapnya adalah Qutaibah bin Said Jamil bin Tharif al-Sakafy. Ia juga memiliki nama lakab “Abu Raja’ al-Balhy al-Baglany” dan namanya juga biasa dipanggil “Yahya”. Beliau termasuk dalam tabaqah ke-10 (كبارالآخذين عن تبع الأتباع) yang lahir pada tahun 150 H dan wafat pada tahun 240 H.

Berikut pendapat para ulama terhadap Qutaibah bin Said:

NO KRITIKUS JARH TA'DIL KETERANGAN
1 Ibnu Hajar - ثقة ثبت -
2 Al-Zahabi - - لم يذكرها
3 Yahya bin Main - ثقة -
4 Ibnu Harasy - صدوق -

Adapun guru-gurunya dan murid-muridnya sebagai berikut:[19]

NO GURU MURID
1 وحاتم بن إسماعيل المدني الترمذى
2 جرير بن عبدالحميد الضبي البخارى
3 وجعفر بن سُلَيْمان إبراهيم بن إسحاق الحربى

Berikut mukharij hadis yang meriwatkan hadis dari beliau: Bukhari; Muslim; Abu Daud; Tirmidzi; Nasa’i dan Ibnu majah.[20] 

e) Al-Tirmidzi (w. 279 H) 

Nama lengkapnya adalah Imam al-Hafidz Abu Isa Muhammad bin Isa bin Surah bin Musa bin ad-Dahhak As-Sulami at-Tirmidzi, salah seorang ahli hadits kenamaan dan pengarang berbagai kitab yang masyur. Beliau tergolong dalam thabaqah ke-12 (صغارالآخذين عن تبع الأتباع) yang lahir pada tahun 210 H di kota Tirmiz, Iran.[21]

Abu ‘Isa al-Tirmidzi diakui oleh para ulama keahliannya dalam hadits, kesalehan dan ketakwaannya. Ia terkenal sebagai seorang yang dapat dipercaya dan tidak diragukan lagi akan kredibilitasnya. 

Skema Sanad

Berdasarkan hasil penelusuran di atas dapat dibuat skema sanadnya sebagai berikut:

Analisa Ketersambungan Sanad

Ketersambungan sanad hadis di atas, dapat dillihat dengan beberapa pendekatan dibawah ini: 

a) Pendekatan Redaksi Periwayatan

Hadis yang kami teliti ialah hadis riwayat al-Tirmidzi yang dapat diamati redaksi periwayatannya pada haikal di atas dan dapat digambarkan seperti berikut:

صيغ الآداء والتحمل
راوي رقم
البيان (الحكم) طريقة التحمل صيع الآداء
متصل Menyaksikan Langsung السَّائِبَ بْنَ يَزِيدَ ١
متصل   السماع سَمِعْتُ الْجَعْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ ٢
متصل   السماع عَنِ حَاتِمُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ ٣
متصل   السماع حدثنا قُتَيْبَةُ ٤
متصل   السماع حدثنا الترمذي ٥

b) Pendekatan Tahun

Tahun Lahir/Wafat
راوي رقم
Ket. Wafat Lahir
- 96 H 3 H السَّائِبَ بْنَ يَزِيدَ ١
-   114 H -
الْجَعْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ ٢
-   186/187 H - حَاتِمُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ ٣
-   240 H 150 H قُتَيْبَةُ ٤
-   210 H 279 H الترمذي ٥

c) Pendekatan Hubungan Guru dan murid 

Pada pendekatan ini, kami tidak merincinya sebab telah kami sebutkan di atas. Dari data menunjukkan bahwa semua perawi ada hubungan akademis antara satu rawi dan rawi lainnya dalam kedudukan sebagai guru dan murid.

Kami hanya menyebutkan tiga pendekatan di atas dalam menganalisa ketersambungan sanad hadis ini. Kesimpulannya berdasarkan keterangan di atas bahwa hadis ini muttashil.

Kesimpulan Kuantitas dan Kualitas Sanad

Menganalisa berbagai rawi yang telah diuraikan di atas, semuanya memenuhi standar seorang rawi dan dapat diterima hadisnya. Adapun keterangan dalam hadis di atas mengenai fakta sejarah yang menunjukkan bahwa Yazid ketika itu masih kecil, maka menurut kami ini tidaklah menjadi penghalang keotentikan hadis di atas.

Mayoritas ahli ilmu cenderung memperbolehkan kegiatan mendengar yang dilakukan oleh anak kecil, yakni anak yang belum mencapai usia taklif. Namun, ada juga sebagian ulama yang tidak memperbolehkannya. Adapun menurut kami, dalam hal tahammul maka hal tersebut tidak menjadi masalah, adapun dalam hal ada’ maka harus memenuhi beberapa syarat, yaitu Islam, syarat baligh (dibawah usia taklif tidak diterima), adil dan dhabt. Adapun ketika menerima, cukup bagi seseorang hanya dengan memiliki sifat tamyis.[22]

Pertimbangan lain bahwa dalam bidang hadis, para sahabat dan tabi’in memiliki semangat ilmiah yang sangat tinggi dalam menyeleksi hadis-hadis yang pernah disampaikan oleh Rasulullah. Sejarah mencatat banyak informasi keteguhan para penuntut hadis dengan semangat yang tiada taranya karena motivasi internal dan kecenderungan pribadinya. Ketika itu juga, setiap sahabat yang menyampaikan suatu berita diminta kesaksiannya demi mengetahui bahwa itu benar-benar bersumber dari Rasulullah.

Dalam hubungan ini dengan periwayatan Sa’ib bin Yazid, maka mustahil ia melakukan suatu kebohongan dalam meriwayatkan hadis pada kondisi lingkungan ketika itu. Pada sisi lain, semua sahabat adalah adil dan tidak mungkin melakukan sesuatu yang dapat menodai keislaman mereka.

Hukum Sanad Hadis

Kesimpulan akhir yang dapat dipetik terkait sanad hadis ini ialah sanadnya shahih. Riwayat Sa’ib bin Yazid di atas walaupun ketika itu masih kecil tidak menjadi penghalang dalam periwayatannya.

Pada kasus lain, banyak sahabat, tabi’in dan ahli ilmu yang menerima riwayat sahabat yang masih berusia anak-anak, seperti Hasan, Husain, Abdullah bin al-Zubair, Anas bin Malik, Abdullah bin Abbas, Abu Said al-Khudry, Mahmud bin Rabi’ dan lain-lain tanpa memilah riwayat yang mereka terima sebelum dan sesudah baligh.[23]

Fiqhul Hadis

Setelah menguraikan secara rinci dari uraian sanad di atas, berikut ulasan mengenai matan hadis ini. Ada beberapa informasi penting yang terkandung dalam hadis ini, yaitu: 
  • Kata (وقع) sama dengan kata (وَجِعٌ), baik dari segi pola kata maupun maknanya yang menunjukkan arti menderita sakit pada kaki;
  • Hadis di atas merupakan bantahan terhadap pendapat yang mengatakan najisnya air musta’mal, yaitu pendapat Abu Yusuf. Air najis tidak dapat dipakai untuk mendapatkan berkah, sementara hadis di atas memberitakan bahwa Nabi Saw menyemprotkan air dari mulutnya ke muka Sa’ib bin Yazid. Ibnu Mundzir berkata, “dalam ijma’ ulama disebutkan bahwa bekas air yang tersisa di anggota badan serta tetesan-tetesan air yang jatuh dan mengenai pakiannya, maka hukumnya adalah suci”.[24] Perkataan Ibnu Mundzir ini menjadi dalil sangat kuat tentang sucinya air musta’mal, hanya saja tidak mengsucikan;
  • Kata (فمَسَحَ بِرَأْسِى وَدَعَا لِى بِالْبَرَكَةِ وَتَوَضَّأَ فَشَرِبْتُ مِنْ وَضُوئِهِ) menunjukkan salah satu cara pengobatan yang ditempu oleh Rasulullah, yaitu dengan mengusapkan tangannya pada bagian badan yang sakit ataupun pada tempat lainnya tergantung hubungan kerja saraf pada organ tubuh. Syarif Rahmat dalam buletin Qum menyebutkan bahwa pengobatan seperti ini tak ubahnya seperti mengoleskan balsem atau minyak angin.[25]
Adapun maksud bahwa cap Kenabian itu (مِثْل زِرِّ الْحَجَلَةِ) terdiri dari beberapa pendapat: 
  • Al-Tirmidzi menegaskan bahwa yang dimaksud (الْحَجَلَةِ) adalah sejenis burung terkenal dan yang dimaksud dengan (زِرِّ) adalah telurnya. Pendapat ini diperkuat oleh riwayat bahwa cap kenabian sama seperti telur merpati; 
  • Menurut al-Zuhaili, bahwa maksud kata (الْحَجَلَةِ) di tempat ini adalah tirai yang digantung di tempat tidur lalu dihiasi untuk penagntin. Maka kata (زِرِّ) dipahami dalam makna yang sebenarnya (kancing); 
  • Sebagian yang lain menggunakan kata (الْحَجَلَةِ) dengan arti bulu putih di wajah kuda dalam konteks majas. Ini seakan-akan yang dimaksud adalah ukuran besar kancing karena warna putih di muka kuda tidak ada sangkut pautnya dengan dengan kancing. 
Terkait hal ini, kami lebih cenderung memilih pendapat yang menyebutkan seperti telur burung puyuh karena hadis lain menayatakan seperti telur merpati. 

DAFTAR PUSTAKA
  • Al-Baqwi, Syarh al-Sunnah, Beirut: Maktabah al-Islamy, 1403 H/1983 M
  • Al-Mizzi, Tahzib al-Kamal, Beirut: Muassasah al-Risalah, 1418 H/1998 M 
  • Al-Zahabi, Sirah I’alamu an-Nubla’i, Muassasah ar-Risalah, 1405 H / 1985 M, Cet. III 
  • Al-Asqalany, Ibnu Hajar, Fath al-Ba’ri, Jakarta: Pustaka Azzam, 2006, cet. I 
  • Al-Asqalany, Ibnu Hajar, Tahzib al-Tahzib, Beirut: Darr al-Ihya al-Araby al-Turats, 1413 H/1993 M 
  • Al-Suyuty, Thabaqah al-Huffash. (Beirut : Darr al-Kitab al-Ilmiyah, 1414 H / 1994 M), Cet. I
  • Al-Bukhari, Shahih Bukhari, Riyadh: Maktabah al-Nahdah, 1404 H 
  • Al-Khatib, M. Ajaj, Ushul al-Hadis; Penerjemah, H.M. Nur Ahmad. M. Jakarta: Gaya Media Pratama, 2007 
  • Muslim, Shahih Muslim, Kairo: Darr al-Hadis, tt, cet. I 
  • Al-Nasa’I, Sunan al-Kubra an-Nasa’i. Beirut : Dar al-Kitab al-Ilmiyah, 1411 H / 1991 M 
  • Rahmat, Syarif, Qum “Argumen dan Eksprimen”, No.600 tgl 30 Muharram 1433 H/14 Desember 2012 
  • Al-Thabrani, Mu’jam al-Kabir, Muassasah al-Arabiyah al-Alamiyah, tt 
  • Al-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi. Beirut : Dar al-Kitab al-Ilmiyah, 1424 H / 2003 M), Cet I
ENDNOTE

[1] Al-Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi (Beirut: Darr al-Kitab al-Ilmiyah, 1424 H/2003 M), cet. I, Bab Kitab al-Manakib hal. 832
[2] Dalam konteks hadis ini, Zirrul Hajalah ialah seperti telur burung puyuh, pendapat lain mengatakan seperti kancing pada tirai yang dihiasi pada acara pengantin.
[3] Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari (Riyadh: Maktabah al-Nahdah, 1404 H), Juz 12, Bab Kitab al-Manaqib, hal. 284
[4] Muslim, Shahih Muslim (Kairo: Darr al-Hadis), cet. I, juz. 4, Bab Kitab al-Fadhail, hal. 129
[5] Al-Nasa’i, Sunan al-Nasa’i (Beirut:Darr al-Kitab al-Ilmiyah, 1441 H/1991 M), cet I. Juz IV, Bab Kitab al-Tibb, hal. 361
[6] Al-Thabrani, al-Mu’jam al-Kabir (Muassasah al-Arabiyah al-Alamiyah, tt), Juz VI, hal. 287
[7] Ibnu Hajar, Fath al-Ba’ri (Jakarta: Pustaka Azzam, 2006), Buku 18, cet. I, hal. 118
[8] Al-Mizzi, Tahzib al-Kamal (Beirut: Muassasah al-Risalah, 1418 H/1998 M), Jilid 3, hal. 105
[9] Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari (Riyadh: Maktabah al-Nahdah, 1404 H), Juz 12, Bab Kitab al-Manaqib, hal. 282
[10] Al-Baqwi, Syarh al-Sunnah (Beirut: Maktabah al-Islamy, 1403 H/1983 M), juz. 7, hal. 22
[11] Ibnu Hajar, Fath al-Ba’ri (Jakarta: Pustaka Azzam, 2006), cet. I, hal. 118
[12] M. Ajaj al-Khatib, Ushul al-Hadis; Penerjemah, H.M. Nur Ahmad M (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2007), hal. 390
[13] Ibnu Hajar, Tahzib al-Tahzib (Beirut: Darr al-Ihya al-Araby al-Turats, 1413 H/1993 M), juz. 2, hal. 263
[14] Al-Mizzi, Tahzib al-Kamal (Beirut: Muassasah al-Risalah, 1418 H/1998 M), Jilid 1, hal. 452
[15] Ibid, hal. 452
[16] Ibid, hal. 452
[17] Ibnu Hajar, Tahzib al-Tahzib (Beirut: Darr al-Ihya al-Araby al-Turats, 1413 H), juz. 2, hal. 110
[18] Al-Mizzi, Tahzib al-Kamal (Beirut: Muassasah al-Risalah, 1418 H/1998 M), Jilid 2, hal. 6
[19] Al-Mizzi, Tahzib al-Kamal, Jilid 6, hal. 106
[20] Al-Zahabi, Sirah I’alamu an-Nubla’I (______ : Muassasah ar-Risalah, 1405 H / 1985 M), Cet. III, Juz 111, Hal. 15-17 
[21] Adz-Zahabi, Sirah I’alamu an-Nubla’i (______ : Muassasah ar-Risalah, 1405 H / 1985 M), Cet. III, Juz 11, Hal. 152-153
[22] M. Ajaj al-Khatib, Ushul al-Hadis; Penerjemah, H.M. Nur Ahmad M (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2007), hal. 201-202
[23] Ibid, hal. 201
[24] Ibnu Hajar, Fath al-Ba’ri (Jakarta: Pustaka Azzam, 2006), Buku 2, cet. I, hal. 201-202
[25] Syarif Rahmat, Qum (No.600 tgl 30 Muharram 1433 H/14 Desember 2012), hal. 3

Download Edisi PDF-nya Disini
Ditulis Oleh: Hasrul

SQ Blog

{picture#https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEimSap9ccYY8FQp44yNvjVK6lRtOVpD-gpVKKWSk__oyc8ChkbooHIuh52uDXiZGchcOoPlIazgMEjOjQ5r0b-DftM48h8gDub2yWyKzDdH1VSYDrsmbf1qfYgl5hKaEuiAW8WAQeTmErDqcHjIm3C4GJKWRJv52o5uHAW10S2gOWj4o8nMsdahVxSo/s500/sq%20vlog%20official%20logo%20png%20full.png} SQ Blog - Wahana Ilmu dan Amal {facebook#https://web.facebook.com/quranhadisblog} {youtube#https://www.youtube.com/user/Zulhas1}

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.