Articles by "Quran-Sains"

Tampilkan postingan dengan label Quran-Sains. Tampilkan semua postingan

SQ BlogKemukjizatan Al-Quran merupakan objek kajian yang luas yang senantiasa dikaji dari zaman dahulu hingga sekarang. Salah satu sisi kemukjizatan Al-Quran yang banyak dibicarakan bahkan menjadi dikursus pada saat ini adalah mukjizat ilmiah dalam ayat-ayat Al-Quran. Banyak buku yang membahas tentangnya serta menjadi topik hangat dalam berbagai diskusi dan muktamar.

Pada sisi lain, ayat-ayat Al-Quran sendiri sangat menggalakkan manusia memperhatikan bahkan meneliti alam dan menemukan ayat-ayat Allah yang mengatur fenomena alam. Ibnu Rusyd, seorang sarjana muslim pernah mengatakan bahwa alam raya ini adalah kitab Allah yang pertama sebelum kitab-kitab Allah lain yang berbentuk kumpulan wahyu-Nya. Gejala alam telah berbicara kepada mereka yang mau mengerti akan ayat-ayat-Nya yang telah dipatuhi Alam itu (M. Imaduddin Abdulrahim, 1997: 96). Hal ini tersirat dalam ayat AL-Quran sebagai berikut:

 أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا.


“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya” (QS. An-Nisa’ [4]: 82).

Metodologi Quraniyyah

Aproksimasi sains yang menerima kontak rujukan agama dalam pandangan Al-Quran dapat bergerak menurut waktu yang akan menghasilkan kualitas yang lebih baik. Diatas kondisi dasar ini, penelitian dalam persepsi Al-Quran perlu dikembangkan lagi dengan analisis beberapa metodologi (Ika Rochdjatun, 1997: 55-58), yaitu:
  1. Metodologi Historis, Sangat banyak pernyaatan dalam Al-Quran yang mengajak kita meliahat peristiwa-peristiwa penting yang telah berlalu untuk dijadikan ibarah. Seperti kisah kehancuran bani ‘Ad, Tsamud, Firaun, Luth dan kaum-kaum yang lainnya (QS. Muhammad [47]: 10).
  2. Metodologi Komparatif, Metode ini sangat lazim dalam pernyataan ayat-ayat Al-Quran sebagaimana dinyatakan dalam surah Ar-Rad [13]: 4. Ayat diatas memberikan keterangan bahwa kurma dari Madinah berbeda dari kurma Jazirah Arab.
  3. Metode Peramalan, Metode ini merupakan cara untuk mengungkapkan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Salah satu contoh peramalan yang terbukti benar dalam Al-Quran mengenai kekalahan dan kemenangan perang antara Romawi dan Persia sebagaimana diterangkan dalam surat Ar-Rum ayat 2 sampai 4.
  4. Metode Observasi, Paradigma Al-Quran mengenai metode observasi lebih sering dihubungkan dengan metode pendidikan dan pengajan. Pendidikan Luqman atas anak-anaknya merupakan contoh klasik yang sangat menarik dalam kasusu ini (QS. Lukamn [31]: 12-19).
  5. Metode Pemicu, metode ini dikembangkan melalui kesamaan terobosan pada satu sistem yang belum sesuai agama dan efektivitasnya sudah terbukti oleh konsep Al-Quran.
  6. Metode Klinis, Metode Klinis berhubungan dengan perhatian individu atau kelompok yang sangat intensif mengenai permasalahan yang terjadi dalam masnyarakat. Dengan kesadaran penuh, Rasulullah memberikan perhatian khusus terhadap status individu atau kelompok sehingga muncul perasaan persaudaraan muslim (QS. Al-Fath [48]: 29).
  7. Metode Prilaku, cara ini sangat mencolok dalam islam terutama dalam mengungkapakan kesadaran diri individual atau kelompok sehingga nampak perbedaan anatara mukmin, munafik, kafir dan fasik.
  8. Metode Empiris/Induksi, metode ini sudah dikenal luas di dunia ilmu pengetahuan modern terutama dalam mengungkapkan dunia benda-benda mati. Sedangkan, untuk benda benda hidup tabir ini disingkapkan untuk mengungkapkan rahasia DNA/RNA. Banyak obyek ilmu pengetahuan dirangsang untuk diselidiki dengan metode ini. Diantaranya teori Hibernisasi atau tidur panjang yang ditemukan dalam kisah Ashabul Kahfi (QS. Al-Kahfi [18]: 10-25).
Metodologi Akal Ilmiah dalam Al-Quran

Perkembangan peradaban barat sudah lazim membuat perbedaan tajam antara akal dan wahyu. Untuk memahami peran sains dalam tradisi keagamaan perlu dipahami bahwa akal dan wahyu bersifat harmonis dan saling melengkapi bukan antagonistik. Hal ini dalam tradisi islam atas perspektif Al-Quran dapat dibuktikan kesesuainya dan keharmonisan antara keduanya (William C. Chittick, 2006:146). Bagi yang membaca Al-Quran dengan seksama akan menemukan proses Al-Quran membangun akal ilmiah sebagai landasan sains. Proses tersebut terdiri dari pilar-pilar sebagai berikut (Yusuf Qardawi, 1998: 278-287), yaitu:
  1. Menolak keragu-raguan dalam perkara yang pasti,
  2. Tidak mengikuti hawa nafsu dan emosi dalam lapangan ilmu pengetahuan,
  3. Menolak taklid buta kepada bapak-bapak dan nenek moyang,
  4. Penolakan untuk tunduk terhadap tuan-tuan dan pembesar-pembesar,
  5. Memerintahkan merenungkan ayat-ayat kauniyah dan melarang beribadah dengan dimensi akal.
Teori Ilmiah dalam Al-Quran

Pengetahuan Al-Quran disajikan dalam bentuk yang berbeda dari buku-buku teks fisika, kimia, biologi yang berbasiskan metodologi ilmiah. Al-Quran mengikuti garis lurus dalam menyampaikan informasi sementara pengetahuan yang disampaikan sains diperoleh setelah akumulasi data yang sangat lama.

Sumber Al-Quran adalah sang pencipta alam semesta. Ini berarti Al-Quran akan menjadi suatu objek penelitian yang menarik untuk mengungkapkan lebih jauh rahasia alam semesta sehingga setiap penyataan Al-Quran dapat dikembangkan dan menjadi berbagai ilmu baru (Ika Rochdjatun, 1997: 62).


Oleh: Hasrul

[right-post]
SQ Blog - Beberapa ayat Al-Quran mengarahkan perhatian kita pada fungsi geologis penting dari Gunung. Salah satunya termaktub dalam ayat berikut:

وَجَعَلْنَا فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِهِمْ وَجَعَلْنَا فِيهَا فِجَاجًا سُبُلًا لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُونَ.

"Dan Telah kami jadikan di bumi Ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka, dan telah kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk”. (Q.S. al-Anbiya’ [21] : 31)

Sebagaimana kita lihat, dinyatakan dalam ayat tersebut. Gunung-gunung berfungsi menahan berbagai gonjangan di bumi. Kenyataan ini tidaklah diketahui oleh siapapun dimasa ketika al-Quran diturunkan. Nyatanya, hal ini baru saja terungkap sebagai hasil dalam penemuan geologi modern. 

Menurut penemuan ini, gunung-gunung muncul sebagai hasil pergerakan dan tumbukan dari lempengan-lempengan raksasa yang membentuk kerak bumi. Ketika dua lempengan bertumbukan, lempengan yang lebih kuat  menyelinap di bawah lempengan yang satunya. Sementara yang diatas melipat dan membentuk dataran tinggi dan gunung. Lapisan bawah bergerak dibawah permukaan dan membentuk perpanjangan yang dalam ke bawah.

Ini berarti, gunung memiliki bagian yang menghujam ke bawah yang tak kalah besarnya dengan yang tampak di permukaan bumi. (Harun Yahya, Keajaiban al-Quran) Dalam tulisan ilmiah, struktur gunung digambarkan sebagai berikut:

“Pada bagian benua yang lebih tebal seperti pada jajaran pegunungan, kerak bumi akan terbenam lebih dalam ke dalam lapisan Magma”. (Carilyn Soiits,Robert Gardner,Samueel F. Hower, Allyn and Bacon. General Science, 1985 : 10)

Dalam sebuah ayat, gunung-gunung diungkapkan sebagai sebuah pasak.

 أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَادًا. وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا.

“Bukankah kami Telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? Dan gunung-gunung sebagai pasak?” (Q.S. al-Naba’ [78] : 5-6)

Dengan kata lain, gunung-gunung menggengam lempengan kerak bumi dengan memanjang keatas dan ke permukaan bumi pada titik-titik pertemuan lempengan ini. Dengan cara ini, mereka memancangkan kerak bumi dan mencegahnya dari terombang-ambing di atas permukaan magma atau diantara lempengan-lempengannya.

Singkatnya, kita dapat menyamakan gunung dengan paku yang menjadikan lembaran-lembaran kayu tetap menyatu. Fungsi pemancangan dari gunung dijelaskan dalam tulisan ilmiah dengan istilah isostasi. Isostasi bermakna sebagai berikut : 

“Isostasi  adalah  kesetimbangan  dalam  gerak bumi  yang  terjaga oleh aliran materi bebatuan dibawah permukaaan akibat gerakan Gravitasi”.

Peran penting gunung yang ditemukan oleh Ilmuwan geologi Modern dan penelitian gempa telah dinyatakan dalam al-Quran berabad-abad lampau sebagai suatu bukti maha agung dalam penciptaan Allah. Jadi, Fungsi utama gunung ialah menjaga keseimbangan bumi agar tidak tergoncang bersamaan dengan berbagai gerak yang terjadi dalam inti bumi.

Oleh: Hasrul

SQ Blog - Gaya gravitasi dalam Al-Quran. Allah SWT berfirman dalam surat al-Takwir ayat 15-16 berkenaan hal ini:

فَلَا أُقْسِمُ بِالْخُنَّسِ. الْجَوَارِ الْكُنَّسِ.

“Sungguh, Aku bersumpah dengan bintang-bintang. Yang beredar dan terbenam”. (Q.S. At Takwir: 15-16)

Untuk mendapatkan wawasan lebih jernih tentang ayat di atas, pertama-tama mari kita lihat dari arti penting kata-kata yang digunakan dalam bahasa arab. Kata arab  الكنّس  bermakna yang surut. Kata ini memiliki konotasi menciut, tenggelam, dan kemunduran. (Caner Taslaman, Miracle of Quran, : 69)

Adapun tafsir dari kata  الجوار الكنش ialah tampak diwaktu malam kemudian tersembunyi di tempat terbenamnya di bawah ufuk. (Hasanain Muhammad Makhluf, Kamus al-Quran: 81) Ayat ini menyampaikan salah satu hukum ilmiah yaitu relativitas gerak dalam kehidupan sehari-hari yang kita kenal sebagai Gerak Gravitasi.

Maka dapat dikatakan, temuan para ilmuan bukanlah penemuan sesuatu yang tak ada sebelumnya tetapi hanya menjelaskan hal-hal yang sebenarnya sudah dikabarkan dalam al-Quran. Sejak peciptaan alam semesta, gaya gravitasi telah ada bersamaan dengan keberadaaan alam semesta ini.

Ilmuwan Isaac Newton (1642-1727) menjelaskan dengan rumus matematika, bahwa ciptaan Allah dilandaskan pada hukum gravitasi. Rahasia dalam penciptaan ini bahwa keberadaan gaya gravitasilah yang mengatur keseimbangan benda-benda langit.

Bahkan  postur tegak manusia  bukanlah perkembangan acak melainkan  terkait dengan gaya gravitasi yang melekat pada materi. (Caner Taslaman, Miracle of al-Quran, 2010 : 70)

Oleh: Hasrul

SQ Blog - Pada 9 Maret 2016, sebagian besar Pasifik, meliputi Indonesia, Malaysia, dan negara-negara lainnya di Asia Tenggara dan benua Australia akan dapat menyaksikan gerhana matahari. Indonesia merupakan negara satu-satunya yang dapat menikmati Gerhana Matahari Total. Gerhana matahari total dianggap sebagai salah satu fenomena alam paling mengesankan yang terjadi di Bumi. (Wikipedia)

Tabel Perkiraan Gerhana Matahari 2016

Terkait di Indonesia, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan gerhana matahari total akan melewati dua Provinsi, yaitu Palu, Poso, Luwuk (Sulawesi Tengah), Sulawesi Barat. Gerhana matahari total akan melewati Palu selama 2 menit 4 detik dan Luwuk selama 2 menit 50 detik. (Kompas)

10 provinsi lainnya selain Sulawesi yang akan mengalami gerhana matahari total ialah; Bengkulu, Palembang, Jambi, Bangka Belitung, Palangkaraya, Sampit (Kalimantan Tengah), Balikpapan (Kalimantan Timur), Kalimantan Barat, Ternate dan Halmahera (Maluku Utara). Bagi Anda di luar wilayah tersebut dapat menikmati gerhana Matahari meski tidak total yaitu Medan (77,6%), Denpasar (76.44%), Makassar (88,54%), Jayapura (73.79%). Sementara untuk Anda di Jakarta dan pulau Jawa akan menyaksikan gerhana matahari sekitar 50-60 persen. [BBF.COM]

Dikutip dari tulisan Joe Minihane, "Gerhana matahari pada tanggal 9 Maret adalah alasan terbaik untuk mengunjungi Indonesia. Joe menyebutkan selain memiliki keanekaragaman hayati dan pantai-pantai yang indah, Sulawesi adalah tempat yang cocok untuk melihat fenomena-fenomena di langit secara amatir." (Kompas)

Memang tidak dipungkiri bahwa fenomena Gerhana adalah hal yang sangat dinantikan bagi setiap orang. Rasa ingin tahu dan penasaran untuk dapat menyaksikannya secara langsung tentu menjadi pengalaman tersendiri yang berkesan. Hal ini tentu wajar-wajar saja diharapkan bagi siapa saja. Tetapi, tentu moment gerhana ini akan lebih bermanfaat jika tidak melewatkannya begitu saja tanpa mengambil pelajaran di dalamnya. Bukan sekedar berfoto-foto, menunggu dan menghabiskan waktu hanya untuk melihatnya. Apalagi sampai merayakannya dengan berfoya-foya.

SQ Blog, merangkum beberapa hal yang dapat kita ambil hikmahnya menjelang dan sampai terjadinya gerhana:
1. Fenomena gerhana menunjukkan bahwa di antara makhluk Allah senantiasa tunduk dan sujud kepada-Nya
Matahari dan bulan adalah makhluk (ciptaan) Allah SWT, sampai detik ini keduanya senantiasa tunduk dan sujud atas perintah Allah untuk bergerak pada porosnya dan berkeliling pada garis edarnya. Dalam Al Quran ada 10 ayat lebih yang menerangkan tentang matahari dan bulan (QS. 13:2, QS.  14:33,  QS. 16:12,  QS. 21:33,  QS. 29:61, QS. 31:29 dst.). Salah di antara ayat yang menunjukan bahwa semua makhluk tunnduk kepada Allah ialah dalam surah al-Hajj ayat 18:

 أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُ وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ

Apakah kamu tidak mengetahui bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, dan juga matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. dan Barangsiapa yang dihinakan Allah Maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Hajj [22]:18)

Selaku manusia yang taat kepada Allah, ketika melihat makhluk lain bersujud kepada-Nya, Apakah kita akan menentang untuk tidak bersujud ketika mendengar berita atau mengalami terjadinya gerhana? Tentu tidak, manusia yang taat akan ikut bersujud ketika ditampakkan tanda-tanda kekuasaan Allah atas ciptaan-Nya yang bersujud kepada-Nya. Kejadian ini seraya memberikan pelajaran bagi manusia untuk senantiasa taat dan bersyukur kepada Allah. Semua yang ada di alam semesta adalah ciptaannya, karenannya sudah sepatutnya manusia tidak menjadikan matahari atau bulan sebagai sembahan atau penolong, tetapi sembahlah pencipta-Nya, yaitu Allah SWT.
2. Fenomena gerhana menunjukkan bahwa segala yang ada merupakan ciptaan dan kelak akan hancur
Gerhana matahari terjadi ketika posisi bulan terletak di antara bumi dan matahari sehingga menutup sebagian atau seluruh cahaya Matahari. Walaupun bulan lebih kecil, bayangan Bulan mampu melindungi cahaya matahari sepenuhnya karena bulan yang berjarak rata-rata 384.400 km dari Bumi lebih dekat dibandingkan matahari yang mempunyai jarak rata-rata 149.680.000 km. Adapun gerhana bulan terjadi bila bumi berada di antara matahari dan bulan pada satu garis lurus yang sama, sehingga sinar matahari tidak dapat mencapai bulan karena terhalangi oleh bumi.

Fenomena gerhana yang melibatkan matahari, bulan dan bumi berada di bawah kekuasaan Allah SWT sebagai pengatur sekaligus penciptanya. Maka sudah sepatutnya manusia hanya menyembah kepada-Nya.

 وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak sembah.” (QS. Al Fushilat 41:37)

Kita harus menyadari bahwa gerhana adalah bentuk miniatur dari berbenturannya atau terhalangnya cahaya matahari terhadap bulan dan bumi, Nah sekarang bagai-mana kalau benturannya bukan bayangan saja, tetapi dalam bentuk yang nyata. Tentu jika terjadi dalam benturan nyata akan terjadi guncangan yang dahsyat yang menghancurkan segalanya. Dan inilah yang disebut dengan kiamat. Hari dimana bumi, langit, dan seluruh isi alam semesta mengalami kehancuran. Bagaimana juga jika cahaya matahari lenyap dari bumi selama-lamanya? Tentu semuanya akan musnah karena cahaya matahari merupakan salah satu sumber kehidupan bagi makhluk-makhluk lainnya, termasuk manusia. Ibrah ini tentu sekedar perumpamaan yang dimaksudkan agar kita dapat mengambil pelajaran untuk senantiasa bersyukur dan lebih mendekatakan diri kepada Allah.
3. Fenomena gerhana merupakan gejala alam yang sama sekali tidak berkaitan dengan takdir sesuatu
Dalam masyarakat masih ada yang mengaitkan kejadian alam ini dengan mitos-mitos dan keyakinan-kenyakinan yang keliru. Di antaranya, ada yang meyakini bahwa di saat terjadinya gerhana, ada sesosok raksasa besar yang sedang berupaya menelan matahari sehingga wanita yang hamil disuruh bersembunyi di bawah tempat tidur dan masyarakat menumbuk lesung dan alu untuk mengusir raksasa.

Ada juga masyarakat yang meyakini bahwa bulan dan matahari adalah sepasang kekasih, sehingga apabila mereka berdekatan maka akan saling memadu kasih sehingga timbullah gerhana sebagai bentuk percintaan mereka. Sebagian lain, seringkali mengaitkan peristiwa gerhana dengan kejadian-kejadian tertentu, seperti adanya kematian atau kelahiran, dan kepercayaan ini dipercaya secara turun temurun sehingga menjadi keyakinan umum masyarakat.

Sesungguhnya tidaklah demikian, gerhana hanyalah sebuah fenomonea alam yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan beragama mitos yang beredar selama ini. Sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi yang shahih bahwa pernah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah Saw maka beliau berdiri melaksanakan shalat bersama orang banyak. Setelah shalat, beliau bangkit dan bersabda:

 إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ لاَ يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ ، وَلاَ لِحَيَاتِهِ

Artinya: “Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah,  tidak akan mengalami gerhana disebabkan karena mati atau hidupnya seseorang." (H.R. Al-Bukhari dan Muslim).

Memang pada saat terjadinya gerhana matahari Rasulullah, bertepatan dengan meninggalnya anak Nabi Saw yang bernama Ibrahim. Hal ini diterangkan dalam hadis Nabi yang bersumber dari Al-Mughiroh bin Syu’bah, beliau berkata:

عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ كَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَوْمَ مَاتَ إِبْرَاهِيمُ فَقَالَ النَّاسُ كَسَفَتِ الشَّمْسُ لِمَوْتِ إِبْرَاهِيمَ ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ ، وَلاَ لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمْ فَصَلُّوا وَادْعُوا اللَّهَ.

Artinya: ”Di masa Rasulullah Saw pernah terjadi gerhana matahari ketika hari kematian Ibrahim. Kemudian orang-orang mengatakan bahwa munculnya gerhana ini karena kematian Ibrahim. Lantas Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya gerhana matahari dan bulan tidak terjadi karena kematian atau lahirnya seseorang. Jika kalian melihat gerhana tersebut, maka shalat dan berdo’alah." (H.R. Al-Bukhari)

Jadi, jelaslah bahwa terjadinya gerhana sama sekali tidak berkaitan dengan takdir kelahiran ataupun takdir kematian seseorang, begitupun dengan beragam mitos lainnya. Oleh karenanya, sikap seorang Muslim ketika menemukan atau melihat gerhana maka di-anjurkan untuk Memperbanyak dzikir, istighfar, takbir, shodaqoh dan semua amalan yang mendekatkan diri kepada Allah dan tentunya melaksanakan shalat gerhana (shalat kusuf) sebagaimana yang pernah dilaksanakan Nabi Saw. Informasi Shalat gerhana; gerhana matahari (kusuf) dan gerhana bulan (khusuf) dapat dilihat di disini.

Sekian, Semoga bermanfaat

SQ Blog - Salam sobat, topik kali ini mengenai sekilas Borobudur. Seperti kita ketahui, informasi selama ini yang kita dapatkan dari sejarah mengenai borobudur terdapat beragam versi dan masih belum final. Artinya informasi Borobudur terus digali dan ditunggu-tunggu akan beberapa rahasia lainnya yang belum terjawab sepenuhnya, dan itulah faktanya. Bisa baca "Borobudur" di Wikipedia, disana banyak pendapat mengenai borobudur, diantaranya banyak yang saling mendukung dan melengkapi, namun tidak sedikit pula yang bersebrangan atau bahkan belum memuaskan jawabannya.

Mungkin sobat semuanya telah kenal Fahmi Basya atau setidaknya tahu. Salah satu ungkapan beliau yang banyak mendapat perdebatan ialah:
Borobudur adalah salah satu bagian istana Nabi Sulaiman.
Pada awalnya ketika mendengar hal tersebut agak heran juga. Namun, walaupun juga perlu kita beri apresiasi kepada Bapak Fahmi Basya atas hasil penelitiannya ini, apalagi ia mengusahakan data-data ilmiah sebagaimana penelitian2 lainnya. Bahkan yg pribadi sangat apresiasi, yaitu ia mendasarkan risetnya dengan informasi ayat-ayat al-Quran dan pendekatan beberapa ilmu, diantaranya matematika dan geografi, dll.

Lebih lanjut, berikut ulasan Fahmi Basya;

Setelah waktu bergulir,... suatu saat melihat analisa Zakir Naik mengenai hubungan erat Islam dan Hindu dalam kitab sucinya, WEDA. Zakir naik memaparkan bahwa Kitab Weda yang original sesungguhnya memiliki misi yang sama dengan Islam, diantaranya menyebutkan kabar kedatangan Nabi Muhammad Saw sebagaimana jg disebutkan dalam injil, kesamaan risalah/wahyu, syariat, dan hukum-hukum lainnya. Disini Zakir Naik banyak menyebutkan isi Weda yang sesuai dengan ajaran al-Quran. Ia ingin mengatakan bahwa sesunggguhnya Weda juga merupakan salah satu wahyu Ilahi. Bukankah al-Quran menyebutkan:

إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَإِنْ مِنْ أُمَّةٍ إِلَّا خَلَا فِيهَا نَذِيرٌ .

"Sungguh, Kami mengutus engkau dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Dan tidak ada satu pun umat melainkan di sana telah datang seorang pemberi peringatan." [Q.S. Fathir: 24]

Lebih lanjut, berikut ulasan Zakir Naik;

Setelah menyaksikan dua informasi tersebut, admin akhirnya mengambil sebuah kesimpulan yang tentunya bersifat "anggapan" seperti admin sebutkan sebelumnya - bahwa;
Ada kemungkinan benar riset Fahmi Basya mengaitkan Islam (kerajaan Nabi Sulaiman) dengan Borobudur yang yang selama ini kita anggap sebagai peninggalan Hindu-Budha. Sebab, Zakir Naik melalui ulasannya juga telah menunjukkan bahwa WEDA, kitab suci umat Hindu-Budha merupakan salah satu wahyu Ilahi.
Kesimpulan admin di atas menunjukkan bahwa kemungkinan Borobudur erat kaitannya dengan Islam bahkan merupakan salah satu peninggalan Islam dengan asumsi bahwa Hindu-Budha merupakan umat yang menerima wahyu juga yang terterah dalam Weda. Dan admin untuk pertama kalinya mengetahui hal ini dari ulasan Zakir Naik bahwa Weda memiliki misi yang sama dengan al-Quran.

Namun, tentu gambaran umat Hindu dan Budha masa kini tidak seperti lagi pada masa sebelumnya, apalagi setelah India diinvansi dan dijajah oleh Inggris. Bahkan Budha sendiri sebagai pecahan dari Hindu diakui sebagai satu kepercayaan/agama tersendiri karena ketidaksesuaiannya lagi dengan kitab Weda, melainkan dengan kitab Tripitaka.

Melalui pendekatan tahun, Nabi Sulaiman diperkirakan hidup pada abad ke-9 SM (989-931 SM), atau sekitar 3.000 tahun yang lalu menurut Sami bin Abdullah al-Maghluts, dalam bukunya Atlas Sejarah Nabi dan Rasul. (aminbenahmed.blogspot.com) Adapun keberadaan umat Hindu diperkirakan sudah ada sejak abad ke-15 SM sebagaimana disebutkan Suf'at Mansur dalam bukunya Agama-agama Besar Masa Kini, hal. 5. Sebagian lain berpendapat bahwa keberadaanya baru diketahui pada abad ke-6 SM. (Wikipedia) Namun tentu bukan di tempat yang sama, karena kerajaan Nabi Sulaiman berpusat di Palestina dan Hindu di Punjab (sekarang masuk wilayah Pakistan).

Berkaitan dengan Borobudur, perlu diketahui kapan sesungguhnya umat Hindu-Budha masuk ke Indonesia khususnya pulau Jawa - tempat dimana berdirinya candi Borobudur. Menurut sejarah, Hindu-Budha di Indonesia diperkirakan sekitar abad ke-4 M berdasarkan penemuan prasasti. Namun tentu dapat juga jauh sebelumnya mereka telah ada di Indonesia karena keberadaan sebuah prasasti bisa saja menunjukkan suatu keberadaan yang lama sebelum ditemukannya.
   
Analisa tahun ini menunjukkan ada kemungkinan masa hidup Nabi Sulaiman a.s dan umat Hindu bersamaan atau setidaknya saling mempengaruhi karena Nabi Sulaiman merupakan seorang Nabi yang memiliki kekuasaan yang sangat luas. Wallahu A'lam!

SQ Blog - dimanapun berada, post kami sebelumnya mengenai, Sains, Tafsir Ilmi dan Mukjizat Ilmi merupakan tiga ranah kajian ke-al-Quranan yang saling terkait. Olehnya itu, post kali mengenai Relevansi Sains, Tafsir Ilmi, dan Mukjizat Ilmi ingin melihat hubungan diantara ketiganya. Berikut uraiannya sobat...!

Islam mengenal dalil naqli, yakni bukti-bukti keberadaan Allah SWT yang termaktub dalam al-Quran dan Hadis serta dalil aqli, yakni hasil pengamatan dan pemahaman terhadap fakta-fakta yang terindra secara logis dengan menggunakan akal sehat dan kecerdasan sebagai potensi yang dimiliki setiap manusia. Penggunaan dalil naqli sangat tergantung pada keimanan atau sebagai konsekuensi logis dari keimanan, sedangkan penggunaan dalil aqli (empris-logik) sebagai proses untuk beriman.

Merujuk ayat-ayat al-Quran maupun Hadis, tidak dapat dipungkiri akan beberapa informasi ilmiah yang menuntut tindakan empiris dan proses berpikir. Ini menunjukkan tradisi empiris atau kebiasaan memahami secara logis, sangat kuat dalam Islam. Dengan mempelajari berbagai fenomena alam secara mendalam, para ulama sampai pada kesimpulan bahwa materi tidak jadi dengan sendirinya, tetapi keberadaanya merupakan ciptaan Allah. Meraka pun sampai pada kesimpulan-kesimpulan berupa pengetahuan yang memiliki kejelasan konseptual, kejelasan teori, kejelasan pengukuran, dan kejelasan metode yang digunakan untuk sampai pada kesimpulan ilmiah tersebut. Dengan kata lain, dengan melakukan pengamatan terhadap feomena alam, para ulama pada masa kebesaran Islam telah menemukan berbagai teori sains (science) yang sekalius menjadi penggerak nilai keimanan kepada Allah.[1]

Realitas ini menunjukkan peranan penting al-Quran dan Hadis untuk mendorong lahirnya berbagai kajian terhadap alam yang lazimnya disebut sains. Berbagai sistem moral dan hukum yang berhubungan dengan kehidupan individu, sosial, ekonomi, politik, sains, atau bidang-bidang lain dikelola al-Quran dan Hadis. Ini karena kapasitasnya yang menjangkau seluruh medan kehidupan rasional manusia, tidak ada satu lini yang lepas dari fokusnya. Fakta ini menempatakan posisinya di titik sentral sekian banyak telaah dan subjek utama dalam penyusunan berbagai kajian.[2] Di antaranya kajian dalam bidang sains yang kemudian melahirkan satu bentuk penafsiran, yaitu tafsir ilmi.

Ilustrasi ajaran-ajaran al-Quran menyoroti banyak hal yang ada dalam kehidupan alam ini, baik mengenai proses kejadian alam, mekanisme kehidupan makhluk-makhluknya termasuk manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Padahal bangsa Arab pada zaman itu termasuk masyarakat yang lemah tradisi tulis-bacanya, dan lemah pula wawasan dan pengetahuan mereka tentang berbagai bidang keilmuan, kecuali dalam aspek perdagangan yang sudah menjadi tradisi dikalangan masyarakat Quraisy sejak masa nenek moyang mereka. Kontak mereka dengan orang-orang Byzantium dari Eropa Timur bukan kontak keilmuan, tetapi kontak perdagangan. Sebab itu, mereka kemudian disebut al-Quran sebagai masyarakat ummi> (lemah tradis tulis-bacanya).[3]

Dengan demikian, ketika al-Quran diturunkan dan memberi isyarat berbagai bidang keilmuan, bagi masyarakat Quraisy merupakan sesuatu yang baru dan belum mereka kenal, sementara nabi sendiri tidak mungkin menyusunnya karena tidak memiliki latar belakang budaya yang mendukung rumusan dan ilustrasi al-Quran. Hal ini merupakan salah satu kekuatan kitab suci ini yang menunjukkan kebenaran nubuwah (kerasulan) Muhammad Saw. Al-Quran mengungkapkan informasi yang mustahil diketahui pada waktu itu. Penyampaiannya secara ringkas dan padat, namun manusia mengumpulkan informasi sampai bertahun-tahun untuk dapat mengetahui pesan yang dikandungnya. Kandungan isinya yang sangat luas namun konsisten, bebas dari kesalahan, dan selaras dengan berbagai penemuan ilmiah dalam bidang sains saat ini.[4] Al-Quran sendiri menegaskan akan hal ini dalam ayat berikut:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا ﴿سورة النساء: ٥٣﴾

Artinya: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (Q.S. al-Nisa’ [4]: 82)

Penelitian dan kajian tentang isyarat-isyarat al-Quran terhadap ilmu pengetahuan telah dan masih terus dilakukan para ilmuwan Muslim. Sebelum mengkaji suatu objek yang disebutkan dalam al-Quran serta pengembangnnya pada objek-objek lain, para ilmuwan sudah pasti mengkaji al-Quran dan Hadis. Karena itu, tidak mengherankan para ilmuwan tersebut adalah para ahli tafsir al-Quran dan ahli Hadis. Misalnya Ibnu Sina, disamping sebagai dokter, ia adalah seorang Huffaz} (penghafal al-Quran) dan juga sebagai mufassir (ahli tafsir).[5]

Disini memperlihatkan bahwa peranan seorang mufassir sangat besar dalam mengkaji sains yang pada akhirnya menghasilkan satu bentuk penafsiran tersendiri, yaitu corak tafsir ilmi. Di sisi lain, pemahamannya terhadap teks-teks al-Quran yang diturunkan sejak 14 abad silam, namun tetap menjadi sumber informasi berbagai penemuan saat ini mengantarkannya pada sebuah kesimpulan tentang mukjizat ilmi (i’jaz al-ilmi). Kerangka ini terbangun atas kesadaran bahwa al-Quran sebagai dalil naqli dan alam raya sebagai dalil aqli merupakan kesatuan untuk memberikan petunjuk kepada manusia.

Melalui keduanya, yaitu al-Quran (ayat qauliyyah) dan alam raya (ayat kauniyyah), Allah Mahakuasa untuk menampakkan mukjizat dari keduanya. Namun perlu dipahami, mukjizat hanya ditujukan kepada yang ragu. Atas dasar itu, al-Quran bagi kaum Muslim tidak berfungsi sebagai mukjizat, tetapi ia adalah ayat (tanda) kebenaran nabi Muhammad Saw. Dari sini, kaum Muslim hendaknya tidak menitikberatkan pandangan mereka pada kemukjizatan al-Quran, tetapi perhatian hendaknya lebih banyak tertuju pada hidayahnya.[6] Begitupun dari sisi keilmuannya, al-Quran bukanlah buku ilmiah atau kitab ilmu pengetahuan. Al-Quran adalah kitab yang diturunkan Allah untuk memberi petunjuk kepada manusia, menetapkan aturan hidup agar mereka meraih kebahagian di dunia dan akhirat. 

Demikianlah relevansi sains dan tafsir ilmi yang menjadi renungan bagi umat manusia. Padanya terdapat pelajaran bagi orang-orang beriman untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pada sisi lain, menjadi sebuah mukjizat bagi orang-orang yang ragu dan tidak mempercayainya. Mereka diperlihatkan berbagai penemuan menakjubkan dalam al-Quran seiring dengan perkembangan intelektual mereka. Bahkan keharmonisan informasi ilmiah al-Quran makin terungkap dan menakjubkan dari masa ke masa.

Oleh : Hasrul

ENDNOTE


[1] U. Maman, Pola berpikir sains; Membangkitkan Kembali Tradisi Keilmuan Islam (Bogor, QMM Pusblishing 2012), hal. 247-248
[2] M. Baqiri Saidi Rousyan, Menguak Tabir Mukjizat; Membongkar Pristiwa Luar Biasa Secara Ilmiah terj. Ammar F.H. dari judul asli “Mu’jizeh Syenosi” (Jakarta: Sadra Press, 2012), Cet. I, hal. 275-276
[3] Qurais Shihab, et.al., Sejarah dan Ulum al-Quran (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2008), Cet. IV, hal. 128-129
[4] Caner Taslaman, Miracle of the Quran terj. Ary Nilandari dari Judul Asli “The Quran: Unchallengeable Miracle”, (Bandung: Mizan, 2010), Cet. I, hal. 21
[5] U. Maman, Pola berpikir sains; Membangkitkan Kembali Tradisi Keilmuan Islam (Bogor, QMM Pusblishing 2012), hal. 259
[6] Quraish Shihab, Kaidah Tafsir; Syarat, Ketentuan, dan Aturan yang Patut Anda Ketahui dalam Memahami al-Quran (Tangerang: Lentera Hati, 2013), Cet. I, hal. 336

SQ Blog - Mukjizat ilmi (i’jaz ilmi) merupakan sisi kemukjizatan dalam al-Quran maupun Hadis dari segi pemberitaan. Kemukjizatan dari segi ini meliputi pemberitaan kisah-kisah masa lalu, informasi pristiwa-pristiwa yang akan datang, dan isyarat-isyarat ilmiah (sains). Namun, pembahasan ini hanya memaparkan topik isyarat-isyarat ilmiah yang lebih dikenal dengan mukjizat ilmi. Menurut Manna’ Khalil al-Qattan, mukjizat ilmi bukanlah terletak pada pencakupannya akan teori-teori ilmiah yang selalu baru dan berubah serta merupakan hasil usaha manusia dalam penelitian dan pengamatan. Tetapi ia terletak pada dorongannya untuk berpikir dan mengunakan akal.[1]

Jadi, mukjizat ilmi ada pada esensi-esensi ilmiah yang mengarahkan pemikiran manusia padanya dalam rangka membangun nilai keimanan. Pada konteks ini, al-Quran dan Hadis menginginkan tindakan nyata seperti menganalisis, merenung, dan meletakkan dasar-dasar ilmu pengetahuan bagi umat Islam. Rasyid Al-Mubarak mengatakan: “Kata berpikir bukanlah kata yang diwariskan zaman jahiliyyah sehingga ia begitu terkenal dan populer, tetapi kata itu merupakan perintah yang dibebankan pada manusia.”[2] Perintah tersebut di antaranya dalam ayat berikut:

قُلْ إِنَّمَا أَعِظُكُمْ بِوَاحِدَةٍ أَنْ تَقُومُوا لِلَّهِ مَثْنَى وَفُرَادَى ثُمَّ تَتَفَكَّرُوا مَا بِصَاحِبِكُمْ مِنْ جِنَّةٍ إِنْ هُوَ إِلَّا نَذِيرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيدٍ ﴿سورة سبأ: ٤٦﴾

Artinya: “Katakanlah: “Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua- dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu fikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras”. (Q.S. al-Nahl [34]: 46)

Ini selaras dengan mukjizat yang diberikan kepada nabi Muhammad Saw, yaitu al-Quran yang bersifat aqlani (akli) yang terus menantang sepanjang masa. Walaupun, demikian, terdapat juga beberapa mukjizat nabi yang bersifat hizzi (indrawi) yang keluarbiasaanya hanya dapat dijangkau dan disaksikan langsung oleh masyarakat tempat nabi menyampaikan risalahnya. Mukjizat al-Quran dapat dijangkau oleh setiap orang yang menggunakan akalnya dimana pun dan kapan pun.[3] Ini artinya al-Quran merupakan mukjizat abadi nabi Muhammad Saw.

Pada uraian ini perlu diketengahkan bahwa al-Quran merupakan wahyu sekaligus mukjizat, keduanya tidak terpisahkan. Baik wahyu maupun mukjizat adalah anugerah Ilahi yang diberikan kepada para nabi dan Rasul. Namun, mukjizat para nabi sebelumnya adalah realitas selain wahyu, adapun mukjizat nabi Muhammad Saw, yaitu al-Quran selain sebagai wahyu juga merupakan mukjizat.[4] Ini mengindikasikan bahwa wahyu dan mukjizat adalah dua realitas yang berbeda. Dalam al-Quran, wahyu memiliki beberapa makna, di antaranya; firman Allah kepada rasul-Nya, instruksi Allah kepada Malaikat, ilham, insting, isyarat (tanda/simbol), dan bisikan setan.[5] Adapun makna mukjizat dalam al-Quran, yaitu; ayat (tanda), bayyinah, burhan, sultan, dan bashirah.[6] Nampak jelas perbedaan penggunaan keduanya yang menunjukkan esensi yang dikandungnya juga berbeda. Dapat dipahami bahwa al-Quran dalam realitasnya sebagai wahyu sekaligus mukjizat menegaskan ajaran-ajaran yang dikandungnya akan senantiasa memancarkan nilai-nilai kemukjizatan. 

Perintah untuk menghayati dan memikirkan alam raya termaktub dalam al-Quran dan Hadis sebagai landasan berpikir. Setelah melalui proses yang panjang, kerangka inilah yang kemudian melahirkan tafsir ilmi seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa dalam al-Quran maupun Hadis mengandung isyarat-iyarat ilmiah yang telah disampaikan oleh nabi sejak 14 abad silam ketika ilmu pengetahuan sama sekali belum berkembang. Hal ini membuktikan akan nubuwah Muhammad Saw.

Adapun, penyebutan isyarat-isyarat ilmiah tersebut yang mengarahkan pemikiran manusia untuk mengkaji dan mengungkapnya adalah ranah dari sisi mukjizat ilmiah pada al-Quran dan Hadis. Menurut Zaqlul Rakib Muhammad, jika tafsir ilmi meniscayakan penggunaan setiap metode pengetahuan dan teori-teori ilmiah yang ada, maka adapun mukjizat ilmiah harus menggunakan ketetapan-ketetapan ilmiah yang sudah pasti. Sebab, maksud dari mukjizat ilmi tidak lain adalah penegasan bahwa al-Quran yang diturunkan kepada nabi mengandung informasi tentang hakikat ilmiah.[7]

Pada sisi lain, sebagian ulama memandang bahwa letak kemukjizatan ilmiah terletak pada dorongannya untuk berpikir dan menggunakan akal. Sehingga, berbagai informasi ilmiah al-Quran maupun Hadis yang saat ini dapat dibuktikan dengan sains, mereka lebih memilih menyebutnya sebagai bukti kebenaran al-Quran ataupun bukti-bukti kenabian. Muhammad Al-Ghazali adalah salah satu ulama yang berpikir demikian. Beliau memandang bahwa letak mukjizat ilmi ada pada esensi-esensi ilmiah yang mengarahkan pemikiran manusia padanya untuk menjadi bahan renungan yang bermuara pada sebuah kenyakinan teguh kepada Allah. Olehnya itu, harus dibangun paradigma bahwa ayat-ayat Allah, baik qauliyah maupun kauniyyah tidak mungkin bertentangan karena keduanya berasal dari-Nya.

Oleh: Hasrul

ENDNOTE


[1] Manna’ Khalil al-Qattan, Studi Ilmu-ilmu al-Quran terj. Mudzakir dari judul asli Maba>his fi> Ulum al-Quran” (Bogor: Pustaka LiteraAntarNusa, 2011), Cet. XIV, hal. 223
[2] Muhammad Al-Ghazali, Al-Quran Kitab Zaman Kita; Mengaplikasikan Pesan Kitab suci dalam Konteks Masa Kini terj. Msykur Hakim dan Ubaidillah dari judul asli “Kayfa Nata’amal ma al-Quran” (Bandung: Mizan, 2008), Cet. I, hal. 231
[3] Kementerian Agama RI, Tafsir al-Quran Tematik; Kenabian (Nubuwah) dalam al-Quran (Jakarta: Lajnah Pentashih Mushaf al-Quran, 2009), Cet. I, Seri Lima, hal. 106-107
[4] M. Baqiri Saidi Rousyan, Menguak Tabir Mukjizat; Membongkar Pristiwa Luar Biasa Secara Ilmiah terj. Ammar F.H. dari judul asli “Mu’jizeh Syenosi” (Jakarta: Sadra Press, 2012), Cet. I, hal. 155
[5] Kementerian Agama RI, Tafsir al-Quran Tematik; Kenabian (Nubuwah) dalam al-Quran, hal. 105-106
[6] M. Baqiri Saidi Rousyan, Menguak Tabir Mukjizat; Membongkar Pristiwa Luar Biasa Secara Ilmiah terj. Ammar F.H. dari judul asli “Mu’jizeh Syenosi” (Jakarta: Sadra Press, 2012), Cet. I, hal. 158-160
[7] Kementerian Agama RI oleh Badan Litbang dan Diklat, Tafsir Ilmi; Tumbuhan (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf al-Quran, 2012), hal. xxii

SQ Blog - Tafsir ilmi adalah kajian tentang arti-arti ayat atau Hadis dalam tinjauan validitasnya dari ilmu pengetahuan alam (sains).[1] Definisi lain menyebutkan bahwa tafsir ilmi merupakan corak penafsiran ayat-ayat kauniyyah dalam al-Quran yang mengaitkannya dengan ilmu modern. Menurut Husein al-Zahabi, tafsir ini membahas istilah-istilah ilmu pengetahuan dalam penuturan ayat-ayat al-Quran, serta berusaha menggali dimensi keilmuan dan mengungkap pandangan-pandangannya secara falsafi.[2]

Keberkahan dari al-Quran maupun Hadis sebenarnya hanya diperoleh dengan menghayati dan memahaminya, menuruti serta memanfaatkan petunjuk-petunjuknya. Pemanfaatan tersebut tentu tidak terlepas dari upaya penghayatan, penjelasan dan perincian hasil yang dikehendaki ayat-ayat al-Quran, maupun Hadis.[3] Kerangka inilah yang kemudian melahirkan ilmu-ilmu tafsir, termasuk tafsir ilmi. Pemahamn terhadap ayat-ayat al-Quran melalui penafsiran mempunyai peranan sangat penting bagi maju mundurnya umat Islam. Demikian juga Hadis atau Sunnah telah menjadi faktor pendukung utama kemajuan ilmu pengetahuan dalam sejarah peradaban umat Islam.[4]

Menurut Arkoun, seorang pemikir Aljazair kontemporer bahwa al-Quran memberikan kemungkinan-kemungkinan arti yang tidak terbatas. Ayat-ayatnya selalu terbuka untuk penafsiran (interpretasi) baru, tidak pernah pasti dan tertutup dalam interpretasi tunggal.[5] Memang diakui bahwa bahwa sains (ilmu pengetahuan) itu relatif, sekarang benar, bisa jadi besok salah. Tetapi, bukankah itu ciri dari semua hasil pemikiran manusia, sehingga di dunia tidak ada absolut kecuali Tuhan. Hasil pikiran manusia juga bersifat akumulatif. Ini berarti ilmu akan saling melengkapi dari masa ke masa sehingga ia akan selalu berubah.[6]

Disini manusia dituntut untuk selalu berijtihad dalam rangka menemukan kebenaran. Apa yang dilakukan para ahli hukum, teologi, dan sufi di masa silam dalam memahami ayat-ayat al-Quran merupakan ijtihad baik, sama halnya dengan usaha memahami isyarat-isyarat ilmiah dengan penemuan modern. Usaha tersebut tentu dibarengi dengan sikap kehati-hatian dan kerendahan hati. Tafsir apa pun bentuknya, hanyalah sebuah upaya manusia yang terbatas untuk memahami maksud kalam Tuhan yang tidak terbatas. Kekeliruan dalam penafsiran sangat mungkin terjadi, namun tidak akan mengurangi kesucian al-Quran. Kekeliruan dalam usaha penafsiran ilmiah dapat diminimalkan atau dihindari dengan memperhatikan kaidah-kaidah yang ditetapkan para ulama. Berikut prinsip dasar dalam penyusunan tafsir ilmi:[7]
  1. Memperhatikan arti dan kaidah-kaidah kebahasaan;
  2. Memperhatikan konteks ayat (asbab al-nuzul) dan korelasi (munasab) ayat;
  3. Memperhatikan dan tetap mengacu pada hasil-hasil penafsiran bi al-ma’sur (penafsiran dengan riwayat);
  4. Tidak menggunakan ayat-ayat yang mengandung isyarat ilmiah menghukumi benar atau salahnya sebuah hasil penemuan ilmiah;
  5. Memahami betul isyarat-isyarat ilmiah yang menyangkut dengan segala objek bahasan ayat, termasuk penemuan-penemuan ilmiah yang berkaitan dengannya; dan
  6. Tidak menggunakan penemuan-penemuan ilmiah yang masih bersifat teori dan hipotesis sehingga dapat berubah.
Tafsir ilmi diharapkan dapat memberikan pemaknaan baru terhadap segala aspek kehidupan dan lebih utama dapat merangsang untuk melahirkan tekhnologi yang bermanfaat. Ini dibutuhkan sebagai media dalam mengungkap rahasia kemukjizatan terkait informasi-informasi sains yang mungkin belum dikenal pada masa turunnya sehingga menjadi bukti kebenaran bahwa al-Quran bukan karangan manusia, namun wahyu Sang Pencipta dan pemilik alam raya.[8] Ranah ini akan berperan penting dalam mengembangkan misi dakwah Islam di tengah kemajuan ilmu pengetahuan.

Oleh: Hasrul

ENDNOTE


[1] Abdul Majid bin Aziz Al-Zindani, at. al., Mukjizat al-Quran dan al-Sunnah tentang IPTEK (Jakarta: Gema Insani Press, 1995), cet. I, Jilid 2, hal. 25
[2] Kementerian Agama RI oleh Badan Litbang dan Diklat, Tafsir Ilmi; Tumbuhan dalam Perspektif al-Quran Dan Sains (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf al-Quran, 2012), hal. xxi-xxii
[3] M. Ali al-S}abu>ni>, Studi Ilmu al-Quran terj. Aminuddin dari judul asli Al-T{ibya>n fi> Ulum al-Quran” (Bandung: Pustaka setia, 2008), Cet. X, hal. 240-241
[4] Zaghlul al-Najjar, Sains dalam Hadis (Jakarta: Amzah, 2011), cet. I, Kata Pengantar oleh Mulyadhi Kartanegara, hal. ix
[5] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam (Jakarta: Rajawali Press, 2009), cet. XVI, hal. 213
[6] Kementerian Agama RI oleh Badan Litbang dan Diklat, Tafsir Ilmi; Tumbuhan dalam Perspektif al-Quran Dan Sains (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf al-Quran, 2012), hal. xxvi
[7] Kementerian Agama RI oleh Badan Litbang dan Diklat, Tafsir Ilmi; Tumbuhan (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf al-Quran, 2012), hal. xxvi-xxvii
[8] Qurais Shihab, et.al., Sejarah dan Ulum al-Quran (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2008), Cet. IV, hal. 183

SQ Blog - kali ini admin ingin berbagi sekilas mengenai informasi sains dan ruang lingkupnya, khususnya dalam perspektif Islam. Tulisan ini akan berusaha menunjukkan karakter kajian ilmiah atau yang sering dikenal, ilmu sains menurut ajaran islam. Ini menurut admin, perlu diketengahkan agar pemaknaan terhadap sains berada pada jalan yang tepat sehingga penerapannya pun dapat digunakakn pada jalan yang bijak juga. Let's gooo....

Apa itu sains???

Sobat, sains (science) menurut Webster’s New World Dictionary berasal dari kata Latin, scire yang artinya mengetahui. Dalam hal ini tidak berbeda dengan knowledge (pengetahuan).[1] Secara terminologi, sains adalah suatu eksplorasi ke alam materi berdasarkan observasi dan mencari hubungan-hubungan alamiah yang teratur mengenai fenomena yang diamati serta bersifat mampu meguji diri sendiri.[2] Pengertian lain sebagaimana diposting Journal of Theoretic (JoT) menyebutkan bahwa sains adalah bidang kajian yang berusaha untuk mengambarkan dan memahami alam semesta, baik secara keseluruhan maupun bagian-bagian dari alam. Kajian fisika, biologi, arkeologi, dan sejenisnya menurut JoT merupakan bagian yang tercakup dalam definisi tersebut.[3]

Sains bukan sekadar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, sains terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya. Dalam Islam sebagaimana termaktub dalam al-Quran banyak perintah untuk memperhatikan alam dan hanya diresapi manfaatnya oleh orang-orang yang memikirkannya. Misalanya firman Allah mengenai keutamaan madu di dalam surah al-Nahl:

ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ ﴿سورة النحل: ٦٩﴾

Artinya: “Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi orang-orang yang memikirkan.” (Q.S. al-Nahl [16]: 69)

Al-Quran ketika mengarahkan pandangan kepada fenomena alam pada hakikatnya bermaksud mengasah akal manusia untuk memikirkannya agar sampai pada kesimpulan tentang wujud Pencipta. Disamping menyadari pula adanya kaitan antara Sang Pencipta dengan sistem yang berlaku terhadap fenomena itu. Dia Yang Mahakuasa itulah yang menguasai secara amat teliti dan konsisten fenomena tersebut. Jika akal telah mencapai nati>jah (nilai) ini, maka diharapkan kalbu akan khusyu, tunduk dan kagum kepada-Nya. Itu sebabnya ayat-ayat tersebut sering kali dimulai dengan semacam kalimat awalam yatafakkaru>, atau ditutup dengan semacam kalimat afala ta’qilun, afala tubsirun. Dengan menggunakan akal, manusia akan berusaha memahami fenomena itu lalu memanfaatkannya untuk kemaslahatan duniawi dan ukhrawinya.[4]

Lalu apa ruang lingkup sains???

Sobat, sebenarnya objek ilmu dibagi dalam dua bagian pokok, yaitu alam materi dan alam non-materi. Adapun sains membatasi ruang jelajahnya hanya pada alam materi atau semua bentuk pengalaman manusia. Artinya, objek penelaan sains meliputi segenap gejala yang dapat ditangkap oleh pengalaman manusia lewat pancaindra.[5] Dengan demikian, segala sesuatu yang ada di alam sekitar menjadi ranah kajian ini. Al-Quran menyebutkan dengan istilah “فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ” sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut: 

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ ﴿سورة فصلت: ٥٣﴾ 

Artinya: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (Q.S. al-Fushshilat [41]: 53) 

Wujud kongkrit dalam memandang objek sains adalah adanya kenyakinan tentang penciptaan, ketundukan, karakteristik dan keteraturan benda-benda tersebut kepada Allah. Dalam konteks ini, para scientist (ilmuwan) harus membedakan antara penciptaan dengan rekayasa. Menciptakan adalah mengadakan sesuatu dari tidak ada, sedangkan merekayasa adalah mengubah suatu bentuk menjadi bentuk yang lain, atau menggabungkan dua atau beberapa jenis benda menjadi jenis lain yang berbeda dengan keadaan sebelumnya. Para ilmuwan bisa merekayasa tetapi mereka tidak bisa menciptakan, sehingga mereka menyadari kelemahannya. Dengan konsep ini, sains tumbuh di atas landasan kesadaran ketuhanan, sehingga terdapat keterpaduan antar sains dengan agama. Dengan adanya kesadaran ketuhanan tersebut menyebabkan kegiatan sains yang bersifat profan (bersifat kedunian) menjadi aktivitas yang bernuansa religius.[6]

Segala bentuk upaya dalam mengkaji alam raya hendaknya menjadi bahan renungan melalui ciptaan-Nya untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Hal ini dilandasi bahwa ketika al-Quran berbicara tentang alam raya dan fenomenanya, terlihat jelas bahwa pembicaraan selalu dikaitkan dengan kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. Sains dan hasilnya harus selalu mengingatkan manusia terhadap Kehadiran dan Kemahakuasaan Allah SWT. Ada sekitar 750-1000 ayat kauniyyah, sementara ayat-ayat hukum hanya sekitar 250 ayat. Lalu mengapa kita hanya mewarisi puluhan ribu buku-buku fiqih sementara buku-buku ilmiah jumlahnya tidak banyak. Padahal Tuhan tidak pernah membedakan perintahnya untuk memahami ayat-ayat al-Quran.[7]

Ini merupakan titik balik untuk membangun kembali peradaban Islam yang sirna. Perhatian selama ini terhadap ayat-ayat hukum lebih besar dibandingkan perhatian terhadap ayat-ayat kauniyah yang justru jumlahnya melebihi ayat-ayat hukum. Akibatnya, masih banyak ayat-ayat kauniyyah yang sampai saat ini belum pernah dikaji secara berarti.[8] Menurut Muhammad al-Ghazali, umat Islam mengalami keterpurukan karena mengalami krisis berpikir, bukan krisis metode dan nilai. Al-Quran memang berada di tangan mereka seperti keberadaanya di tangan para sahabat. Teks-teksnya tetap terpelihara utuh. Tetapi, masalahnya terletak pada bagaimana memahami al-Quran dan berdialog dengannya.[9] Saat ini pun umat Islam justru berpaling dari nilai-nilai al-Quran, sebaliknya orang-orang non-Muslim mulai semarak mengkajinya walaupun sebatas menguji kebenarannya tanpa menyakini kemukjizatannya. Keterangan di atas dapat dipahami bahwa ketertinggalan Islam diakibatkan karena mereka jauh dari nilai-nilai ajarannya, yaitu al-Quran dan Hadis. 

Padahal, al-Quran dan Hadis adalah sumber metode dan nilai yang luhur, tetapi mereka tidak mengkajinya seiring perkembangan zaman. Perhatiannya terhadap ayat-ayat kauniyyah telang hilang, kalaupun ada hanya sebatas menjastifikasi ayat al-Quran dengan temuan sains barat. Namun, beberapa tahun terakhir telah nampak lagi kesadaran untuk memahami alam raya guna memanfaatkannya. Hal ini dapat dilihat dengan berkembangnya beberapa corak penafsiran untuk memahami kandungan ayat-ayat kauniyyah, di antaranya corak penafsiran ilmi.


ENDNOTE


[1] U. Maman, Pola berpikir sains; Membangkitkan Kembali Tradisi Keilmuan Islam (Bogor, QMM Pusblishing 2012), hal. 95
[2] Agus Purwanto, Nalar Ayat-ayat Semesta; Menjadikan al-Quran sebagai Basis Kontruksi Ilmu Pengetahuan (Bandung: Mizan, 2012), Cet. I, hal. 144
[3] Journal of Theoretic (JoT), Science, Vol. 1-3 Aug/Sept 1999 dikutip oleh U. Maman, Pola berpikir sains; Membangkitkan Kembali Tradisi Keilmuan Islam (Bogor, QMM Pusblishing 2012), hal. 95
[4] Quraish Shihab, Membumikan al-Quran; Memfungsikan wahyu dalam Kehidupan (Jakarta: Lentera Hati, 2011), Cet. I, Jilid II, hal. 624-625
[5] U. Maman, Pola berpikir sains; Membangkitkan Kembali Tradisi Keilmuan Islam (Bogor, QMM Pusblishing 2012), hal. 94
[6] U. Maman, Pola berpikir sains; Membangkitkan Kembali Tradisi Keilmuan Islam (Bogor, QMM Pusblishing 2012), hal. 134-136
[7] Kementerian Agama RI oleh Badan Litbang dan Diklat, Tafsir Ilmi; Tumbuhan dalam Perspektif al-Quran Dan Sains (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf al-Quran, 2012), hal. xxiv
[8] Agus Purwanto, Nalar Ayat-ayat Semesta; Menjadikan al-Quran sebagai Basis Kontruksi Ilmu Pengetahuan (Bandung: Mizan, 2012), Cet. I, hal. 164
[9] Muhammad Al-Ghazali, Al-Quran Kitab Zaman Kita; Mengaplikasikan Pesan Kitab Suci dalam Konteks Masa Kini terj. Msykur Hakim dan Ubaidillah dari judul asli “Kayfa Nata’amal ma al-Quran” (Bandung: Mizan, 2008), Cet. I, hal. 231

SQ Blog

{picture#https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEimSap9ccYY8FQp44yNvjVK6lRtOVpD-gpVKKWSk__oyc8ChkbooHIuh52uDXiZGchcOoPlIazgMEjOjQ5r0b-DftM48h8gDub2yWyKzDdH1VSYDrsmbf1qfYgl5hKaEuiAW8WAQeTmErDqcHjIm3C4GJKWRJv52o5uHAW10S2gOWj4o8nMsdahVxSo/s500/sq%20vlog%20official%20logo%20png%20full.png} SQ Blog - Wahana Ilmu dan Amal {facebook#https://web.facebook.com/quranhadisblog} {youtube#https://www.youtube.com/user/Zulhas1}

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.