Articles by "Tasawuf"

Tampilkan postingan dengan label Tasawuf. Tampilkan semua postingan

SQ Blog - Hadis dapat diterima dengan beberapa syarat. Syarat-syarat tersebut disamping memiliki kesamaan dari masing-masing diskursus keilmuan, juga terdapat perbedaan-perbedaan. Berikut uraian persamaan dan perbedaan penerimaan hadis menurut ahli Hadis, Fiqih, dan Sufi.

Persamaan metodologi Ahli Hadis, Fiqih dan Sufi dalam menerima hadis
  1. Sanadnya tersambung;
  2. Rawinya adil; dan
  3. Rawinya dhabit.
Perbedaan metodologi Ahli Hadis, Fiqih dan Sufi dalam menerima hadis
  • Ahli Hadis
  1. Sanad tersambung
  2. Rawinya adil
  3. Rawinya dhabit
  4. Tidak ada Syadz
  5. tidak ada illat
  6. Hadis baik qauli, fi'li, taqrir dan harapan nabi yang belum tercapai
  • Ahli Fiqih
  1. Sanad tersambung
  2. Rawinya adil
  3. Rawi dhabit
  4. Amalan ahlul Madinah
  5. Tidak ada syadz
  6. tidak ada illat
  7. Memuat hukum
  8. Hanya hadis qauli dan fi'li
  • Ahli Sufi
  1. Sanad tersambung
  2. Rawinya adil
  3. Rawi dhabit
  4. Hanya mengambil hadis qauli dan harapan Rasulullah
Perbedaan pandangan mereka dari masing-masing kelompok karena adanya perbedaan pandangan dan kebutuhan akan hadis sesuai latar bidang keilmuan masing-masing. Secara umum, alasan inilah yang secara signifikan memberikan ruang pebedaan. Walaupun pada sisi lain, dilatabelakangi kualitas keilmuan yang berbeda-beda serta hal-hal lain yang menjadi faktor penentu dalam memahami hadis.

Walaupun demikian, perbedaan pandangan ini dapat dipertemukan dan diselesaikan dengan alasan:
  • Adanya persamaan cara pandang yaitu potret kehidupan Rasulullah,
  • Perbedaan tersebut terjadi karena ruang dan tempat yang berbeda, ini merupakan suatu keniscayaan dan kewajaran,
  • Memahami hakikat perbedaan yang sesungguhnya karena perbedaan adalah salah satu rahmat Allah yang dapat memberikan kemudahan bagi hamba-hambanya.
Wallahu A'lam
Oleh: Hasrul

SQ Blog - Nafs secara lateral atau harfiah, nafs berarti “esensi”, dan “esensi sesuatu” disebut “jiwa” sesuatu, atau “realitas” (haqiqah) nya. Dalam terminologi Aristotelian, kata itu berarti “jiwa”, entah jiwa yang bersifat materiel, seperti jiwa nabati dan jiwa hewani, atau bersifat abstrak, seperti jiwa benda samawi dan jiwa rasional manusia. Dalam terminologi etika, nafs berarti khayalan dan angan-angan palsu dari ego manusia yang terpisah dan independen. Kata ini juga berarti jiwa jasmani atau hawa nafsu­­, tempat nafsu berbagai hasrat dan keinginan, Kaum sufi memahaminya dalam artian terakhir ini.[1]

Imam Al-Ghazali dalam bukunya Pilar-pilar Rohani menyebutkan bahwa nafs merupakan gabungan dari dua makna (polisme): pertama, yang menghimpun dua kekuatan amarah dan syahwat dalam diri manusia. Penggunaan kata ini sudah lazim dikalangan kaum sufi. Mereka mengartikan nafsu sebagai asal yang menghimpun sifat-sifat tercela manusia. Mereka mengatakan, “Mengendalikan nafsu dan syahwat merupakan sebuah keharusan.” Hal itu ditunjukkan oleh sabda Rasulullah saw, “Musuhmu yang paling besar adalah nafsumu yang berada dalam dirimu. Kedua, luthf yang telah kami sebutkan, yaitu hakikat, diri, dan esensi manusia. Nafs, yang dipandang mampu melakukan penyucian, adalah nafs yang memiliki sifat-sifat hewani yang bernama nafs al-ammarah atau jiwa yang selalu meyuruh kepada kejahatan. Nafs ini biasanya mempunyayi kecenderungan pada kejahatan serta menyuruh kita berbuat jahat.[2] Allah berfirman:

إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ

…sungguh, jiwa (manusia) menyuruh pada kejahatan,…[3]

Apabila jiwa ini disucikan dan mulai menjahui kejahatan, maka ia mulai mencela (dan dengan demikian memperbaiki) dirinya sendiri. Kemudian ia disebut an-nafs al-lawwamah atau jiwa yang mencela.

… dan aku bersumpah demi jiwa yang mencela dirinya sendiri…

Manakala jiwa ini benar-benar sudah disucikan dan mencapai kebahagiaan atau cinta Allah, maka iapun mengembangkan fakultas atau kemampuannya untuk berbuat baik dan benar, dan bukan lagi menjadi sumber kejahatan. Ia sudah memperoleh sifat-sifat malakutinya, serta melakukan apa yang diperintahkan oleh Allah. Yang tidak pernah menolak dari melakukan perintah-perintah yang mereka terima dari Allah, tapi mereka mengerjakan apa yang mereka diperintahkan kepada mereka. Nafs ini kemudian menjadi sumber yang darinya mengalir semua amal kebaikan dan pikiran-pikiran baik. Demikianlah Khawaj Baha’uddin Naqsyaband mengatakan:

Kini, aku memiliki dari sedemikian sehingga jika aku tidak mematuhi perintah-perinyahnya, maka yang demikian itu berarti bahwa aku tidak mematuhi Allah.

Disini khawaja menyinggung-nyinggung jiwa tersebut diatas. Jiwa itu disebut an-nafs al-muthma’innah atau jiwa yang tenang, yang disebut-sebut dalam al-Quran demikian:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ . ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً

…Wahai jiwa yang tenang kembalilah! kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai olehnya…[4]

Meski dicatat bahwa jiwa tungal sajalah yang diseru dan dipanggil dengan nama-nama yang berbeda, dengan menunjukkan tahap-tahap perkembangnnya yang berbeda serta menegaskan berbagai macam sifatnya. Begitu pula, dalam terminology dokter, jiwa yang sama, seperti embun lembut, disebut jiwa hewani dalam qalbu, jiwa sensual dalam hati, dan jiwa fisik dalam otak. Perubahan nama-nama itu disebabkan oleh perbedaan sifat-sifat, sementara objek yang dinamainya sama belaka.

Pada dasarnya dalam kalangan para salik dan sufi, tarekat merupakan organisasi yang memiliki tujuan yang satu, yaitu taqarrub kepada Allah.[5] Akan tetapi sebagai organisasi para salik yang kebanyakan diikuti masyarakat awam, dan para talib al-mubtadin, maka akhirnya dalam tarekat terdapat tujuan-tujuan lain yang diharapkan dapat mendukung tercapainya tujuan pertama dan utama tersebut. Sehingga secara garis besar dalam tarekat terdapat tiga tujuan yang masing-masing melahirkan tata cara dan jenis-jenis amaliyah kesufian. Diantara ketiga tujuan pokok tersebut ialah Tazkiyat an-nafs:

Tazkiyat Al-Nafs atau pencucian jiwa adalah suatu upaya atau pengkondisian jiwa agar merasa tenang, tentram dan senang berdekatan dengan Allah (ibadah), dengan penyucian jiwa dari semua kotoran dan penyakit hati atau penyakit jiwa. Tujuan ini merupakan persyaratan yang harus dipenuhi oleh seorang salik atau ahli tarekat. Bahkan dalam tradisi tarekat, tazkiyat al-Nafs ini dianggap sebagai tujuan pokok. Dengan bersihnya jiwa dari berbagai macam penyakitnya akan secara otomatis menjadikan seseorang dekat kepada Allah. Proses dan sekaligus tujuan ini dilaksanakan dengan merujuk kepada firman Allah Swt:

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا . فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا . قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا . وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

Artinya: Dan demi jiwa dan penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan celakalah bagi orang yang mengotorinya. 

Tazkiyat al-Nafs ini pada tataran prakteknya, kemudian melahirkan beberapa metode yang merupakan amalan-amalan kesufian, seperti zikir, ‘ataqah, menetapi syari’at, dan mewiridkan amalan-amalan sunnah serta berperilaku zuhud dan wara’. [6]

a. Zikr

Zikr berasal dari perkataan ‘’zikrullah’’. Ia merupakan amalan khas yang mesti ada dalam setiap tarekat. Yang dimaksud dengan zikr dalam suatu tarekat ialah mengingat dan menyebut nama Allah, baik secara lisan maupun secara batin (jahri dan sirri atau khafi). Di dalam tarekat, zikr diyakini sebagai cara yang paling efektif dan sfisien untuk membersihkan jiwa dari segalam macam kotoran dan penyakit-penyakitnya. 

b. ‘Ataqah atau fida’ akbar 

‘Ataqah atau penebusan ini dilakukan dalam rangka membersihkan jiwa dari kotoran atau penyaki-peyakit jiwa. Bahkan cara ini dilakukan oleh sebagian tarekat sebagai penebus harga syurga, atau penebus pengaruh jiwa yang tidak baik (untuk mematikan nafsu). 

Bentuk dari cara ini atau ‘ataqah adalah amalan yang dilakukan secara serius seperti membaca surah al-Ikhlas sebanyak 100.000 atau membaca kalimat tahlil sebanyak 70.000 kali, dalam rangkaian penebusan nafsu amarah atau nafu-nafsu yang lain dan biasanya dilaksankan oleh masyarakat santri pulau jawa untuk orang yang sudah meninggal dunia. 

c. Mengamalkan syariat

Dalam tarekat yang kebanyakan merupakan jam’iyyah para sufi suni, menetapi syari’at merupakan bagian dari tasawuf (meniti jalan mendekati kepada Tuhan). Karena menurut keyakinan para sufi sunni, justru prilaku kesufian itu dilaksanakan dalam rangka mendukung tegaknya syari’at. 

d. Melaksanakan amalan-amalan sunnah

Diantara cara untuk membersihkan jiwa, yang diyakini dapat membantu untuk membersihkan jiwa dari segala macam kotoran dan penyakit-penyakitnya adalam amalan-amalan sunnah. Sedangkan dari amalan- amalan tersebut yang diyakini memiliki dampak besar terhadap proses dan sekaligus hasil dari tatkiyat al-nafs adalam membaca al-Quran dan menghayati isi kandungannya, melaksanakan sholat malam, berzikir disepanjang hari, memperbanyak puasa sunnah serta bergaul dengan orang-orang yang shaleh. 

e. Berprilaku zuhud dan wara’

Kedua prilaku sufharistik ini akan sangat mendukung upaya tazkiyat al-nafs, karena prilaku zuhud adalah tidak ada ketergantungan hati pada harta, dan wara’ adalah sikap hidup yang selektif, orang yang berprilaku demikian tidak berbuat sesuatu, kecuali benar-benar halal dan benar-benar dibutuhkan. Dan rakus terhadap harta akan mengotori jiwa demikian juga banyak berbuat yang tidak baik, memakan yang syubhat dan berkata sia-sia akan memperbanyak dosa dan menajauhkan diri dari Allah, karena melupakan Allah.[7]

Upaya penyucian jiwa - Roh atau jiwa juga bisa menjadi kotor akibat memakan makanan haram, lisan yang mengeluarkan kata-kata lucah dan ugkapan-ungkapan yang menyakiti isi hati orang, telinga yang mendengar fitnah dan mengupat orang, tangan yang melakukan perbuatan yang tidak baik, kaki yang pergi ketempat maksiat atau mengikuti langkah-langkah orang zalim, kemaluan yang melakukan zina dan sebaginya.[1] Maka butuh penyucian diri untuk membersihkan kotoran tersebut melalui jalan yang sangat sulit dan mustahil dilakukan oleh manusia tanpa mendapatkan karunia dari Allah. Oleh karena itu ada dua hal yang harus dilakukan yaitu bersungguh-sungguh dalam menyucikan diri dan berdoa kepada Allah agar diberikan kemampuan dalam meyucikan diri serta konsisten dalam pelaksanaannya. Sebagai mana dikatakan oleh Dr. Mir Valiuddin dalam bukunya Contemplative Disciplines in Sufism: 

Duhai! Barang siapa tidak berusaha keras, maka ia tidak akan pernah mendapatkan pembendaharaan.[2]

Ada beberapa upaya untuk menyucikan diri yaitu memaafkan dan melapangkan hati terhadap orang yang melakukan perbuatan jelek kepada kita, tidak mengikuti langkah-langkah setan karena setan adalah zat yang selalu mengajak kepada perbuatan keji dan kemungkaran, tidak senang menyebarkan kejelekan yang dilakukan orang-orang beriman dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan keji baik secara langsung ataupun tidak, menjaga lisan dari menuduh orang lain atau mengatakan sesuatu yang menyakiti hati orang-orang yang beriman, kecuali memiliki bukti-bukti yang kuat. Inilah beberapa perkara yang berkaitan dengan menyucikan diri (tazkiyatun nafs) yang kita petik dari beberapa ayat al-Quran. 

Objek tazkiyat Al-Nafs - Said hawwa dalam bukunya Tazkiyatun Nafs membagikan kriteria penyakit-penyakit yang harus disucikan dari diri manusia. 
  1. Penyakit-penyakit hati yang disebabkan perbuatan syirik dan cabang-cabangnya. Allah berfirman yang artinya:’’Dan perumpamaan kalimat yang buruk [3] seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun. (QS.Ibrahim: 28). Sesungguhnya perbuatan syirik memiliki cabang-cabang yang cukup banyak, diawali dari menyembah selain Allah, yaitu kepada perbuatan-perbuatan yang sesat dan perilaku-perilaku yang jelek seperti dengki, sombong, sekutu dengan setan sehingga upaya utama yang harus dilakukan dalam penyucian diri ialah menghilangkan kemusyrikan dan cabang-cabangnya dalam hati. 
  2. Terkadang, hati seseorang ditutupi oleh kegelapan yang disebabkan oleh perbuatan-perbuatan keji seperti munafik, kufur, fasik, keraguan atas kebenaran dan dosa-dosa lainnya. Oleh karenanya upaya yang harus dilakukan dalam penyucian diri ialah dengan menghilangkan semua kegelapan yang ada dalam hati yaitu dengan memasukkan cahaya ilahi sehingga hati nya bercahaya dengan kebenaran. 
  3. Dalam setiap jiwa manusia terdapat syahwat, sedangkan syahwat memiliki kategori yang cukup banyak, diantaranya adalah syahwat secara lahiriah (hissi) dan syahwat secara maknawi. Syahwat secara kahiriah misalnya senang makan dan minum. Syhwat secara ma’nawiah misalnya pendendam, senang dengan kedudukan, mau menang sendiri. Sebagian dari syahwat itu ada yang diperbolehkan seperti keinginan untuk menikah agar melaksanakan syahwat berhubungan badan dengan lawan jenis dan ada sebagian syahwat yang diharamkan seperti syahwat untuk berjudi, berzina, korupsi dan lainnya. Oleh karena itu, syahwat-syahwat yang diharamkan atau yang dikerjakan itu mengandung hukum haram, maka ini merupan bagian yang harus dihilangkan dalam upaya menyucikan diri (tazkiyatun nafs).
  4. Adapun bagian yang harus dibersihkan dalam upaya penyucian diri selanjutnya yaitu penyucian diri dari penyakit hati dan jiwa seseorang yang terkadang mengalami penyakit, seperti sakitnya badan, sakit yang terdapat dalam hati, seperi sombong, suka membanggakan diri, dengki, menipu, dan dendam. 
Inilah 4 objek penyucian jiwa yang harus di bersihkan, Barang siapa yang megetahui beberapa poin diatas, maka ia akan mengetahui bagaimana pentingnya penyucian diri (tazkiyatum nafs). SEKIAN.

DAFTAR PUSTAKA
  • Penerjamah M.S.Nasrullah, diterjemahkan dari Contemplative Disciplines in Sufism, karya: Dr. Mir Valiuddin, Bandung; Pustaka Hidayah, 1996.
  • Penerjamah, Irwan kurniawan, diterjemahkan dari Rawdah ath-Thalibin wa Umdah as- Salikin (Pilar-Pilar Rohani) karya Al-Ghazali, Jakarta: Lentera, 1998
  • Wahib Mu’thi, dalam bukunya, Tarekat sejarah Timbulnya, Macam-Macam, dan Ajaran-Ajaran Tasawuf Bandung: Pustaka Hidayah, 1996
  • Drs. Kharisudin Aqib, M.Ag, Al-Hikmah, Surabaya: Dunia Ilmu, 1998
  • Syeh Abdul Qadir al- Jailani, Kesufian Ahli Sufi Singapura: Pustaka National PTE LTD, 1999.
  • Said Hawwa, Tazkiyatun Nafs, penerbit: Darus- Salam, 2005.
ENDNOTE

[1] Penerjamah M.S.Nasrullah, diterjemahkan dari Contemplative Disciplines in Sufism, karya: Dr. Mir Valiuddin, (Bandung; Pustaka Hidayah, 1996), cet. Pertama, hal. 46-47.
[2] Penerjamah, Irwan kurniawan, diterjemahkan dari Rawdah ath-Thalibin wa Umdah as- Salikin (Pilar-Pilar Rohani) karya Al-Ghazali, (Jakarta: Lentera, 1998), cet.1, hal. 41.
[3] QS. 12:53.
[4] QS. 89:27-30.
[5] Karena sebenarnya istilah tarekat sendiri terambil dari kata Tariqat atau metode. Yaitu jalan untuk mendekatkan
diri kepada Allah. Sebagaimana dikutip oleh, Drs Kharisudin Aqib, M.Ag. dari A. Wahib Mu’thi, dalam bukunya, Tarekat sejarah Timbulnya, Macam-Macam, dan Ajaran-Ajaran Tasawuf (cet. 1; bandung: Pustaka Hidayah, 1996), hal. 45.
[6] Drs. Kharisudin Aqib, M.Ag, Al-Hikmah, (Surabaya: Dunia Ilmu, 1998), cet.1, hal. 36.
[7] Drs. Kharisudin Aqib, M.Ag, Al-Hikmah, (Surabaya: Dunia Ilmu, 1998), cet.1, hal. 37.
[8] Syeh Abdul Qadir al- Jailani, Kesufian Ahli Sufi (Singapura: Pustaka National PTE LTD, 1999), cet. 1, hal. 142.
[9] Penerjamah M.S.Nasrullah, diterjemahkan dari Contemplative Disciplines in Sufism, karya: Dr. Mir Valiuddin, (Bandung; Pustaka Hidayah, 1996), cet. Pertama, hal. 48.
[10]  Said Hawwa, Tazkiyatun Nafs, (penerbit: Darus- Salam, 2005), cet.3, hal. 193-195.

Oleh: Alfauzi

SQ Blog - Di kalangan para pecinta sastra tasawuf, nama Jalaluddin ar-Rumi tidak asing lagi. Karya-karyanya tidak hanya diminati oleh masyarkat Muslim, tetapi juga masyarakat Barat. Karena itu, tak mengherankan jika karya sang penyair sufi dari Persia (Iran) yang bernama lengkap Jalaluddin Muhammad bin Muhammad al-Balkhi al-Qunuwi ini berpengaruh besar terhadap perkembangan ajaran tasawuf sesudahnya.

Cinta adalah realitas abadi,
tetapi cinta cenderung memudar dan menghilang,
karena manusia jatuh cinta,
pada pantulan cahaya Sang Kekasih.

Ar-Rumi dilahirkan di Kota Balkh, Persia, pada 30 September 1217 M/604 H dan wafat di Kota Konya, Turki, pada 17 Desember 1273 M/672 H. Sejak kecil, ar-Rumi dan orang tuanya terbiasa hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Keluarganya pernah tinggal di Nisabur, Baghdad, Makkah, Malatya (Turki), Laranda (Iran tenggara), dan Konya. Meski hidup berpindah-pindah, sebagian besar hidup ar-Rumi dihabiskan di Konya yang dahulu dikenal sebagai daerah Rum (Roma). Ar-Rumi memang bukan sekedar penyair, tetapi ia juga tokoh sufi yang berpengaruh pada zamannya.

Ar-Rumi mendapat pendidikan pertama di Anatolia, kemudian mengembara ke beberapa negeri dalam rangka menuntut ilmu. Ia bertemu dengan Fariduddin Attar yang kemudian berkomentar bahwa Jalaludin ar-Rumi akan menyalakan api cinta ketuhanan mengimbau dunia. Kemudian bertemu dengan Majdudin Sana’i al-Ghazali dan amat mengesankan baginya. Dari kedua tokoh sufi ini, Jalaludin ar-Rumi banyak mendapat ilmu dan pengalaman yang amat berharga.

Setalah ayahnya meninggal, ar-Rumi menggantikannya memberi pelajaran dan menduduki kedudukan sebagai ulama. Di waktu menjadi guru itulah ar-Rumi bertemu dengan Syamsuddin al-Tibriz yang menjadikan ar-Rumi berubah total, dari pecinta musik, sastra, seni dan ilmu menjadi cinta kepada tuhan. Syamsuddin al-Tibriz menjadi pemimpin rohani ar-Rumi dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan. Begitu eratnya hubungan ar-Rumi dengan al-Tibriz hingga pertemuan demi pertemuan selalu terjalin dan ia selalu membutiri berbagai hikmah[1].

Jalan cinta sufi adalah jalan cinta yang bukan melalui pemikiran melainkan jalan penghayatan dan pengamalan jiwa tanpa batas. Tuhan didekati melalui cinta dan hanya melalui keagungan dan rahmat Ilahi, maka intisari bersamanya bisa tercapai. Maka Tasawuf dalam ajaran ar-Rumi merupakan jalan untuk sampai pada kesempurnaan. Ia merupakan jalan pembersihan diri sehingga mengantar manusia sampai pada tuhannya. Ada dua ajaran yang cukup menonjol pada tasawuf, yaitu cinta dan kearifan. Dimana ar-Rumi adalah tokoh yang terkemuka dalam hubunganya dengan ajaran cinta. Dalam karya-karya ar-Rumi cinta menjadi tema sentral. Kita akan mudah menemukan ajaran-ajaran cinta dalam tiap karya ar-Rumi, terutama Diwan.[2]

Dan dalam kitab Fihi ma Fihi, ajaran cinta tampak begitu menonjol maka lihat prosa di bawah ini:
Dimana pun engkau, dan dalam keadaan apa pun, berusahalah dengan sungguh-sungguh menjadi seorang pecinta. Tatkala cinta benar-benar tiba dan menyelimutimu, maka engkau akan selalu menjadi pecinta di alam barzakh, saat kebangkitan, dan di dalam surga, se-lamanya menjadi pecinta. 
Ketika engkau menanam gandum, yakinlah bahwa gandum itu akan tumbuh. Dan bahwa gandum akan tetap sama, baik di dalam lumbung ataupun di dalam tungku pemanggang.
Dan dalam pandangan ar-Rumi, hidup di dunia ini harus bisa memanfaatkan apa yang ada pada manusia itu sendiri untuk membentuk jiwa hingga selalu ingat dan menghambakan diri kepada-Nya dan kecintaan yang tumbuh mekar membuat cinta menjadi asyik maksyuk dan dalam tingkat inilah yang membuka segala rahasia yang ada ini.[3] Jadi menurut ar-Rumi, dalam diri harus ditumbuh-mekarkan cinta. Karena cinta itu ada pada semua yang ada. Cinta menjadi alat penggerak segala makhluk menuju cinta abadi. Cinta demikian, meningkat kepada cinta tanpa batas dan bertemu dengan cinta hakiki. Dalam tingkat demikian, ar-Rumi bersenandung:
“Bukan dari adam aku mengambil nasab, Tapi dari debu nan jauh di sana, Jalan yang sunyi sepi tiada berujung…Aku lepaskan diriku dari tubuh dan nyawa Dan aku mulai menempuh hidup baru Dalam roh kecintaan abadi.”
Ar-Rumi juga sering memandang cinta sebagai motif Allah menciptakan sesuatu dengan cara menafsirkan firman Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhamad Saw: “hanya karenamu Aku ciptakan berlapis-lapis langit.” Nabi Muhamad Saw. adalah keutuhan manifestasi cinta, yang melalui dan demi dialah alam diciptakan.

Kecintaan ar-Rumi adalah kecintaan dalam maqam yang tertingi dan telah berada dalam jazab sejati. Ia tidak mengenal batas-batas tertentu dan tenggelam dalam laut ketuhanan. Dalam ajaran ar-Rumi, “cinta pada Tuhan” tidak membuat seseorang menjadi lalai pada manusia. Bahkan menurut ar-Rumi tujuan mendapat Cahaya Tuhan adalah untuk kemanusian[4]. Ar-Rumi bersenandung dalam puisi di bawah ini:
Celakalah orang-orang yang sholat, namun lalai dalam sholatnya. Merekalah orang-orang yang munafik, yang menolak untuk menolong orang yang mem-butuhkan. Ayat itu merangkum semuanya.
Engkau memiliki cahaya, tetapi engkau melalaikan kemanusiaan. Kejarlah kemanusiaan, karena itulah tujuannya. Selebihanya hanyalah gerutan yang tak kunjung habis. Sebab ketika kata-kata sudah terlampau jauh, tujuan yang hendak dicapi mudah untuk dilupakan.
Semua cinta pada hakikatnya milik Allah. Cinta itu baik karena suci, namun ia tetap menjadi tabir yang menyesatkan selama para pecinta tidak mengetahui obyek cinta yang sesungguhnya.

Cinta adalah realitas abadi, tetapi cinta cenderung memudar dan menghilang karena manusia jatuh cinta pada pantulan cahaya Sang Kekasih. Ar-Rumi sering mengingatkan kita bahwa cinta sejati bergantung pada pemahaman. 

Menurut ar-Rumi syarat cinta adalah kemampuan melihat hakikat segala seseuatu. Kewajiaban inilah yang membuat kita memahami kekurangan dan keterbatasan. Kita harus mengakui bahwa kita tidak mengenal hakikat diri kita. Dengan mengetahui kebododhan dan kekurangan kita, kita mengetahui bahwa hanya Allahlah yang Mahasempurna[5].

Singkatnya, cinta kepada Allah tumbuh dari pernyataan keimanan paling mendasar, yakni pandangan tentang keunikan realitas Allah “Tidak ada tuhan kecuali Allah”. Karena cinta merupakan sifat Allah, implikasinya adalah bahwa “Tidak ada pecinta sejati dan kekasih sejati kecuali Allah”. Tatkala pecinta itu melihat segala sesuatu dengan jernih, mereka menemukan bahwa yang mereka cintai adalah makhluk, karena semua makhluk mencerminkan keindahan Allah, dan cinta mereka sendiri mencerminkan cinta Allah. 

Jadi, cinta dalam ajaran tasawuf ar-Rumi adalah cinta kepada Allah yang Maha Sempurna dengan kecintaan yang tulus dan cinta sejati hanya kepada Allah. Karena cinta selain Allah itu hanya cinta pada pantulan cahaya Sang Kekasih yaitu Allah. Ar-Rumi juga menempatkan ajaran tentang cinta kepada Allah pada tingkatan yang tinggi untuk mendapatkan ma’rifat Allah.

ENDNOTE


[1] H.M. Laily Mansur, Ajaran dan Teladan Para Sufi, Jakarta: Raja Grafindo Persada,1996, hal.209
[2] Jami’atul Hikmah, Jalaludin Rumi kearifan Cinta, Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2001, hal.xv
[3] H.M. Laily Mansur, Ajaran dan Teladan Para Sufi, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996, hal. 211
[4] Jami’atul Hikmah, Jalaludin Rumi kearifan Cinta, hal.xix
[5] Wiliam C. Chittick, Tasawuf di Mata Kaum Sufi, terj. Zaimul Am, Bandung: Mizan, 2002, hal.128

Oleh: Shodik





SQ Blog - Di dalam Islam, dikenal tiga landasan penting. Tiga landasan itu ialah syariat, iman dan ihsân. Jika dianalogikan, Islam sebagai media (sarana), iman sebagai prosedur (proses) dan ihsân adalah hasil dari proses itu. dengan demikian ihsân merupakan puncak dari setiap proses penghambaan diri seorang insan kepada penciptanya.

Syaikh Muhyiddin Mistu dan Musthafa Dieb al-Bugha menjelaskan bahwa ihsân ialah ikhlas dan berbuat sebaik mungkin (itqân). Yakni mengikhlaskan semua ibadah hanya untuk Allah dengan menyempurnakan pelaksanaanya seakan-akan melihat Allah saat beribadah. Jika tidak mampu melakukan yang demikian, maka pasti Allah menyaksikan perkara kecil dan besar yang ada pada dirimu.[1]

Sebuah hadis yang diriwatkan oleh Muslim dari sahabat Umar bin Khattab menyebutkan kata ihsân. Potongan hadis itu bermakna: “Ihsân ialah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Namun jika engkau tidak dapat melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” Dari hadis ini dapat dipahami bahwa ihsân merupakan hal yang diperintahkan dalam Islam. Dalam hadis ini juga dinyatakan bahwa ihsân ialah melihat atau seolah-olah melihat Allah. Selain itu, hadis itu juga memberikan pengertian bahwa selain Allah melihat kita, kita juga bisa melihat (merasakan kehadiran) Allah.

Dengan demikian, hadis ini menawarkan tiga tingkatan ihsân: Pertama, kita beribadah dengan penuh keyakinan bahwa Allah tengah melihat kita. Kedua, kita beribadah dengan perasaan seperti (seolah-olah) melihat Allah. Ketiga, kita beribadah dengan merasakan kehadiran Allah. Pandangan ini dapat kita pahami jika melacak kalimat فإن لم تكن تراه فإنه يراك yang berarti “Jika kamu tidak bisa melihat-Nya, maka sungguh Dia tengah melihatmu.”

Seumpama si A berkata kepada si B :“Jika kamu tidak bisa datang, maka tidak apa-apa.” Ini berarti bahwa Si B seharusnya mampu datang jika dia berusaha untuk datang dan menghilangkan semua faktor yang menghalangi kedatangannya. Demikian pula redaksi hadis ini. Jika Nabi bersabda: “Jika kamu tidak mampu melihat-Nya, maka yakinlah bahwa Dia melihatmu.” Berarti Nabi ingin menawarkan kepada sahabatnya dan kita semua tingkatan ihsân yang ketiga yaitu kita mampu melihat (merasakan kehadiran) Allah.

Namun jika kita tidak mampu, maka cukuplah tingkatan ihsân yang kedua, yaitu seolah-olah melihat Allah, atau tingkatan pertama saja, yaitu penuh keyakinan bahwa Allah melihat. Hadis ini juga menunjukkan bahwa bersikap seolah-olah melihat Allah (tingkatan ihsân yang kedua) apalagi sampai melihat-Nya (tingkatan ihsân yang ketiga) bukanlah hal yang mudah. Hal itu memerlukan perjuangan dan ikhtiar yang serius. Karena sangat tidak mudahnya sampai Nabi memberikan alternatif lain yang lebih mudah dan tidak terlalu berat, yakni tingkatan ihsân yang pertama.

Beberapa ulama menerjemahkan redaksi ini dengan memakai takwil. Mereka menerjemahkannya dengan redaksi “Jika kamu tidak bisa (seolah-olah) melihat-Nya, maka sungguh Dia tengah melihatmu.” Terjemahan model demikian tentu memberikan asumsi bahwa tingkatan ihsân hanya dua tingkatan, yakni hanya sampai pada tingkatan seolah-olah melihat Allah. Demikianlah tiga tingkatan ihsân yang ditawarkan oleh Rasulullah untuk diterapkan oleh seluruh umatnya dalam kehidupannya.

Akan tetapi, sebagai orang yang merasakan kehadiran Allah atau seolah-olah melihat Allah, orang yang ber-ihsân bukan hanya memelihara hubungannya kepada Allah, akan tetapi juga sangat memperhatikan hubungannnya dengan sesama insan, bahkan sesama makhluk, dengan kata lain berbudi pekerti yang luhur (akhlak).

Jika melihat keadaan yang nyata, sungguh sudah sangat parah penyakit moral sebagian anak-anak Adam, penghuni bumi ini. Mereka nyaris tak peduli dengan keluhuran budi pekerti. Tak sedikit yang mendalami ilmu pengetahuan dan teknologi, tapi sayang sekali budi pekertinya tidak terdidik. Tak jarang juga pengkaji ilmu agama yang hanya memerhatikan agamnya dari segi ritual saja, tanpa disadari bahwa ternyata buah dari setiap ritual yang dilakukan setiap saat adalah budi pekerti yang luhur, baik terhadap Sang Pencipta, diri sendiri maupun terhadap sesama insan, bahkan sesama makhluk.

Inilah makna ihsân yang sebenarnya. Allah sungguh ingin mengingatkan dan mengangkat kembali derajat manusia bahwa pada dasarnya manusia itu suci, baik dan mulia, dan jika mereka ingin tetap ada sifat-sifat tersebut dalam dirinya maka melalui latihan-latihan spiritual dan pengendalian diri akan bisa menimbulkan kekuatan fitrahnya yang suci, baik lagi mulia itu serta dapat mengalahkan godaan nafsu sehingga keselamatan dan kesejahteraan hidup akan terwujud.

Ketika mempelajari tasawuf ternyata pula al-Quran dan hadis sangat mementingkan akhlak. Al-Quran dan hadis menekankan nilai-nilai luhur seperti kejujuran, kesetiakawanan, persaudaraan, rasa kesosialan, keadilan, tolong-menolong, murah hati, pemaaf, sabar, baik sangka, berkata benar, pemurah, ramah, bersih hati, berani, kesucian, hemat, menepati janji, disiplin, mencintai ilmu, berpikiran lurus dan sebagainya. Nilai-nilai seperti ini yang harus dimiliki oleh seorang muslim, bahkan harus dimasukkan ke dalam dirinya sejak masih balita. Ternyata pula ibadah dalam Islam erat sekali hubungannya dengan pendidikan akhlak.

Ibadah dalam al-Quran dikaitkan dengan takwa yang berarti malaksanakan perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya. Perintah Tuhan berkaitan dengan perbuatan-perbuatan baik sedang larangan-Nya berkaitan dengan perbuatan-perbuatan yang tidak baik. Dengan demikian orang bertakwa ialah orang yang melaksanakan perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya, yakni orang yang berbuat baik dan jauh dari hal-hal yang tidak baik. Inilah yang dimaksud dengan ajaran amar ma’ruf nahi munkar, mengajak orang pada kebaikan dan mencegah dari hal-hal yang tidak baik. Tegasnya orang bertakwa ialah orang yang berakhlak mulia.

Selanjutnya al-Quran dan hadis mengaitkan pelaksanaan ibadah dengan penjauhan diri dari perbuatan yang tidak baik. Allah mengatakan: ”Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.” Demikian pula hadis menjelaskan, Salat yang tidak menjauhkan pelakunya dari perbuatan jahat, sebenarnya bukanlah salat. Hadis Qudsi menyebutkan, salat yang Aku terima hanyalah salat yang membuat pelakunya merendahkan diri terhadap kebesaran-Ku, tidak bersikap sombong terhadap makhluk-Ku, tidak menentang perintah-Ku, tetapi senantiasa mengingat-Ku, menaruh kasih sayang terhadap orang miskin, terlantar, musafir, janda dan orang yang susah.[2]

Dalam hal ibadah salat, kesadaran vertikal spiritual dan aksi sosial itu disimbolisasikan dengan ucapan takbir di permulaan salat dan diakhiri dengan salam seraya menengok ke kanan ke kiri. Keduanya (takbir dan salam) merupakan bahasa performatif dan deklaratif bahwa setiap muslim yang selalu menegakkan salat baru akan bermakna salatnya kalau diiringi dengan sikap kepedulian sosial secara nyata.[3]

Mengenai puasa, hadis mengatakan, Orang yang tidak meninggalkan berkata bohong, maka tiada gunanya ia menahan makan dan minum. Hadis lain menjelaskan, Puasa bukanlah menahan diri dari makan dan minum, tetapi menahan diri dari kata-kata yang sia-sia dan tidak sopan, jika kamu dimaki maka katakanlah: “aku berpuasa.” Ibadah puasa yang diniati sebagai wujud ketaatan kepada Allah namun efeknya harus bermanfaat bagi manusia sehingga di penghujung Ramadan ditutup dengan mengeluarkan zakat fitrah serta mendirikan salat berjamaah dan bermaaf-maafan sembari memperbanyak takbir, tahlil dan tahmid. Setiap muslim diajak meresapi bahwa Yang Maha Agung dan Maha Terpuji hanyalah Allah.

Sertiap muslim bersyukur telah selesai menunaikan ibadah puasa dan dalam waktu yang sama akan merasa malu dan risih di hadapan Allah jika di dalam hatinya masih melekat perasaan bahwa dirinya hebat, besar, berkuasa dan haus akan pujian orang lain. Dalam tradisi kebanyakan orang Indonesia, pada hari lebaran idul fitri setiap orang mengenakan baju baru yang sesungguhnya secara filosofis dimaksudkan sebagai ekspresi atau verbalisasi simbolik dari suasana jiwa yang baru dan serba bersih setelah sebulan melakukan penyucian diri. 

Tentang haji, Allah mengatakan: “Haji adalah beberapa bulan yang ditentukan, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh berkata tidak sopan, mencaci dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.”[4] Berkenaan dengan zakat, sejumlah hadis mengatakan bahwa zakat tidak hanya sebatas pengeluaran harta, tetapi mencakup senyuman kepada sesama, seruan kepada kebaikan dan larangan dari kejahatan, menunjukkan jalan bagi orang tersesat, membuang duri dari jalan umum, memberikan sesuatu pada yang berhajat, menuntun orang yang lemah penglihatannya dan sebagainya.

Semua ayat dan hadis di atas menjelaskan secara gamblang bahwa tujuan utama dari setiap ibadah yang dilakukan adalah hanya untuk membina akhlak, baik ibadah yang termasuk rukun Islam maupun ibadah yang lain. Misalnya dalam hadis yang lain disebutkan bahwa ada seseorang bertanya kepada Nabi tentang seorang wanita yang rajin mendirikan salat serta puasa dan banyak bersedekah, tetapi lidahnya banyak menyakiti hati orang lain, maka Nabi menjawab: “Ia masuk neraka.” Kemudian orang itu bertanya tentang seorang wanita yang sedikit melakukan salat dan puasa serta sedikit pula bersedekah, tetapi tidak pernah meyakiti hati orang lain, maka Nabi menegaskan: “Ia masuk surga.”

Jelas kiranya bahwa tujuan akhir dan utama dari pelaksanaan ibadah adalah pembinaan dan pendidikan akhlak yang mulia, dan bukan semata-mata menjauhkan diri dari neraka dan masuk surga, tetapi tujuan yang di dalamnya terdapat dorongan bagi kepentingan pembinaan akhlak (budi pekerti) yang menyangkut kepentingan masyarakat. Masyatakat yang baik dan bahagia adalah masyarakat yang para anggotanya memiliki akhlak mulia dan budi pekerti yang luhur.[5] Demikianlah betapa tujuan akhir dan utama dari setiap ibadah yang ada hanyalah pada akhlak yang mulia dan budi pekerti yang luhur.

Budi pekerti yang luhur adalah hasil dari setiap ibadah yang ada. Oleh karena itu, seseorang yang taat beribadah di masjid belumlah dikatakan berhasil menjadi orang yang ber-ihsân jika belum memiliki budi pekerti yang luhur, baik terhadap diri sendiri, sesama manusia, maupun terhadap sesama makhluk Tuhan yang lain.

DAFTAR PUSTKA
  • Al-Quran Al-Karim, Kementerian Agama Republik Indonesia.
  • Al-Bugha, Musthafa Died, dan Mistu, Syaikh Muhyiddin, Al-Wafi Syarh Hadits Arbai’in Imam Al-Nawawi
  • Penerjemah: Iman Sulaiman, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2002.
  • Nasution, Harun, Islam Rasional Gagasan dan Pemikiran Harun Nasution , Bandung: Mizan, 1995
  • Hidayat, Komaruddin, Tuhan Begitu Dekat, Jakarta: Paramadina, 2002.
ENDNOTE


[1] Dr. Musthafa Died al-Bugha dan Syaikh Muhyiddin Mistu, Al-Wafi Syarh Hadits Arbai’in Imam Al-Nawawi  Penerjemah: Iman Sulaiman, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2002), Cet. II, hal. 12-15.
[2] Prof. Dr. Harun Nasution, Islam Rasional Gagasan dan Pemikiran Harun Nasution , (Bandung: Mizan, 1995), hal. 57.
[3] Dr. Komaruddin Hidayat,  Tuhan Begitu Dekat, (Jakarta: Paramadina, 2002), Cet. II, hal. 67.
[4] QS. Al-Baqarah: 197.
[5]  Harun Nasution, Islam Rasional , hal. 58-59.

SQ Blog - Berbicara soal cinta saya kira sudah lumrah bagi sobat semua apalagi kaulah para remaja. Namun, pembicaraan cinta kita kali ini kita tilik dari pandangan sufisme. Bagaimana cinta bagi para Sufi? Ternyata cinta bagi kaum Sufi adalah segalanya.

Subyek cinta ketuhanan merupakan salah satu topik yang menyedot perhatian pada masa awal sejarah pergerakan sufi. Para sufisme mengidentifikasikan cinta (‘Ishq) sebagai satu kualitas esensial dari Tuhan sebagaimana disebutkan dalam sejumlah ayat al-Quran. Ayat al-Quran yang menjadi rujukan dan paling sering dikutip untuk hierarki cinta ini ialah surah al-Maidah [5] ayat 54 yang berbunyi “Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya”.

Pada taraf Tuhan, cinta dapat disebut sebagai kekuatan motif bagi aktivitas kreatif Allah. Ibnu ‘Arabi menyatakan “Perkawinan terjadi karena hasrat mendapatkan keturunan, hal itu mirip dengan hasrat Allah pada saat alam belum tercipta. Karena cinta, Dia mengalihkan hasratnya untuk menciptakan".[1] Pada bagian lain, seraya menafsirkan ayat al-Quran, “Dan Dia bersamamu di mana saja kamu berada” (Q.S. al-Hadid [57]: 4), Ibnu Araby menjelaskan bahwa makna cinta Allah untuk dikenal. Cinta-Nya kepada manusia berarti Dia tidak pernah melepaskan perhatian-Nya dari mereka.

Kaum sufi dalam memahami cinta kasih antara Tuhan dengan hamba-Nya dan antara mereka dengan-Nya tidak menyetujui adanya takwil. Ibnu Taimiyah berkata: “Cinta kasih adalah haq dan jelas, pandangan ini disepakati oleh sesama kaum salaf dahulu dari ulama ahlisunnah, ahli hadis, kaum sufi dan lain-lain serta sepakat juga bahwa Allah-lah sumber cinta segala cinta dan padanya terdapat cinta haqiqi.”[2] 

Kaum sufi berpendapat bahwa cinta mereka kepada Allah tidak sebagaimana mencintai manusia. Bagi mereka, cinta merupakan jaringan murni yang memiliki kaitan erat dengan penciptaan di jagat ini dan merupakan rahasia diantara rahasia-rahasia-Nya.[3]

Al-Quran dalam menyebutkan kata al-Hubb (cinta) acapkali dikaitkan dengan cinta Allah kepada manusia dan juga sebaliknya. Firman-Nya, “Wahai Muhammad, katakanlah: jika kalian semua mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian semua dan akan mengampuni dosa kalian” (Q.S. Ali Imran [3]: 31). Ketika menceritakan tentang Nabi Musa as, Allah berfirman, “Dan Aku limpahkan kasih sayang dari-Ku untukmu dan supaya kamu diasuh atas pengawasan-Ku” (Q.S. Thaha : 39).

Adapun yang sasarannya terhadap kaum muslimin keseluruhan ialah, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa” (Q.S. al-Taubah : 4). Sungguhpun demikian, cinta Allah terhadap seorang hamba tidak mungkin disamakan dengan cinta seorang hamba terhadap Allah.

Uraian di atas nampak bahwa pada dasarnya kaum sufi melihat cinta sebagai unsur yang paling mendasar dalam penciptaaan alam dan sebagai penyebab paling dominan dalam penciptaan makhluk. Firman-Nya: “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali menyembah kepada-Ku” (Q.S. Al-Dzariyat : 56). Ibnu Abbas menafsirkan kata al-‘ibadah dengan kata al-Makrifah. Sedang makrifah sendiri merupakan barometer dari cinta seseorang. Oleh karenanya, barang siapa yang banyak mengetahui tentang Allah, maka cintanya juga sejauh pengetahuannya itu.[4] Dalam hal ini kaum sufi berpegangan pada ayat:

“Wahai orang-orang beriman, barang siapa yang salah seorang dari kalian murtad, maka Allah akan mendatangkan suatu kaum dimana Allah akan mencintai mereka dan mereka akan mencintainya”. (Q.S. al-Maidah : 54)

Allah Ta’ala dapat dikenali di alam nyata ini dengan melalui pengenalan sifat-sifat-Nya yang terlihat pada pandangan makhluk-Nya. Semua yang terlihat pada mata kita di dunia ini menunjukkan wujud Tuhan yang seharusnya kita mengenalinya. Untuk melihat Dzat-Nya yang bersifat haq dan qadim tidak mungkin di dunia ini, karena kita tidak terlengkapkan dengan kuasa untuk melihat Dzat-Nya. Insya Allah nikmat ini akan dirasakan oleh orang-orang beriman kelak di akhirat. Jadi, hakikat penciptaan Tuhan agar kita sebagai makhluk mengenali, lalu Menyembah-Nya.

Abu Sa’id al-Maihani, ketika dibacakan penggalan ayat di atas (يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ) berkata: “Demi kebenaran cinta-Nya kepada mereka, maka sesugguhnya tiada Dia mencintai kecuali diri-Nya sendiri". Dalam suatu pengertian bahwa segalanya dan sesungguhnya tidak ada dalam perwujudan selain-Nya. Maka barang siapa yang tidak mencintai kecuali kepada diri-Nya, perbuatan diri-Nya dan ciptaan diri-Nya, dia belum melewatkan cintanya kepada Dzat-Nya.[5] Begitulah kaum sufi dalam melihat alam semesta.

Mereka melihat cinta sebagai undang-undang yang mengatur wujud, disamping sebagi sebab dari wujudnya jagad raya ini. Cinta merupakan sulaman yang membuat kehidupan terbentang luas dengan diwarnai kemulian. Kaum sufi berpandangan, Allah telah menciptakan manusia dengan kekhususan cinta-Nya sekaligus memberikan sebagian cinta-Nya kepada mereka.[6]

Terkait keterangan di atas, ahli sufi ada yang mengatakan bahwa aku mengenali Allah dengan Allah, yaitu pengenalan yang berlaku dalam cahaya-Nya dengan cahaya-Nya dan hakikat penciptaan manusia itu adalah rahasia cahaya itu.[7] Di kalangan sufi, istilah cahaya (nûr) biasanya dinisbahkan kepada Muhammad Saw, sehingga menjadi ungkapan Nur Muhammad atau Haqiqah Muhammadiyah. Nur Muhammad dalam filsafat tasawuf ialah paham bahwa yang pertama diciptakan Allah adalah Nur Muhammad dan dari Nur Muhammad inilah segala yang lain diciptakan.

Falsafah Nur Muhammad pertama kali dicetuskan oleh seorang sufi bernama Sahl Abdullah al-Tusturi selanjutnya dikembangkan oleh al-Hallaj, Ibnu ‘Araby dan Abdul Karim al-Jili.[8] Ar-Rumi juga memandang cinta sebagai motif Allah menciptakan sesuatu dengan cara menafsirkan firman Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad Saw: “Hanya karenamu aku ciptakan berlapis-lapis langit”. Nabi Muhammad Saw adalah keutuhan manifestasi cinta yang melalui dan demi dialah alam diciptakan. Dalam syairnya, al-Rumi mengungkapkan:[9]
Cinta mendidihkan laksana buih,
Cinta meluluhlantahkan gunung menjadi pasir.
Cinta menghancurkan langit beratus keping
Cinta mengguncang bumi.
Cinta murni diberikan kepada Muhammad

Karena cinta, Allah berfirman kepadanya, “hanya untukmu”.
Karena hanya dialah tujuan cinta
Dia mengungguli semua nabi.
“Jika bukan karena cinta yang murni,
Mengapa Aku ciptakan langit?”
“Kuletakkan anak tangga langit di ketinggian
Karena itu kamu dapat memahami tangga-tangga cinta”.
Sepanjang sejarah, pembahasan Nur Muhammad pasti berkait-berkelindan dengan pembicaraan tentang kejadian atau penciptaan alam. Dalam kaitan ini, sangat boleh jadi Nur Muhammad dapat dipersentuhkan dengan teori Plotinus tentang asal-usul alam semesta. Alam dipandang sebagai wujud yang dihasilkan atau dipancarkan dari hakikat kesejatian Tuhan secara kekal. Alam tidak lagi dipandang sebagai wujud yang diciptakan dari materi yang ada sejak semula; kekal bersama-sama dengan Tuhan sebagaimana pandangan Plato.

Alam juga tidak lagi dipandang sebagi wujud keseluruhan dan kesempurnaanya kekal bersama-sama dengan Tuhan sebagaiman anggapan Aristoteles.[10] Nur Muhammad sejatinya adalah nur Ilahi sebagai manifestasi cinta-Nya yang melalui dia dan demi dialah segala sesuatu diciptakan. Nur Muhammad sebagai daya kosmik yang mengatur segala yang ada di dunia ini. Dalam hubungan ini, R.A. Nicholson menjelaskan:
“Tentu saja Tuhan adalah pencipta dunia, tetapi ia tidak lagi memerintah dunia dalam arti langsung. Ia bersifat transenden mutlak dan karena gerakan dan lapis-lapis langit tidak sesuai dengan kesatuannya, maka fungsi ini ditugaskan kepada seorang yang memerintah lapisan-lapisan itu, yaitu Muta. Muta tidak identik dengan Tuhan karena ia harus seorang ciptaan... (Ia) mewakili jiwa arketip dari Muhammad sebagai manusia luhur yang diciptakan sesuai dengan banyangan Tuhan, dianggap sebagai suatu daya kosmik tempat bergantung tata susunan dan pemeliharaan alam semesta”.[11]
Patut dicatat bahwa bagaimana pun juga kultur Yunani memiliki sebuah pengaruh yang menonjol terhadap pertumbuhan peradaban Islam termasuk dalam konteks ini. Namun menarik untuk mengutip pandangan Ibrahim Madzkor, yakni “Dunia Islam mampu menyusun filsafat untuk dirinya sendiri yang berjalan seiring dengan nilai pokok agama dan kondisi sosialnya. Tidak sesuatu pun yang dapat lebih menolong untuk mengenal dan mengetahui hakikat filsafat ini kecuali harus mempelajari dan menjelaskannya”.[12]

Terlepas dari uraian ini, Allah menciptakan dunia melalui cinta. Karena itu, cinta menghasilkan keragaman yang memenuhi alam semesta. Dia tidak pernah berhenti mencintai makhluk ciptaan-Nya. Dengan demikian, Dia tidak pernah berhenti menciptakan mereka dan ini membuat alam semesta selalu berada dalam sifat perubahan dan pasang surut. Segalanya berbaur dalam cinta karena sifat kasih sayang Allah-lah yang menciptakan mereka.[13]

Para sufi berkata bahwa semua hal mengenai makhluk di alam ini adalah tanda keesaan Tuhan. Ketika kita melihat angsa yang cantik, burung yang terbang tinggi, atau cahaya rembulan berarti kita melihat tanda-tanda keberadaan Tuhan ketika kita menghargai makhluk ciptaan Tuhan, baik itu manusia, tanaman, ataupun binatang, kita berarti menghargai Tuhan. Muhammad bin Wasi berkata, “Saya tidak pernah sekalipun melihat sesuatu tanpa melihat Tuhan di dalamnya”.[14]

Nabi Saw bersabda, “Allah Mahaindah dan Dia mencintai keindahan”. Ini adalah hadis shahih. Jadi, Dia menjelaskan diri-Nya sendiri sebagai pencinta keindahan dan Dia mencintai alam semesta. Dengan demikian, tidak ada yang lebih indah daripada alam semesta. Dialah yang Mahaindah karena secara intrinsik keindahan merupakan sesuatu yang dicintai, keseluruhan alam semesta mencintai Allah. Keindahan artistik merambah ciptaan-Nya, sementara alam semesta merupakan perbendaharaan tempat Dia bermanifestasi. Karena itu, cinta terhadap satu bagian alam semesta demi bagian yang lain bersumber dari cinta Allah kepada Dzat-Nya sendiri.

Sebagaimana diketengahkan di atas, Allah mengundang kita untuk mencintai-Nya. Ia membuka sifat-sifat-Nya yang merupakan sebuah sarana bagi cinta kita untuk tumbuh terhadap-Nya seperti kesempurnaan, keindahan dan kemurahan-Nya. Sejak dini, Allah telah melimpahkan cinta-Nya kepada kita tatkala bersaksi dalam rahim ibu kita sebagaimana dilukiskan dalam al-Quran: “Bukankan Aku Tuhanmu?, ya, kami benar-benar memberikan kesaksian” (Q.S. al-A’raf [7]: 172). Jiwa kita dilimpahi nur ketika pertanyaan tersebut diajukan. Juga ketika cahaya muncul, ia memperlihatkan apa yang mengelilinginya. Namun demikian, cahaya firman-Nya memanifestasi pada jiwa kita berupa kesempurnaan, keindahan, dan keagungan kekuasaan-Nya berkaitan dengan ketergantunag total kita kepada-Nya.[15]

Setelah jiwa-jiwa kita diberi minuman dalam cinta Allah dengan pelimpahan cahaya tersebut, kita keluar dari tempat kita dalam ruang batin dan singah di bumi untuk manggapai prestasi cinta yang hebat. Disinilah jiwa-jiwa kita dianugerahi dengan beragam sarana untuk mengembangkan anugerah cinta. Kita juga dianugerahi dengan organ-organ seperti hati, otak, mata, dan limpa-limpa lain untuk mengekspresikan cinta dan untuk memenuhi kebutuhan cinta tersebut melalui sikap melayani dan patuh.[16]

Sungguhpun demikian, hasil yang dicapai setiap orang yang berjuang di jalan cinta ini, secara nyata tidaklah sama bahkan sebagian yang lain ada melupakan akan persaksiaannya di hadapan Allah sebagaimana disebutkan di atas. Kekayaan cinta muncul dalam bentuk yang berbeda pada para pecinta yang berbeda. Keberhasilan tergantung pada usaha dan takdir sesorang.

Ibnu ‘Araby terlebih lagi ar-Rumi, selalu mengingatkan para pembacanya bahwa cinta kepada makhluk haruslah merupakan cinta karena Allah. Hanya kebodohanlah yang menghalangi manusia dari memahami hakikat cinta. Olehnya, harus dipahami bahwa cinta pada hakikatnya milik Allah. Maka cinta itu baik karena suci, namun tetap menjadi tabir yang menyesatkan selama para pecinta tidak mengetahui objek cinta yang sesungguhnya. Wallahu A'lam

DAFTAR PUSTKA
  • Burhani, Ahmad Najib. Sufisme Kota, Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, cet I, 2001
  • Saad, Thiblawy Mahmud. Tasawuf menurut Ibnu Taimiyah terjemahan Ahmad Fauzi Hamid, Kuala Lumpur: Darul Nu’man, cet I, 1995
  • Bahjat, Ahmad. Pledoi Kaum Sufi terjemahan Hasan Abrori, Surabaya: Pustaka Progressif, cet. I, 1997
  • Al-Kubby, Zuhair Syafiq. Imam al-Ghazali berbicara tentang Mahabbah, Rindu, tenteram dan Ridha, Semarang: Surya Angkasa, cet. I, 1995
  • Jailani, Abdul Qadir. Rahasia Sufi, Singapura: Pustaka Nasional PTE LTD, cet. II, 1999
  • Sahabuddin, Nur Muhammad: Pintu Menuju Allah, Ciputat: Logos Wahana Ilmu, cet. II 2002
  • Chittick, William C. Tasawuf di Mata Sufi, Bandung: Mizan, cet. I, 2002
  • Azim Jamal, Menemukan Keagungan Tuhan dalam Hidup Korporasi Kita
  • Iqbal, Muhammad. The Achievement of Love: Metode Sufi Meraih Cinta Ilahi, Depok: Inisisasi Press, cet. I, 2002
ENDNOTE


[1] Ahmad Najib Burhani, Sufisme Kota (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2001), cet I, hal. 135
[2] Thiblawy Mahmud Saad, Tasawuf menurut Ibnu Taimiyah terjemahan Ahmad Fauzi Hamid (Kuala Lumpur: Darul Nu’man, 1995), cet I, hal. 234-235
[3] Ahmad Bahjat, Pledoi Kaum Sufi terjemahan Hasan Abrori (Surabaya: Pustaka Progressif, 1997), cet. I, hal. 49
[4] Ibid, hal. 49-50
[5] Zuhair Syafiq al-Kubby, Imam al-Ghazali berbicara tentang Mahabbah, Rindu, tenteram dan Ridha (Semarang: Surya Angkasa, 1995), cet. I, hal. 64-65
[6] Ahmad Bahjat, Pledoi Kaum Sufi terjemahan Hasan Abrori (Surabaya: Pustaka Progressif, 1997), cet. I, hal. 49
[7] Abdul Qadir Jailani, Rahasia Sufi (Singapura: Pustaka Nasional PTE LTD, 1999), cet. II, hal. 108
[8] Sahabuddin, Nur Muhammad: Pintu Menuju Allah (Ciputat: Logos Wahana Ilmu, 2002), cet. II, hal.36-37
[9] William C. Chittick, Tasawuf di Mata Sufi (Bandung: Mizan, 2002), cet. I, hal. 121-122
[10] Sahabuddin,  Nur  Muhammad:  Pintu  Menuju Allah   (Ciputat:  Logos  Wahana  Ilmu, 2002), cet. II, hal. 47
[11] Ibid, hal. 45-46
[12] Ibid, hal. 48
[13] William C. Chittick, Tasawuf di Mata Sufi (Bandung: Mizan, 2002), cet. I, hal. 122
[14] Azim Jamal, Menemukan Keagungan Tuhan dalam Hidup Korporasi Kita, hal. 204
[15] Muhammad Iqbal, The Achievement of Love : Metode Sufi Meraih Cinta Ilahi (Depok: Inisisasi Press, 2002), cet. I, hal. 13
[16] Ibid, hal 14

DISINI : pdf DOWNLOAD
Oleh: Hasrul

SQ Blog

{picture#https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEimSap9ccYY8FQp44yNvjVK6lRtOVpD-gpVKKWSk__oyc8ChkbooHIuh52uDXiZGchcOoPlIazgMEjOjQ5r0b-DftM48h8gDub2yWyKzDdH1VSYDrsmbf1qfYgl5hKaEuiAW8WAQeTmErDqcHjIm3C4GJKWRJv52o5uHAW10S2gOWj4o8nMsdahVxSo/s500/sq%20vlog%20official%20logo%20png%20full.png} SQ Blog - Wahana Ilmu dan Amal {facebook#https://web.facebook.com/quranhadisblog} {youtube#https://www.youtube.com/user/Zulhas1}

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.