Articles by "Tokoh"

Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

SQ Blog - Al-Quran menyampaikan pesan-pesannya dengan gaya bahasa yang menarik perhatian, termasuk melalui kisah-kisah yang menakjubkan. Di antara kisah tersebut disebutkan dalam surat Yasin ayat 13 samapi ayat 27.

[tab] [content title="Surat Yasin"]Ayat 13-27[/content] [content title="Lihat Ayat"]وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا أَصْحَابَ الْقَرْيَةِ إِذْ جَاءَهَا الْمُرْسَلُونَ (13) إِذْ أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوا إِنَّا إِلَيْكُمْ مُرْسَلُونَ (14) قَالُوا مَا أَنْتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا وَمَا أَنْزَلَ الرَّحْمَنُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَكْذِبُونَ (15) قَالُوا رَبُّنَا يَعْلَمُ إِنَّا إِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُونَ (16) وَمَا عَلَيْنَا إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ (17) قَالُوا إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهُوا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ (18) قَالُوا طَائِرُكُمْ مَعَكُمْ أَئِنْ ذُكِّرْتُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ (19) وَجَاءَ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ رَجُلٌ يَسْعَى قَالَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ (20) اتَّبِعُوا مَنْ لَا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُونَ (21) وَمَا لِيَ لَا أَعْبُدُ الَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (22) أَأَتَّخِذُ مِنْ دُونِهِ آلِهَةً إِنْ يُرِدْنِ الرَّحْمَنُ بِضُرٍّ لَا تُغْنِ عَنِّي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا وَلَا يُنْقِذُونِ (23) إِنِّي إِذًا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (24) إِنِّي آمَنْتُ بِرَبِّكُمْ فَاسْمَعُونِ (25) قِيلَ ادْخُلِ الْجَنَّةَ قَالَ يَا لَيْتَ قَوْمِي يَعْلَمُونَ (26) بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي وَجَعَلَنِي مِنَ الْمُكْرَمِينَ (27)[/content] [/tab]

Mengawali kisah ini, Allah SWT berfirman dalam surat yasin ayat 13-14:

Artinya: Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka. Ketika kami mengutus kepada mereka 2 orang utusan lalu mereka mendustakan keduanya. Kemudian kami kuatkan dengan utusan ketiga, dan utusan-utusan itu berkata, sesungguhnya kami kepada kamu adalah utusan-utusan. (Q.S. Yasin 13-14)

Ayat tersebut menyapaikan kisah tentang penduduk suatu negeri yang terjadi sebelum di utusnya nabi Muhammad SAW. Keadaan mereka tidak jauh berbeda dengan keadaan masyarakat Mekkah pada masa Nabi Muhammad SAW, yakni mereka yang menolak risalah kenabian.

Allah SWT memerintahkan Nabi, sampaikanlah kepada mereka, kaum musyrikin Mekkah dan siapa saja yang serupa dengan mereka, kabarkan kepada mereka tentang kisah yang menakjubkan agar mereka dapat mengambil pelajaran di dalamnya, agar beriman dan takut jangan sampai mengalami nasib yang sama dengan penduduk negeri tersebut yang diazab Allah karena menolak tuntunan-tuntunannya.

Al-Qaryah, negeri yang dimaksud dalam ayat tersebut, para mufassir ada yang menyebutkan bernama Antiokiah, sebuat kota yang terketak di Turki saat ini. Sebagian pendapat menyebutkan di tempat lainnya. Namun yang jelas, dimanapun tempat tersebut, negeri itu dihancurkan oleh Allah karena menolak tuntunan-tuntunannya yang dibawa oleh para Rasul atau utusan-utusannya.

Sahabat SQ Blog yang berbahagia

Penduduk negeri tersebut menolak tuntunan-tuntunan Allah, tidak mengakui kerasulan, dan tidak percaya bahwa ada tuntunan yang Allah turunkan kepada umat manusia. Mereka berkata:

Kalian, hai yang mengaku Rasul, tidak lain hanyalah manusia biasa seperti kami. Dan Ar-Rahman tidaklah menurunkun sesuatu pun, kalian hanyalah berdusta. (Q.S. Yasin 15)

Mendengar ucapan dan melihat sikap pembangkang negeri tersebut, para utusan itu menjawab singkat penuh percaya diri:

Tuhan kami mengetahui bahwa kami adalah utusan-utusan kepada kalian. Dan tugas kami tidak lain hanya menyampaikan tuntunan-tuntunan dengan jelas. (Q.S. Yasin 16-17)

Sahabat SQ Blog yang berbahagia

Meskipun demikian jelas uraian dan argumentasi ketiga utusan itu, penduduk negeri tersebut bahkan sama sekali tidak membiarkan ketiganya berada di tengah mereka. Penduduk negeri tersebut mengusir ketiga utusan itu sambil berkata:

Sungguh benar-benar kami mengalami nasib kesialan karena kedatangan kalian dan ajaran yang kalian bawah. Jika kalian tidak berhenti dari mengajak kami untuk beriman kepada Allah niscaya kami akan merajam kalian, dan kalian akan mendapatkan azab yang pedih dari kami. (Q.S. Yasin 18) Kata penduduk negeri tersebut.

Para utusan itu berkata:

Sungguh keburukan yang kalian anggap kesialan itu disebabkan oleh perbuatan kalian sendiri. Apakah karena kami mengajak kalian untuk beriman kepada Allah, agar kalian mendapatkan kebahagiaan lalu kalian anggap itu sebagai sebab kesialan? Sesungguhnya kalian adalah kaum yang melampaui batas. (Q.S. Yasin 19)

Sahabat SQ Blog yang berbahagia

Demikianlah penduduk negeri tersebut memperlakukan ketiga utusan itu. Keadaan mereka pun tersebar dimana-mana. Hingga akhirnya:

Datanglah dari ujung kota seorang laki-laki beriman. (Q.S. Yasin 20)

Hatinya tergugah melihat sikap kaumnya memperlakukan ketiga utusan itu. Ia berkata kepada kaumnya:

Ikutilah utusan-utusan itu. Ikutilah mereka yang tidak seorang pun diantara mereka meminta kepada kamu walau sedikit imbalan pun, sedang mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S. Yasin 21)

Seorang laki-laki beriman yang datang dari ujung kota itu, ada yang menyebutkan beliau adalah Habib An-Najjar. Siapa pun namanya atau orangnya, yang jelas ayat ini menunjukkan betapa tulus yang bersangkutan karena ia datang dari jauh untuk membela utusan-utusan itu sekalipun harus mengorbakan nyawa dan jiwanya.

Sahabat SQ Blog yang berbahagia

Habib An-Najjar pun dihina, dicela, dan dimaki oleh penduduk negeri tersebut. Setelah mendengar hinaan dan cacian mereka, Habib An-Najjar berkata:

Bagaimana mungkin aku tidak beriman kepada Allah yang telah menciptakan aku, dan hanya kepadanya aku kembali. (Q.S. Yasin 22)

Habib An-Najjar melanjutkan:

Apakah pantas aku menjadikan selain Allah sebagian tuhan-tuhan, jika Ar-Rahman menghendaki kepada diriku suatu bencana, niscaya tidaklah berguna syafaat tuhan-tuhan selain-Nya sedikitpun. Dan tidak dapat menyelamatkan aku. (Q.S. Yasin 23)

Sungguh aku kiranya jika seperti itu, pasti berada dalam kesesatan yang nyata. (Q.S. Yasin 24) Oleh karenanya, sekali lagi kusampaikan wahai penduduk negeri, sesungguhnya aku telah beriman kepada Allah yang juga merupakan Tuhan kalian. (Q.S. Yasin 25)

Sahabat SQ Blog yang berbahagia

Mendengar keberanian Habib An-Najjar dengan nasehat-nasehatnya kepada mereka, penduduk negeri tersebut semakin marah. Mereka pun melempari Habib An-Najjar dengan batu hingga gugur sebagai syahid. Ketika itu, datanglah para malaikat menyambut ruhnya, dikatakan kepadanya oleh para malaikat:

Masukalah kedalam surga, (Q.S. Yasin 26) yakni bergembiralah dengan surga yang kelak engkau akan memasukinya. Mendengar berita gembira itu, sang syahid, Habib An-Najjar yang betapa suci hatinya tidak lagi menaruh dendam walaupun kepada para pembunuhnya berkata:

Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui apa yang kualami ini. (Q.S. Yasin 26) Allah telah mengampuni aku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimulikan. (Q.S. Yasin 27)

Sekiranya mereka mengetahui anugerah yang Allah berikan kepada Habib An-Najjar, niscaya mereka akan beriman dan patuh kepada utusan-utusan itu.

Sahabat SQ Blog yang berbahagia

Demikianlah kisah para utusan itu dan sang syahid, Habib An-Najjar. Di antara pesan hikmah yang bisa diambil dari kisah tersebut ialah:

  • Tuntunan untuk senantiasa taat kepada Allah dan Rasul-Nya
  • Tuntunan untuk mengambil pelajaran dari kisah-kisah para Nabi dan umat sebelumnya
  • Islam memerintahkan untuk percaya kepada taqdir, bukan pada takhayyul dan khurafat
  • Motivasi untuk berbuat baik walaupun pahit, sebagaimana kisah Habib An-Najjar
  • Sorga adalah balasan orang-orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah

SEMOGA BERKESAN

Artikel ini disarikan dari Tafsir Al-Misbah, karya Quraish Shihab.

SQ  Blog - Sobat, moga semuanya sehat wal afiyat. Kali ini admin mengajak untuk membicarakan satu tokoh hadis kontemporer asal Mesir. Menarik untuk mendiskusikan tokoh ini karena pemikirannya banyak mengandung kontroversi, lebih khusus di tanah kelahirannya sendiri, di Mesir. Dia adalah Mahmud Abu Rayyah. Berikut ulasan biografinya kawan.

Latar Belakang Pendidikan Mahmud Abu Rayyah

Mahmud Abu Rayyah dilahirkan di Kafr al-Mandara, di sebuah kota yang bernama Aja, provinsi Dakahlia di Mesir pada tanggal 15 desember tahun 1889 M, bertepatan 21 rabi’ al-tsani 1307 H.[1] Sebagian mengatakan bahwa Abu Rayyah dilahirkan pada tahun 1887 M,[2] dan dikatakan pula tahun 1889 M. Namun, tahun kelahirannya yang lebih masyhur adalah tahun 1889 M dan meninggal tahun 1970 dalam usia 81 tahun.[3] Ibunya meninggal ketika ia masih dalam buain, kemudian ia tumbuh dibawah pengasuhan dan pendidikan ayahnya dan saudara-saudaranya. Perjalanan pendidikannya dimulai di tanah kelahiran sendiri dengan mempelajari ilmu-ilmu agama dan juga ilmu lainnya sampai akhirnya memperoleh gelar sarjana pada tahun 1940 M di Mansoura University.[4]

Pada tahun 1957 M, Abu Rayyah melanjutkan pencarian ilmunya di kota Giza, sebuah kota tempat berdirinya sphinx dan piramida-piramida di Mesir. Tercatat bahwa Abu Rayyah pernah belajar di Madrasah Al-Da’wah wa al-Irsyad, lembaga dakwah yang didirikan oleh Rasyid Ridha pada tahun 1912 di Kairo. Ia juga pernah mengikuti berbagai kursus di sebuah sekolah tinggi teologi di dalam negeri. Kekaguman yang luar biasa terhadap Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha telah ia simpan sejak masa mudanya sehubungan dengan gagasan-gagasan Abduh dan Ridha tentang penolakan terhadap taqlid khususnya taqlid terhadap madzhab.

Abu Rayyah tertarik untuk melakukan penelitian tanpa perlu secara otomatis tunduk kepada teori-teori para ulama atau sarjana yang lebih senior. Merasa tidak puas atas sikap pasif (jumud) para ulama atau sarjana masa itu, serta tidak adanya imajinasi atau inspirasi dalam diri mereka, menjadi tujuan utama Abu Rayyah untuk menerobos rintangan taqlid ini yang dalam pandangannya merupakan penyebab terjadinya kemunduran dalam Islam.[5]

Setelah mengabdikan masa mudanya untuk studi kesusastraan Arab, Abu Rayyah menemukan beberapa hadis Nabi saw yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah yang penafsirannya membuat ia heran.[6] Beliau memiliki kesan bahwa Nabi tidak mungkin pernah mengucapkan kata-kata remeh dan kasar seperti itu, tidak memiliki retorika sebagaimana yang sering dijumpainya dalam berbagai tulisan.[7] Berangkat dari anggapan tersebut, Abu Rayyah kemudian menuangkan pandangan-pandangannyanya dalam Ilmu Hadis, walaupun demikian ia banyak menyandarkan argumen-argumennya dengan Muhammad Abduh dan Rasyid Ridho.

Buku dan Karya-karya Ilmiah Mahmud Abu Rayyah

Mahmud Abu Rayyah merupakan salah seorang penulis modern berkebangsaan Mesir yang banyak mengemukakan pandangannya mengenai ilmu Hadis. Diantara buku dan karya-karya ilmiah Abu Rayyah ialah:[8]
  1. Hadis Muhammad (artikel)
  2. ‘Adwa ala al-Sunnah al-Muhammadiyyah au Difa’a al-Hadis (أضواء على السنة المحمدية او ضفاع عن الحديث)
  3. Syekh al-Madi’rah; Abu Hurairah; (شيخ المضيرة: أبو هريرة)
  4. Al-Sayyid al-Badawy (السيد البدوي)
  5. Hayat al-Qurra’ (حياة القرى)
  6. Rasail al-Rafi’iy (رسائل الرافعي)
  7. Shoihah Jamaluddin al-Afghani (صيحة جمال الدين الأفغاني)
  8. Jamaluddin al-Afghani; Tarihihi wa Risalatihi
  9. Muhammad wa al-Masih Akhawani; Din Allah Wahid ala Alsanah al-Rusul (دين الله واحد علی ألسنة الرّسل ; محمد والمسیح أخَوان)
  10. Qishshah al-Hadist al-Muhammady (قصة الحديث المحمدي)
  11. Wa ma Laki’hi min Ashhabi al-Rasul (وما لقيه من أصحاب الرسول)
Pada 1945, ia pernah menulis sebuah artikel yang berjudul Hadis Muhammad yang memuat pemikirannya tentang hadis yang menyalahi kepercayaan para ulama Al-Azhar. Maka, terjadilah polemik dengan mereka, di antaranya dengan Abu Syahbah yang menyarankan agar ia meralat tulisannya. Akan tetapi, dengan keteguhan pendiriannya, Mahmud Abu Rayyah tidak mengindahkannya, bahkan menolaknya dengan artikel kedua yang tetap mempertahankan pendiriannya.[9]

Abu Rayyah terkenal karya kontroversialnya, yaitu Adwa’ ‘Ala al-Sunnah al-Muhammadiyyah yang mendapatkan banyak tanggapan dari para cendekiawan muslim. Pemikirannya yang terpengaruh oleh orientalis terlihat jelas dalam buku-bukunya tersebut. Di antara orientalis yang menjadi rujukan Abu Rayyah adalah Ignaz Goldziher, orientalis yang pertama kali melakukan kajian hadis dengan karya monumentalnya, Muhammadanische Studien.[10] Buku ‘Adwa ala al-Sunnah al-Muhammadiyyah ini insya Allah admin bahas pada postingan selanjutnya!

SEKIAN
Baca juga:
  • Sekelumit Diskusi Otentisitas Hadis Dulu Hingga Kini
  • 'Adwa ala al-Sunnah al-Muhammadiyah karya Kontroversi Abu Rayyah
  • Posisi Hadis menurut Abu Rayyah
  • Tadwin Hadis dalam Kacamata Abu Rayyah
  • 'Adalah al-Shabah dalam Pandangan Abu Rayyah
  • Kritikan Abu Rayyah terhadap Sahabat Abu Hurairah
ENDNOTE


[1] Murthadho al-Radwa’, Bersama Para Pembaharu di Mesir (T,t: T.p., 1232 H), Cet. I, dalam Wikipedia: https://ar.wikipedia.org/ /w/index.php?title=محمود_أبو_رية
[2] Mus’idul Millah, Mahmud Abu Rayyah (1887-1964) Penggerak Inkar Sunnah? Dalam Yang membela dan Yang Menggugat (Yogyakarta: CSS SUKA Press, 2012), h. 100.
[3] Sochimin, Telaah Pemikiran Hadis Mahmud Abu Rayyah dalam Buku ‘Adwa ala al-Sunnah al-Muhammadiyyah dalam Hunafa, Jurnal Studia Islamika, Vol. 9, No. 2, h. 273.
[4] Artikel “Min A’lami al-Fikri al-Hadis; Abu Rayyah, dalam http://www.adawaanews.net
[5] G.H.A. Juynboll, Kontroversi Hadis di Mesir (1890-1960), (Bandung: Mizan, 1999), h. 59.
[6] Salah satu redaksi Hadis tersebut ialah;
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لَا يَسْمَعَ التَّأْذِينَ فَإِذَا قَضَى النِّدَاءَ أَقْبَلَ حَتَّى إِذَا ثُوِّبَ بِالصَّلَاةِ أَدْبَرَ حَتَّى إِذَا قَضَى التَّثْوِيبَ أَقْبَلَ حَتَّى يَخْطِرَ بَيْنَ الْمَرْءِ وَنَفْسِهِ يَقُولُ اذْكُرْ كَذَا اذْكُرْ كَذَا لِمَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ حَتَّى يَظَلَّ الرَّجُلُ لَا يَدْرِي كَمْ صَلَّى.  (رواه البخاري)
Artinya: “dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika panggilan shalat (adzan) dikumandangkan maka setan akan lari sambil mengeluarkan kentut hingga ia tidak mendengar suara adzan. Apabila panggilan adzan telah selesai maka setan akan kembali. Dan bila iqamat dikumandangkan setan kembali berlari dan jika iqamat telah selesai dikumandangkan dia kembali lagi, lalu menyelinap masuk kepada hati seseorang seraya berkata, 'Ingatlah ini dan itu'. Dan terus saja dia melakukan godaan ini hingga seseorang tidak menyadari berapa rakaat yang sudah dia laksanakan dalam shalatnya.” (H.R. Imam Al-Bukhari)
[7] G.H.A. Juynboll, Kontroversi Hadis Di Mesir (1890-1960), terj. Ilyas Hasan (Bandung: Penerbit Mizan, 1999), h. 59-60; Lihat juga, Mus’idul Millah, Mahmud Abu Rayyah (1887-1964) Penggerak Inkar Sunnah? Dalam yang membela dan yang Menggugat (Yogyakarta: CSS SUKA Press, t.t), h. 101.
[8] Wikipedia: https://ar.wikipedia.org/ /w/index.php?title=محمود_أبو_رية
[9] Zaedmannan, Pemikiran Hadis Kontemporer Mahmud Abu Rayyah, Makalah, Dipostoing tanggal 24 Oktober 2013.
[10] Muh. Munib, Kodifikasi Hadis Perspektif Mahmud Abu Rayyah, Skripsi; Fakultas Ushuluddin Studi Agama dan Pemikiran Islam, 2012, h. 15.

SEKIAN

SQ Blog - Khaled Medhiat Abou el-Fadhl dilahirkan di Kuwait pada tahun 1963 dari sebuah keluarga muslim berdarah Mesir.[1] Dia lahir dalam keluarga yang taat beragama dan sederhana, meskipun begitu keluarga Khaled Abu Fadl sangatlah terbuka dengan hal-hal yang bersifat pemikiran. Pada masa muda, Khaled Abou el-Fadhl dikenal sebagai anak yang cerdas. Sebagaimana tradisi bangsa Arab yang memegang teguh tradisi hafalan, Abou El-Fadhl kecil sudah hafal al-Qur’an sejak usia 12 tahun. Ayahnya yang berprofesi sebagai seorang pengacara, sangat menginginkan Abou El-Fadhl menjadi seorang yang menguasai hukum Islam. Ayahnya sering mengujinya dengan pertanyaan-pertanyaan seputar masalah hukum. [2]

Negara Kuwait pada masa itu bersifat represif dan otoriter. Mereka menyensor bahan-bahan bacaan Masyarakatnya. Pada saat itu paham wahabisme begitu kental dalam masalah pemikiran dan isu-isu agama. Semua buku-buku yang masuk ke negaranya disortir sedemikian rupa untuk menjamin paham lainnya tidak masuk. Sehingga mengakibatan, Abou El-Fadhlyang tumbuh di lingkungan yang bersifat puritan-tradisional.[3] Namun, orang tua Khaled yang shaleh dan terpelajar menawarkan berbagai khazanah keilmuwan Islam dari berbagai aliran kepada Khaled. Sehingga cakrawala berpikirnya tetap terbuka dengan beragam sumber bacaan yang kaya. Dengan bacaan yang luas mengenai tradisi Islam dan dukungan keluarga Khaled mulai menyadari adanya kontradiksi dan persoalan akut di dalam konstruksi ideologis dan pemikiran kaum Wahabi. Klaim mereka atas banyak masalah justru bertentangan dengan semangat ulama masa lalu dalam memandang agama Islam.

Backround Pendidikan Khaled M. Abou El-Fadl

Perjalanan akademik Khaled Abou el-Fadhl dimulai di Kuwait, negeri kelahirannya dengan menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di sana. Dia kemudian melanjutkan pendidikannya ke Mesir. Kesadaran akan pentingnya keterbukaan dalam pemikiran semakin berkembang ketika akhirnya dia menetap di Mesir. Di negeri Piramid tersebut ruang tidak terlalu sesak seperti yang dialaminya di Kuwait. Menurutnya, sebuah sistem kekuasaan yang represif dan otoriter tidak akan pernah melahirkan kemajuan berfikir atau pencerahan intelektual bagi masyarakatnya. Setiap liburan musim panas, Abou El-Fadhl juga menyempatkan menghadiri kelas-kelas al-Qur’an dan ilmu-ilmu syariat di Masjid Al-Azhar Kairo, khususnya kelas yang dipimpin oleh Shaykh Muhammad al-Ghazâlî (w. 1995), seorang tokoh pemikir Islam moderat dari barisan revivalis yang dia kagumi.[4]

Pada tahun 1982, Khaled Abou el-Fadhl meninggalkan Mesir menuju Amerika dan melanjutkan studinya di Yale University dengan mendalami ilmu hukum selama empat tahun dan dinyatakan lulus studi bachelor-nya dengan predikat cumlaude. Tahun 1989, dia menamatkan studi Magister Hukum pada University of Pennsylvania. Atas prestasinya tersebut, dia diterima mengabdi di Pengadilan Tinggi (Suppreme Court Justice) wilayah Arizona sebagai pengacara bidang hukum dagang dan hukum imigrasi. Dari sinilah kemudian Khaled Abou el-Fadhl mendapatkan kewarganegaraan Amerika sekaligus dipercaya sebagai staf pengajar di University of Texas di Austin. [5]

Disamping kegiatannya sebagai pengacara dibarengi dengan mengajar di Universitas Texas, ia juga tidak melewatkan kesempatan untuk melanjutkan studi doktoralnya di University of Princeton. Pada tahun 1999 Khalid Abou el-Fadhl berhasil mendapatkan gelar Ph.D dalam bidang hukum Islam dengan hasil sangat memuaskan. Disertasinya, berjudul Rebellion and Violence in Islamic Law. Sejak saat itu hingga sekarang, ia dipercaya menjabat sebagai profesor hukum Islam pada School of Law, University of California Los Angeles (UCLA).[6]

Kegiatan dan Aktivitas Akademik Khaled M. Abou  El-Fadhl

Khaled Abou el-Fadhl adalah seorang Guru Besar di Fakultas Hukum, University of California Los Angeles (UCLA). Pemikir muslim terkemuka ini kelahiran Kuwait, tahun 1963. Dalam waktu yang lama, ia menekuni studi keislaman di Kuwait dan Mesir. Ia dikenal sebagai pakar dalam bidang hukum Islam, imigrasi, HAM, serta hukum keamanan nasional dan internasional. Sebelumnya, ia juga mengajar di sejumlah universitas ternama di Amerika Serikat, antara lain: Yale University, Princeton University, dan Texas University.[7]

Khaled Abou el-Fadhl disebut-sebut sebagai “an enlightened paragon of liberal Islam”. Selain penulis prolific dalam tema universal moralitas dan kemanusiaan, Abou el-Fadhl juga dikenal sebagai pembicara publik terkemuka. Dia aktif dalam berbagai organisasi HAM, seperti Human Rights Watch dan Lawyer’s Committee for Human Rights. Di tengah-tengah kesibukannya, ia juga sering menjadi pembicara dalam kegiatan seminar, simposium, lokakarya dan talk show, baik di televise maupun di radio, seperti CNN, NBC, PBS, NPR dan VOA. Belakangan, ia banyak memberikan komentar tentang isu otoritas, terorisme, toleransi dan hukum Islam. Khaled Abou el-Fadhl dikenal sebagai pakar dalam bidang hukum Islam, imigrasi, HAM, serta hukum keamanan nasional dan internasional.[8]

Pengetahuan yang luas dan kontribusi yang ia sumbangkan ke dunia menjadikan dirinya mendapatkan banyak pennghargaan dan apresiasi dari masyarakat antara lain : dianugerahi University of Oslo Human Rights Award, pada tahun 2007 dia dianugerahi Lisler Eitenger Prize serta tahun 2005 mendapatkan anugerah Carnegei Scholar in Islamic law. Abou el-Fadel bahkan pernah ditugaskan oleh Presiden George Washington Bush untuk menjadi pemantau dalam komisi untuk kebebasan beragama internasional (U.S. Commission for International Religious Freedom), dia juga bertindak sebagai anggota Dewan Direktur pemantau hak azasi manusia ( Human Rights Watch ), anggota dewan penasihat middle east watch ( bagian dari human Right Watch), serta secara teratur bekerja dengan organisasi Hak Azasi Manusia seperti : Amnesty Internasional And the Lawres Committe for Human Rights sebagai ahli dalam pemecahan berbagai kasus tentang HAM, terorisme, politik suaka, hukum komersial dan internasional. Tahun 2005, dia termasuk sebagai salah satu dari 500 pengacara terbaik di Amerika Serikat.[9]

Buku dan Karya-karya Ilmiah Khaled M. Abou el-Fadhl

Khaled Abou El-Fadhl adalah penulis yang produktif. Di sela-sela kesibukannya dalam bekerja, mengajar, dan kuliah, ia juga aktif menulis berbagai artikel dan buku tentang kajian Islam. Di antara karya-karyanya yang sudah diterbitkan dalam bentuk buku yaitu:[10]
  1. Speaking in God’s Name: Islamic Law, Authority and Woman (Oneworld Press, Oxford, 2001);
  2. Rebellion and Violence in Islamic Law (Cambridge University Press, 2001);
  3. And God Knows the Soldiers: The Authoritative and Authoritarian in Islamic Discoursees; (UPA/Rowman and Littlefield, 2001);
  4. The Authoritative and Authoritarian in Islamic Discourses: a Contemporary Case study;
  5. Islam and Challenge of Democracy (Princeton University Press, 2004);
  6. The Place of Tolerance in Islam (Beacon Press, 2002);
  7. Conference of Books: The Search for Beauty in Islam (University Press of Amerika/Rowman and Littlefield, 2001);
  8. The Great Theft (New York: Harper San Francisco, 2005).
Sebagian besar karyanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, antara lain: Atas Nama Tuhan; Dari Fikih Otoriter ke Fikih Otoritatif, (Penerbit Serambi), Melawan Tentara Tuhan (Penerbit Serambi, 2003), Musyawarah Buku (Penerbit Serambi, 2002), Cita dan Fakta Toleransi Islam; Puritanisme versus Pluralisme (Penerbit ‘Arsy-Mizan, Bandung, Oktober 2003), Islam dan Tantangan Demokrasi (Jakarta: Ufuk Press, 2004).[11

ENDNOTE

[1] Ayahnya bernama Medhiat Abou el-Fadl, sedangkan ibunya bernama Afaf el-Nimr. Khaled Medhiat Abou el-Fadl dalam beberapa tulisan ia disebut dengan Khaled Abou el-Fadl, atau Abou el-Fadl.
[2] Teresa Watanabe, Konsepsi jihad Khaled Medhiat Abou el-Fadl dalam Battling Islamic Puritans (Los Angeles Times: 2 Januari 2002)
[3] Khaled M. Abou El Fadl, Melawan Tentara Tuhan: Yang Berwenang dan Sewenang-wenang dalam Islam, terj. Kurniawan Abdullah (Jakarta: Serambi, 2003), h. 18.
[4] Nasrullah, Hermeneutika  Otoritatif  Khaled  M.  Abou  el-Fadl: Metode  Kritik  atas  Penafsiran  oritarianisme  dalam  Pemikiran  Islam, Jurnal Hunafa, Vol. 5, No. 2, Agustus 2008, hlm. 139.
[5] Nasrullah, Hermeneutika  Otoritatif  Khaled  M.  Abou  el-Fadl: Metode  Kritik  atas  Penafsiran  oritarianisme  dalam  Pemikiran  Islam, Jurnal Hunafa, Vol. 5, No. 2, Agustus 2008, hlm. 139.
[6] Ansori, Islam dan Demokrasi; Telaah atas Pemikiran Khaled Abou el-Fadl dalam Jurnal Mukaddimah, Vol. 17, No. 2, 2011), h. 183.
[7] Mohammad Muslih, Book Review; Membongkar Logika Penafsir Agama (Vol. 5, No. 2, Dhulqa’dah 1430), h. 435
[8] Nasrullah, Hermeneutika  Otoritatif  Khaled  M.  Abou  el-Fadl: Metode  Kritik  atas  Penafsiran  oritarianisme  dalam  Pemikiran  Islam, Jurnal Hunafa, Vol. 5, No. 2, Agustus 2008, hlm. 139. Lihat juga Mohammad Muslih, Book Review; Membongkar Logika Penafsir Agama, h. 436
[9] Data ini diambil dari situs terbaru UCLA, dimana Abou el Fadel bekerja sekarang Yaitu: http://www.law.ucla.edu/home/index.asp?page=386, diakses tanggal 8 Januari 2011.
[10] Akrimi Matswah, Hermeneutika Negosiatif Khaled M. Abou El Fadl terhadap Hadis Nabi dalam Jurnal Addin (Vol. 7, No. 2, Agustus, 2013), h. 253-254.
[11] Mohammad Muslih, Book Review; Membongkar Logika Penafsir Agama (Vol. 5, No. 2, Dhulqa’dah 1430), h. 437

pdf Downlod 

SQ Blog - Ibnu Jarir At-Thabary dipandang sebagai tokoh pewaris terpenting dalam tradisi keilmuan Islam klasik, termasuk dalam bidang tafsir al-Qur’an. Tafsir Jami’ Al-Bayan, merupakan salah satu karya monumentalnya dalam bidang ini yang menjadi rujukan utama bagi kaum muslimin. Di samping itu, tafsir ini merupakan ensiklopedi komentar dan pendapat tafsir yang pernah ada sampai masa hidupnya. Kehadiran tafsir Al-Thabari yang begitu lengkap dan sempurna membawa perubahan yang sangat besar bagi kaum muslimin dari zamannya hingga saat ini. Sobat SQ-Blog, uraian mengenai tafsir al-Tabary, Tafsir Jami’ Al Bayan, Insya Allah postingannya akan menyusul dan kali ini kita sedikit mengkaji riwayat hidupnya.

Ibnu Jarir Al-Thabari dilahirkan di kota Amil, ibu kotaThabaristan pada akhir tahun 224 H, ada juga pendapat bahwa beliau lahir di awal tahun 225 H. Sebenarnya banyak sekali ulama yang lahir di kota ini, namun mereka tidak menisbatkan diri kepadanya, melainkan menisbatkan diri mereka kepada “Thabarstan”. Nama lengkapnya adalah Abu Ja’far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Gholib Al-Thabari. Beliau dikenal sebagai sosok yang berpenampilan rapi dan selalu menjaga kesehatan, serta berlaku sangat disiplin[1].

At-Thabari menjalani hidupnya dengan perilaku yang sangat zuhud. Tidak sedikitpun ia silau pada kemilau kenikmatan dunia. Sikap ini dibuktikan dengan penolakannya terhadap tawaran jabatan dalam pemerintahan.Ia juga menolak imbalan harta yang disodorkan kepadanya. Ayah Al-Thabari tergolong orang yang berada dan terkenal sebagai pecinta ilmu dan ulama, ia pun senantiasa memotivasi dan mensupport putranya untuk menuntut ilmu. Al-Thabari pun menuruti perintah ayahnya dengan senang hati, lalu mulailah tampak tanda-tanda kecerdasan dan kecendikiawannya sejak awal menuntut ilmu. Ia mampu manghafal Al Qur’an pada usia tujuh tahun. Sebuah pencapaian yang luar biasa. Pada usia delepan tahun sudah menjadi imam shalat, dan menulis hadis-hadis Nabi Saw sejak usia Sembilan tahun.

Al-Thabari memilih hidup membujang hingga akhir hayat. Karena itu, ia memiliki kesempatan yang sangat luas untuk mencari ilmu. Hidupnya dihabiskan untuk belajar, mengajar dan menulis. Bisa dimaklumi bila beliau sanggup menguasai berbagai disiplin ilmu, seperti sejarah, hadis, bahasa dan sastra[2]. Mula-mula Al-Thabari menuntut ilmu di negeri kelahirannya sendiri, yaitu Amul. Kemudian ia pindah ke negeri tetangga dan mencari para ulama guna menimba dari mereka. Ia pun mengerahkan seluruh kemampuannya, mulai dari mendengar penuturan gurunya secara langsung, menghafalnya, hingga membukukannya[3].

Sejak usia 12 tahun, Al-Thabari sudah merantau ke kota Ray, sebelah utara Persia. Di sanalah ia belajar hadits kepada Muhammad bin Hamid Al Razy ( W.284 H), seorang imam besar hadis. Sang guru inilah yang nantinya banyak mempengaruhi kitab sejarahnya. Ia juga berguru kepada Ahmad bin Hammad Ad Daulabi, seorang ulama terkenal sebagai ahli riwayat. Dari kota Ray ini, Al-Thabari menuju ke Irak, awalnya ia ingin ke Baghdad untuk berguru kepada Imam Ahmad bin Hambal (W.241 H), namun karena ia mendengar bahwa ulama tersebut sudah meninggal dunia, ia beralih ke Bashrah. Di sana ia berguru pada seorang penghafal hadits yang jenius, Abu Bakar Muhammad bin Basyar (W. 252 H). Setelah itu Al-Thabari menuju Kufah untuk belajar ilmu Hadits kepada Ismail bin Musa Al Fazari (W. 254 H ), Hannad bin Assiri Al-Darumi Al-Kufi (W.342 H) dan Abi Kuraib Muhammad bin Al A’la al Hamzani (W.284 H). Ilmu Qiraat dipelajarinya dari Sulaiman bin Khallad As Samiri (W. 261 H )[4].

Pada tahun 253 H, Ath Thabari meninggalkan Irak dan menuju Mesir. Sebelum sampai di Mesir, ia singgah di beberapa kota penting dalam penyebaran hadits. Setelah sampai di Mesir, ia berjumpa dengan seorang sejarawan ternama, Ibnu Ishaq. Atas jasanyalah, Al-Thabari mampu menyusun karya sejarah yang berjudul Tarikh al Umam Wa al Muluk[5]. Selama di Mesir, nama Al-Thabari menjulang tinggi dan sempat menggemparkan daerah itu karena ketinggian ilmunya. Banyak ilmuwan yang mendatanginya untuk menguji kapasitas keilmuannya, dan ia pun berhasil melewati setiap ujian, sehingga nama besarnya sama sekali tidak tergoyahkan[6].

Al-Thabari terus melanjutkan perjalanannya mencari majelis ilmu dan menjumpai para ulama, tidak peduli dengan perjalanan yang jauh dan melelahkan serta bekal yang tidak mencukupi. Segala yang mahal dinilainya murah untuk mendaapatkan ilmu pengetahuan. Sampai suatu ketika beliau terpaksa menjual sebagian pakaiannya karena terlambat menerima kiriman bekal dari orang tuanya[7]. Dari Mesir, Thabari kembali ke Baghdad, dan dari Baghdad ia kembali ke tanah kelahirannya di Tabarstan. Namun, ia tidak lama tinggal di sana, akhiranya ia pun kembali ke Baghdad dan bermukim di sana hingga ia wafat pada tahun 310 H[8].

Dalam rangka menuntut ilmu Al-Thabari tidak cukup hanya dengan usaha yang keras dan sabar, akan tetapi ia juga dinilai sebagai sosok yang jujur, ikhlas, zuhud, wara’, dan amanah. Hal ini dapat terlihat dalam karyanya “Adab An-Nufus”. Ia meninggalkan gemerlap dunia dan tidak mencari kenikmatan yang ada padanya[9]. Sisi kehidupan Al-Thabari yang spesifik ini dicatat oleh para sahabatnya dan para ulama lain sezamannya, mereka mengatakan:
“Tidak ada seorang pun dari para ulama yang mengingkari ketinggian ilmunya, kezuhudannya di dunia dan sifat qana’ahnya. Ketika Al Khaqani menjabat sebagai menteri, ia mengirimkan uang kepadanya, namun ia enggan menerimanya. Ia pun ditawari untuk menduduki jabatan Qadhi, namun ia menolaknya. Ketika para sahabatnya mengeluh dan mengatakan kepadanya, Anda mendapat pahala dengan menduduki jabatan ini dan anda dapat menghidupkan sunnah yang anda telah pelajari. Mereka sangat berantusias agar Al-Thabari mau menerima tawaran itu, namun Thabari tetap menolaknya.”[10]
Demikianlah kepribadian seorang Al-Thabari yang enggan menerima harta dan kedudukan, bahkan enggan menerima jabatan yang berkaitan dengan kapasitas ilmunya semata-mata karena takut terjerumus dalam jurang kehancuran. Mungkin ia berusaha adil, tetapi ada sesuatu yang menghalanginya, atau berusaha menghindar dari tindakan aniaya, namun malah terjerumus kedalamnya tanpa sengaja. Oleh karena itulah Al-Tahabari dan para ulama sekelasnya lebih memilih menghindar dan tidak menerima jabatan yang berat semacam ini. Dalam hal ini, mereka memiliki teladan yang baik dari para salafus shalih, seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’I dan yang lainnya.[11] Al-Thabari merupakan sosok yang mulia, wara’, qana’ah, dan pemurah. Adapun syair-syair yang ditulisnya berikut ini menunjukkan kebenaran hal tersebut, ia melantunkan:[12]
Jika aku mengalami kesusahan, maka temanku tidak mengetahuinya,
karena aku merasa cukup, maka temanku pun tidak memerlukannya.
Rasa Maluku menjaga kehormatanku,dan sedikitnya kebutuhan menjadi teman setiaku
Kiranya aku berkenan mengorbankan kehormatanku, niscaya jalan kekayaan sangatlah mudah.
Catatan sejarah membuktikan bahwa karya-karya Ath Thabari meliputi banyak keilmuan,dan hanya sebagian yang sampai kepada kita. Sejumlah karya berdasarkan klasifikasi substansi materialnya, sebagai berikut:[13]

a. Bidang Hukum:
  • Adab al Manasik
  • Al Adar fil Ushul
  • Basit
  • Lathif Al Qaul fi Ahkam Syar’il Islam
  • Ikhtilaf
  • Mujaz
  • Khafif
  • Radd ’ala Ibn Abdul Hakam.
b. Bidang Al Qur’an
  • Fashl Bayan fil Qira’at
  • Jami’ Al Bayan fi Ta’wil al Qur’an
  •  Kitab Al Qira’at.
c. Bidang Hadits 
  • ‘Ibarah ar ru’ya
  • Fadho’il
  • Tahzib
  • Al Musnad Al Mujarrad
d. Bidang Teologi
  • Dalalah
  • Radd ‘ala zi Al asfar
  • Fadha’il Ali bin Abi Thalib
  • Sarih.
  • Radd ‘Ala al Harqusiyyah
  • Al basyir fi Ma’alim al Diin
e. Bidang etika keagamaan
  • Adab An Nufus al jayyidah wa al akhlaq al Nafisah
  • Fadhail dan Mujaz
  • Adb Al Tanzil
f. Bidang Sejarah
  • Zayl al Muzayyil
  • Tarikh al Umam wa al Muluk
  •  Tahzib al atsar.
Demikian sekilas biografi salah satu tokoh besar Islam.

ENDNOTE

[1] Saifullah Amin Ghofur (2007),” Profil para Mufassir”, Yogyakarta:Pustaka Insan Madani, hal 63
[2]Ibid, hal 64.
[3]Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath Thabari (Penerjemah: Ahsan Askan, 2007) “Jami’ Al bayan fi Ta’wil Al Qur’an”, Jakarta:Pustaka Azzam, Jilid 1, hal 9.
[4] Saifullah Amin Ghofur (2007),” Profil para Mufassir”, Yogyakarta:Pustaka Insan Madani, hal 65
[5]Ibid, hal 66
[6]Ibid.
[7] Lihat Tajuddin Abu Nashr Abdul Wahhaab As Sabki, “Thabaqot Asy Syafi’iyyah Al Kubro” 8 Lihat Tarikh Baghdad (2/163)
 [9] Mu’jam Al Ubada’ (17/60,61)
[10]Tabaqot as Sabki, 3/125. Menteri yang dimaksud adalah Abu Hasan Abdullah bin Yahya bin Khaqan, lihat Syi’ar An Nubala’ (14/172)
[11]Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath Thabari (Penerjemah: Ahsan Askan, 2007) “Jami’ Al bayan fi Ta’wil Al Qur’an”,   Jakarta:Pustaka Azzam, Jilid 1, hal 11,12
[12]Tarikh Baghdad (2/165,166)
[13]Hamim Ilyas (2004), “Studi Kitab Tafsir”, Yogyakarta: TERAShal 24,25,26

SQ Blog - Gautama Budha nama aslinya pangeran Siddhartha pendiri Agama Buddha, salah satu dari agama terbesar di dunia. Putra raja Kapilavastu, timur laut India. berbatasan dengan Nepal. Siddhartha sendiri (marga Gautama dari suku Sakya) konon lahir di Lumbini yang kini termasuk wilayah negara Nepal. Kawin pada umur enam belas tahun dengan sepupunya yang sebaya. Dibesarkan di dalam istana mewah, pangeran Siddhartha tak betah dengan hidup enak berleha-leha, dan dirundung rasa tidak puas yang amat.

Dari jendela istana yang gemerlapan dia menjenguk ke luar dan tampak olehnya orang-orang miskin terkapar di jalan-jalan, makan pagi sore tidak, atau tidak mampu makan sama sekali. Hari demi hari mengejar kebutuhan hidup yang tak kunjung terjangkau bagai seikat gandum di gantung di moncong keledai. Tarolah itu yang gembel. Sedangkan yang berpunya pun sering kehinggapan rasa tak puas, waswas gelisah, kecewa dan murung karena dihantui serba penyakit yang setiap waktu menyeretnya ke liang lahat. Siddhartha berpikir, keadaan ini mesti dirobah. Mesti terwujud makna hidup dalam arti kata yang sesungguhnya, dan bukan sekedar kesenangan yang bersifat sementara yang senantiasa dibayangi dengan penderitaan dan kematian.

Tatkala berumur dua puluh sembilan tahun, tak lama sesudah putra pertamanya lahir, Gautama mengambil keputusan dia mesti meninggalkan kehidupan istananya dan menghambakan diri u untuk mencari kebenaran sejati yang bukan sepuhan. Berpikir bukan sekedar berpikir, melainkan bertindak. Dengan lenggang kangkung dia tinggalkan istana, tanpa membawa serta anak-bini, tanpa membawa barang dan harta apa pun, dan menjadi gelandangan dengan tidak sepeser pun di kantong. Langkah pertama, untuk sementara waktu, dia menuntut ilmu dari orang-orang bijak yang ada saat itu dan sesudah merasa cukup mengantongi ilmu pengetahuan, dia sampai pada tingkat kesimpulan pemecahan masalah ketidakpuasan manusia.

Umum beranggapan, bertapa itu jalan menuju kearifan sejati. Atas dasar anggapan itu Gautama mencoba menjadi seorang pertapa, bertahun-tahun puasa serta menahan nafsu sehebat-hebatnya. Akhirnya dia sadar laku menyiksa diri ujung-ujungnya cuma mengaburkan pikiran, dan bukannya malah menuntun lebih dekat kepada kebenaran sejati. Pikir punya pikir, dia putuskan mendingan makan saja seperti layaknya manusia normal dan stop bertapa segala macam karena perbuatan itu bukan saja tidak ada gunanya melainkan bisa bikin badan kerempeng, loyo, mata kunang-kunang, ngantuk, linu, bahkan juga mendekati bego.

Dalam kesendirian yang tenang tenteram dia bergumul dengan perikehidupan problem manusiawi. Akhirnya pada suatu malam, ketika dia sedang duduk di bawah sebuah pohon berdaun lebar dan berbuahkan semacarn bentuk buah pir yang sarat biji segala macam, maka berdatanganlah teka-teki masalah hidup seakan berjatuhan menimpanya. Semalam suntuk Siddhartha merenung dalam-dalam dan ketika mentari merekah di ufuk timur dia tersentak dan berbarengan yakin bahwa terpecahkan sudah persoalan yang rumit dan dia pun mulai saat itu menyebut dirinya Buddha "orang yang diberi penerangan."

Pada saat itu umurnya menginjak tiga puluh lima tahun. Sisa umurnya yang empat puluh lima tahun dipergunakannya berkelana sepanjang India bagian utara, menyebarkan filosofi barunya di depan khalayak siapa saja yang sudi mendengarkan. Saat dia wafat, tahun 483 sebelum Masehi, sudah ratusan ribu pemeluk ajarannya. Meskipun ucapan-ucapannya masih belum ditulis orang tapi petuah-petuahnya dihafal oleh banyak pengikutnya di luar kepala, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya lewat mulut semata.

Pokok ajaran Buddha dapat diringkas di dalam apa yang menurut istilah penganutnya "Empat kebajikan kebenaran:" pertama, kehidupan manusia itu pada dasarnya tidak bahagia; kedua, sebab-musabab ketidakbahagiaan ini adalah memikirkan kepentingan diri sendiri serta terbelenggu oleh nafsu; ketiga, pemikiran kepentingan diri sendiri dan nafsu dapat ditekan habis bilamana segala nafsu dan hasrat dapat ditiadakan, dalam ajaran Buddha disebut nirvana; keempat, menimbang benar, berpikir benar, berbicara benar, berbuat benar, cari nafkah benar, berusaha benar, mengingat benar, meditasi benar. Dapat ditambahkan Agama Buddha itu terbuka buat siapa saja, tak peduli dari ras apa pun dia, (ini yang membedakannya dengan Agama Hindu).

Beberapa saat sesudah Gautama wafat agama baru ini merambat pelan. Pada abad ke-3 sebelum Masehi, seorang kaisar India yang besar kuasa bernama Asoka menjadi pemeluk Agama Buddha. Berkat dukungannya, penyebaran Agama Buddha melesat deras, bukan saja di India tapi juga di Birma. Dari sini agarna itu menjalar ke seluruh Asia Tenggara, ke Malaysia dan Indonesia.

Angin penyebaran pengaruh itu bukan cuma bertiup ke selatan melainkan juga ke utara, menerobos masuk Tibet, ke Afghanistan dan Asia Tengah. Tidak sampai situ. Dia mengambah Cina dan merenggut pengaruh yang bukan buatan besarnya dan dari sana menyeberang ke Jepang dan Korea. Sedangkan di India sendiri agama baru itu mulai menurun pengaruhnya sesudah sekitar tahun 500 Masehi malahan nyaris punah di tahun 1200. Sebaliknya di Cina dan di Jepang, Agama Buddha tetap bertahan sebagai agama pokok. Begitu pula di Tibet dan Asia Tenggara agama itu mengalami masa jayanya berabad-abad.

Ajaran-ajaran Buddha tidak tertulis hingga berabad-abad sesudah wafatnya Gautama. Karena itu mudahlah dimaklumi mengapa Agama itu terpecah-pecah ke dalam pelbagai sekte. Dua cabang besar Agama Buddha adalah cabang Theravada-pengaruhnya terutama di Asia Tenggara dan menurut anggapan sebagian besar sarjana-sarjana Barat cabang inilah yang paling mendekati ajaran-ajaran Buddha yang asli-. Cabang lainnya adalah Mahayana, bobot pengaruhnya terletak di Tibet, Cina dan juga di Asia Tenggara secara umum.

Buddha, selaku pendiri salah satu agama terbesar di dunia, jelas layak menduduki urutan tingkat hampir teratas dalam daftar buku ini. Karena jumlah pemeluk Agama Buddha tinggal 200 juta dibanding dengan pemeluk Agama Islam yang 500 juta banyaknya dan satu milyar pemeluk Agama Nasrani, dengan sendirinya pengaruh Buddha lebih kecil ketimbang Muhammad atau Isa. Akan tetapi, beda jumlah penganut -jika dijadikan ukuran yang keliwat ketat- bisa juga menyesatkan. Misalnya, matinya atau merosotnya Agama Buddha di India bukan merosot sembarang merosot melainkan karena Agama Hindu sudah menyerap banyak ajaran dan prinsip-prinsip Buddha ke dalam tubuhnya. Di Cina pun, sejumlah besar penduduk yang tidak lagi terang-terangan menyebut dirinya penganut Buddha dalam praktek kehidupan sehari-hari sebenarnya amat di pengaruhi oleh filosofi agama.

Agama Buddha, jauh mengungguli baik Islam maupun Nasrani, punya anasir pacifis yang amat menonjol. Pandangan yang berpangkal pada tanpa kekerasan ini memainkan peranan penting dalam sejarah politik negara-negara berpenganut Buddha.

Banyak orang bilang bila suatu saat kelak Isa turun kembali ke bumi dia akan melongo kaget melihat segala apa yang dilakukan orang atas namanya, dan akan cemas atas pertumpahan darah yang terjadi dalam pertentangan antar sekte yang saling berbeda pendapat yang sama-sama mengaku jadi pengikutnya. Begitu juga akan terjadi pada diri Buddha. Dia tak bisa tidak akan ternganga-nganga menyaksikan begitu banyaknya sekte-sekte Agama Buddha yang bertumbuhan di mana-mana, saling berbeda satu sama lain walau semuanya mengaku pemeluk Buddha. Narnun, bagaimanapun semrawutnya sekte-sekte yang saling berbeda itu tidaklah sarnpai menimbulkan perang agama berdarah seperti terjadi di dunia Kristen Eropa. Dalam hubungan ini, paling sedikit berarti ajaran Buddha tampak jauh mendalam dihayati oleh pemeluknya ketimbang ajaran-ajaran Isa dalarn kaitan yang sama.

Buddha dan Kong Hu-Cu kira-kira punya pengaruh setaraf terhadap dunia. Keduanya hidup di kurun waktu yang hampir bersamaan, dan jumlah pengikutnya pun tak jauh beda. Pilihan saya menempatkan nama Buddha lebih dulu daripada Kong Hu-Cu dalam urutan disandarkan atas dua pertimbangan: pertama, perkembangan Komunisme di Cina nyaris menyapu habis pengaruh Kong Hu -Cu, sedangkan tampaknya masa depan Buddha masih lebih banyak celah dan pengaruh ketimbang dalam Kong Hu-Cu; kedua, kegagalan ajaran Kong Hu-Cu menyebar luas ke luar batas Cina menunjukkan betapa erat taut bertautnya ajaran Kong Hu-Cu dengan sikap dan tata cara jaman Cina lama. Sebaliknya, ajaran Buddha tak ada mengandung pernyataan ulangan atau mengunyah-ngunyah filosofi India terdahulu, dan Agama Buddha menyebar melangkah batas pekarangan negerinya -India- bersandarkan gagasan tulen Gautama serta jangkauan luas filosofinya.

Sumber:
Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah
Michael H. Hart, 1978
Terjemahan H. Mahbub Djunaidi, 1982
PT. Dunia Pustaka Jaya

SQ Blog

{picture#https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEimSap9ccYY8FQp44yNvjVK6lRtOVpD-gpVKKWSk__oyc8ChkbooHIuh52uDXiZGchcOoPlIazgMEjOjQ5r0b-DftM48h8gDub2yWyKzDdH1VSYDrsmbf1qfYgl5hKaEuiAW8WAQeTmErDqcHjIm3C4GJKWRJv52o5uHAW10S2gOWj4o8nMsdahVxSo/s500/sq%20vlog%20official%20logo%20png%20full.png} SQ Blog - Wahana Ilmu dan Amal {facebook#https://web.facebook.com/quranhadisblog} {youtube#https://www.youtube.com/user/Zulhas1}

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.