Ujian dan Musibah dalam Redaksi Al-Quran
SQ Blog - Perjalanan hidup manusia tidak lepas dari liku-liku kehidupan. Baik itu menyenangkan, menyedihkan, maupun memilukan. Setiap hal dan rintangan yang dihadapi manusia akan menjadi tolak ukur pribadi masing-masing. Baik dalam hal kenikmatan dan kebaikan, demikian juga dalam berbagai kesulitan dan kesukaran. Allah SWT mengingatkan dalam surat Al-Ankabut ayat 2:
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ.
Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan saja berkata, “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji? (Q.S. Al-Ankabut : 2)
Warna warni kehidupan dengan berbagai fenomenanya menjadi ujian dan cobaan setiap manusia. Pemahaman terhadap berbagai ujian dan cobaan tersebut dapat dilihat dalam beberapa ayat Al-Quran. Memberikan kesan dan pesan dalam banyak hal. Salah satunya bahwa setiap hal yang menimpa seseorang untuk meninggikan derajat dan kedudukannya di sisi Allah SWT.
Berkenaan dengan ini, pada satu sisi lain memberikan kesan bahwa segala anugerah dan nikmat bersumber dari Allah. Dan segala keburukan akibat ulah perbuatan manusia sendiri. Sungguhpun perlu diyakini segala sesuatu terjadi atas izin Allah, baik itu dalam hal yang menyenangkan maupun yang memilukan. Maka perlu pemahaman yang mendalam untuk memahami bahwa segala sesuatu terjadi atas izin-Nya, tetapi hal-hal yang buruk dan memilukan disebabkan akibat ulah diri sendiri.
Pada aspek lain, disebutkan segala hal yang terjadi di bumi dan pada diri manusia telah tertulis dalam ketetapan Allah sebelum terjadinya. Ini menjadi ranah keimanan yang dapat diterima dengan memahami berbagai hikmah dan contoh-contoh kenyataan hidup yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai wilayah iman, langkah awal tentu meyakini dengan sepenuh hati sembari memperkaya pemahaman dan mengambil hikmah dari berbagai hal yang terjadi dalam kehidupan.
Demikian juga, beragam istilah yang digunakan Al-Quran dalam menyampaikan hal ini memiliki kesan dan pesan masing-masing dalam penggunaanya. Maka perlu dikemukakan untuk melihat setiap perbedaan dan ruang lingkupnya. Diharapkan memberikan pemahaman yang baik dalam upaya menyikapi setiap hal yang terjadi. Dan juga dapat melahirkan prasangka yang baik atas setiap kondisi dan keadaan.
Pertama: Musibah (المصيبة), kata ini sering dan populer digunakan dalam menyebutkan setiap hal yang menimpa manusia. Dalam keterangan ayat-ayat Al-Qur'an terkait kata ini, dapat dimulai dari surat As-Syura' ayat 30:
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ.
Musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri dan Allah memaafkan banyak kesalahanmu. (Q.S. As-Syura [42] : 30)
Ayat ini mengingatkan bahwa setiap hal, khususnya yang buruk dan tidak menyenangkan yang menimpa manusia adalah akibat perbuatannya sendiri. Hal ini juga menjadi teguran kepada mereka yang ingkar kepada Allah khususnya orang-orang munafik yang mengatakan bahwa apa yang menimpa mereka berupa hal yang menggembirakan bersumber dari Allah, dan yang tidak menyenangkan akibat dari sisi Nabi Muhammad.
Allah SWT menegaskan hal ini dalam surat An-Nisa' ayat 78:
وَإِنْ تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَقُولُوا هَذِهِ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَقُولُوا هَذِهِ مِنْ عِنْدِكَ.
Jika mereka memperoleh suatu kebaikan, mereka berkata, “Ini dari sisi Allah” dan jika mereka ditimpa suatu keburukan, mereka berkata, “Ini dari engkau (Nabi Muhammad).” (Q.S. An-Nisa' [4] : 78)
Potongan ayat ini pun memberikan penegasan:
قُلْ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ.
Katakanlah, “Semuanya (datang) dari sisi Allah.” (Q.S. An-Nisa' [4] : 78)
Dalam ayat berikutnya pun diberikan penjelasan yang lebih rinci:
مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ.
Kebaikan apa pun yang kamu peroleh berasal dari Allah, sedangkan keburukan apa pun yang menimpamu itu disebabkan oleh kesalahan dirimu sendiri. (Q.S. An-Nisa' [4] : 79)
Penegasan rangkaian ayat di atas menyebutkan bahwa segala sesuatu terjadi atas izin dan kehendak Allah SWT. Namun segala hal yang baik bersumber dari-Nya dan segala hal yang buruk akibat ulah perbuatan diri sendiri. Dalam surat Al-Hadid ayat 22 juga disebutkan:
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ.
Tidak ada bencana apa pun yang menimpa di bumi dan tidak juga yang menimpa dirimu, kecuali telah tertulis dalam Kitab Lauh Mahfuz sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya hal itu mudah bagi Allah. (Q.S. Al-Hadid [57] : 22)
Penerimaan bahwa segala sesuatu terjadi atas izin Allah adalah salah satu rukun iman, yaitu kepada Qada' dan Qadar Allah SWT. Dan pemahaman terhadap segala hal yang buruk bersumber dari diri sendiri dapat diilustrasikan seperti ini:
Seorang ayah membuatkan mainan di rumah buat anak-anaknya. Sang ayah menyiapkannya dengan seksama agar dapat dipakai dengan baik oleh sang anak. Setelah mainan tersebut selesai, sang anak mulai memainkan mainan tersebut dengan hati senang.
Ketika sang anak menggunakannya dengan baik dan hati-hati sesuai arahan sang ayah, maka anak tersebut dapat menikmati dengan senang dan selamat dengan mainan tersebut. Sehingga dapat dikatakan, anak tersebut sangat senang karena telah dibuatkan mainan oleh ayah.
Namun, jika sang anak memainkan mainan tersebut tanpa hati-hati dan tidak memperhatikan arahan sang ayah, lalu anak tersebut mengalami hal yang tidak diharapkan seperti terjatuh dan lainnya. Maka dapat dikatakan sang anak terjatuh karena tidak hati-hati, akibat ulah perbuatannya sendiri. Tidak dapat disalahkan sang ayah yang telah mebuatkan permainan tersebut.
Demikian adanya dalam kehidupan ini, Allah SWT telah menciptakan alam semesta ini dengan segala hukum-hukum di dalamnya, termasuk hukum sebab akibat. Demikian juga manusia telah dibekali dengan petunjuk Al-Quran dan Hadis serta dianugerahi qalbu dan akal agar dapat memilih dan memilah setiap langkah mereka dalam hidup ini. Dan sekali lagi diingatkan dalam surat Ar-Rum ayat ayat 41:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ.
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. Melalui hal itu Allah membuat mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar. (Q.S. Ar-Rum [30] : 41)
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Musibah (المصيبة) dalam redaksi Al-Quran dapat dimaknai segala hal yang tidak menyenangkan yang menimpa manusia akibat ulah perbuatannya sendiri.
Seseorang yang makan makanan yang tidak sehat atau kotor kemudian sakit, maka dapat dikatakan musibah. Seseorang yang berkendara dengan tidak hati-hati, lalu terjatuh maka dapat dikatakan musibah. Singkat kata, segala hal yang menimpa yang tidak menyenangkan akibat perbuatan sendiri dapat dikatakan musibah.
Kedua : Bala (البلاء), kata ini juga sudah familiar dalam kehidupan sehari-hari. Seperti bala bencana, tolak bala, membuang bala dan lainnya. Dalam redaksi ayat-ayat Al-Quran dapat diawali dari surat Al-Mulk ayat 2:
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ.
Allah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. (Q.S. Al-Mulk [67] : 2)
Demikian juga kata bala disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 155:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ.
Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang sabar. (Q.S. Al-Baqarah [2] : 155)
Redaksi ayat di atas menunjukan bahwa bala adalah bentuk ujian Allah kepada setiap hamba-hambanya. Hal ini juga sesuai ungkapan Nabi Sulaiman a.s ketika menerima berbagai nikmat dan anugerah. Sebagaimana disebutkan dalam surat An-Naml ayat 40:
هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ.
Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau berbuat kufur. (Q.S. An-Naml [27] : 40)
Dari rangkaian ayat tersebut, bala dapat dimaknai segala sesuatu yang menimpa manusia yang datang dari Allah dan setiap manusia mengalaminya.
Keterangan ini mengingatkan pesan baginda Rasulullah SAW yang bersumber dari sahabat Shuhaib bin Sinan:
عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ.
Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya. (H.R. Muslim)
Ketiga : Fitnah (الفتنة), kata ini sering digunakan dalam arti berita bohong atau palsu.
Dalam konteks diskusi ini, Fitnah (الفتنة) dimaknai sesuatu yang menimpa manusia, baik orang-orang yang benar maupun orang-orang yang bersalah.
Artinya, boleh jadi hanya satu atau dua orang saja yang berbuat, namun yang lainnya dapat merasakan akibatnya. Seperti sebuah perahu yang ditumpangi sejumlah orang. Hanya satu atau dua oknum saja yang melubangi perahu, namun semua penumpang akan tenggelam akibat perbuatan tersebut.
Contoh lain dalam kecelakaan beruntun. Boleh jadi hanya satu pengendara yang ugal-ugalan, namun pengendara lainnya turut merasakan akibatnya. Dan contoh-contoh lain yang banyak terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Keterangan ini dapat dilihat dalam surat Al-Anfal ayat 25:
وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً.
Peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. (Q.S. Al-Anfal [8] : 25)
Ayat ini mengingatkan agar setiap orang juga tampil melakukan amar ma'ruf nahi munkar. Artinya jangan lesu dan jemu mengajak kepada kebaikan dan mencela kemungkaran. Sendi-sendi bangunan masyarakat akan melemah jika kontrol sosial melemah. Akibat kesalahan tidak hanya menimpa yang bersalah, maka perlu upaya dan kerja sama dalam setiap hal.
Ayat ini tidak bertentangan dengan firman Allah: "Seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain" (Q.S. Al-An'am [6] : 164). Karena, apabila kemungkaran telah meluas, dan tidak ada yang tampil meluruskannya, itu berarti bahwa masyarakat atau pihak yang berwajib tidak lagi terusik perasannya dan gairah keagamaannya akibat kemungkaran itu.
Siapa yang sikapnya seperti itu, dapat dinilai merestui kemungkaran dan ini menjadikan yang bersangkutan terlibat secara tidak langsung dalam kemungkaran itu sehingga ia pun berdosa. Namun, tentu juga disadari banyak orang-orang yang tidak bersalah dan tidak tahu menahu dalam suatu fitnah yang juga turut merasakan akibatnya meskipun tidak terlibat sama sekali di dalamnya.
Keempat : Azab (العذاب), yaitu sesuatu yang menimpa kepada mereka yang ingkar kepada Allah SWT. Kata ini banyak disebutkan dalam ayat-ayat Al-Quran.
Di antaranya dalam surat Al-Isra' ayat 10:
وَأَنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا.
Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang tidak beriman pada akhirat telah Kami sediakan bagi mereka azab yang sangat pedih. (Q.S. Al-Isra' [17] : 10)
Dalam surat As-Sajdah ayat 21 juga diingatkan:
وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنَ الْعَذَابِ الْأَدْنَى دُونَ الْعَذَابِ الْأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ.
Kami pasti akan menimpakan kepada mereka sebagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat) agar mereka kembali ke jalan yang benar. (Q.S. As-Sajdah [32] : 21)
Demikian juga dalam surat Al-Qalam ayat 33 ditegaskan:
كَذَلِكَ الْعَذَابُ وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ.
Seperti itulah azab (di dunia). Sungguh, azab akhirat lebih besar sekiranya mereka mengetahui. (Q.S. Al-Qolam [68] : 33)
Dari uraian di atas, setelah menyebutkan kata Musibah (المصيبة), Bala (البلاء), Fitnah (الفتنة), Azab (العذاب) dapat memberikan gambaran arti dari masing-masing redaksinya dalam Al-Quran. Hal ini dapat melahirkan nilai-nilai yang baik dalam menghadapi segala kenyataan hidup ini.
Di antara nilai-nilai tersebut adalah:
- Senantiasa berprasangka baik kepada Allah SWT;
- Mengambil pelajaran dalam setiap hal yang menimpa, bahwa Allah menguji hamba-hamba-Nya untuk meninggikan derajatnya di sisi-Nya. Di sisi lain dapat menjadi penghapus kesalahan dan dosa yang penah dilakukan;
- Mendokan sesama yang sedang diuji agar mereka senantiasa diberikan ketabahan, kesabaran, kekuatan iman, dan semoga diberikan jalan keluar yang sebaik-baiknya. Di samping itu, memberikan bantuan kepada mereka sesuai kemampuan masing-masing. Agar timbul kesadaran bahwa setiap kita tidak luput dari ujian dan cobaan dari Allah SWT.




