Postingan Terbaru


SQ Blog - Alhamdulillah atas izin dan berkat Allah SWT, sampailah kita pada hari yang telah kita nanti-nantikan. Suasana bahagia dan gembira meliputi seluruh kaum muslimin di penjuru dunia. Menyambuat hari raya idul fitri tahun 1447 H.

Sambil mengucapkan syukur atas nikmat ini, pantas bagi kaum muslimin dan muslimat mengucapkan doa:

جعلنا الله وإياكم من العائدين والفائزين والمقبولين.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang kembali kepada fitrah, orang-orang yang menang, dan diterima semua amal ibadahnya.
Dalam doa tersebut tersurat 3 pernyataan, yaitu kembali fitrah, meraih kemenangan, dan termasuk golongan makbulin. Kembali fitrah artinya, baik, bersih, dan suci seperti bayi yang baru lahir dari perut ibunya. Meraih kemenangan artinya telah berhasil melaksanakan berbagai ibadah dan amaliah lainnya selama sebulan ramadhan penuh. Dan golongan makbulin artinya termasuk orang-orang yang diterima dan dilipatgandakan amal ibadah dan kebaikannya.

Dengan sadar dan kenyakinan penuh, sampailah kita di hari kemenangan ini atas pertolongan dan anugerah dari Allah SWT. Oleh karenanya, sudah sepatutnya mengingat firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 187:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ.


Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur. (Q.S. Al-Baqarah : 185)
Mencukupkan bilangan ramadahan 1 bulan penuh, boleh jadi 29 hari atau 30 hari. Dan kedua-duanya adalah sempurna di sisi Allah SWT. Dan kemudian membesarkan nama Allah dengan mengumandangkan takbir atas segala petunjuknya. Sejak sore hari menjelang matahari terbenam, kumandang takbir bergema di masjid, musholla, dan berbagai tempat lainnya. Dan pada akhirnya hendaknya bersyukur kepada Allah atas berbagai nikmatnya tersebut.

Maka, Pesan Pertama yang dapat disampaikan, mari menjadi insan yang senantiasa bersyukur kepada Allah SWT. Alhamdulillah, Allah masih memberikan umur panjang dan mempertemukan dengan hari kemenangan ini, memberikan kekuatan dan kesehatan dalam menjalankan ibadah dan kebaikan selama ramadhan, menguatkan keimanan dan ketakwaan kepada-Nya. Dalam surat Ibrahim ayat 7 diingatkan:
 

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ.

Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras. (Q.S. Ibrahim : 7)
Sekali lagi kita ingatkan pesan pertama di hari kemenangan ini, mari menjadi insan yang senantiasa bersyukur atas segala anugerah dan nikmat-nikmatnya. Diawali dengan mengucapkan syukur alhamdulillah di lisan, lalu dibuktikan dengan ibadah dan kebaikan melalui anggota badan, serta menyakini sepenuh hati bahwa semuanya atas anugerah dan nikmat dari Allah semata. Dalam surat Ad-Dhuha disebutkan:

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ.

Dan terhadap nikmat-Ku maka ungkapkanlah dengan bersyukur. (Q.S. Ad-Dhuha : 11)

Di antara nikmat tersebut adalah masih mempertemukan hari kemenangan ini dalam keadaan fitrah. Salah satu artinya bahwa suci dan bersih dari dosa. Persoalannya kemudian, kita tidak hanya berbuat salah kepada Allah, tetapi juga berbuat khilaf kepada sesama. Hakikat fitrah, melepaskan segala dosa dengan bertaubat kepada Allah dan meminta maaf atas segala kesalahan kepada sesama.

Maka Pesan Kedua, mari jadikan momentum hari kemenangan ini untuk saling maaf memaafkan. Nuansa ramadhan menjadi kesempatan terbaik untuk saling bersilaturahim dan mempererat hubungan kekerabatan di antara sesama. Dengan harapan dapat meraih taubat nasuha untuk membersihkan dosa dan khilaf.

Disebutkan oleh imam Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad bahwa salah satu doa malaikat Jibril a.s yang diaminkan oleh Nabi Muhammad SAW adalah:

شقي عبد أدرك رمضان فانسلخ منه ولم يغفر له فقلت آمين.

Sungguh celaka seorang hamba yang mendapati ramadhan lalu ramadhan berlalu, tetapi tidak menyebabkan ia diampuni dengannya, maka aku menjawab aamiin. (H.R. Al-Bukhari)
Demikianlah nuansa ramadhan dan idul fitri, melahirkan semangat kasih sayang dan maaf memaafkan di antara sesama. Menciptakan kehidupan yang harmonis, bahagia dan tentram. InsyaAllah di dunia ini dan sampai di akhirat kelak.

Pesan ketiga, usai membina diri dalam bulan suci ramadhan menuju bulan syawwal hendaknya tetap menjaga motivasi ibadah dan kebaikan. Ramadhan boleh berlalu tetapi semangat ramadhan tetap dipertahankan. Salah satu maksud ayat (وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ), sempurnakanlah dan jaga semangat ibadah dan kebaikan ramadhan.

Puasa boleh berlalu, tetapi semangat menjaga anggota tubuh tetap dijaga dari hal-hal yang tercela. Menjaga lisan dari berkata buruk, menjaga tangan dari yang bukan haknya, menjaga kaki dari melangkah ke arah maksiat, dan seluruh anggota tubuh lainnya.

Pendek kata, kita pertahankan kebaikan-kebaikan yang telah kita bina dan tanamkan di bulan ramadhan. Baik itu berupa kebaikan jasmani dengan hikmah yang dapat diraih dalam ibadah ramadhan seperti puasa. Kebaikan ruhani berupa pembersihan qalbu dengan berbagai ibadah wajib dan sunnah. Demikian juga kebaikan ijtimaiyah berupa kebaikan sosial dengan berbagi melalui ibadah zakat fitrah, zakat mal, infaq, dan sedekah lainnya.


Ramadhan adalah bulan latihan, maka suatu latihan yang berhasil akan nampak pada bulan-bulan setelahnya jika melahirkan keistiqomahan dalam ibadah dan kebaikan. Ini pesan ketiga untuk senantiasa menjaga motivasi ibadah dan amal sholeh. Allah SWT mengingatkan:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ. أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ.

Sesungguhnya orang-orang yang berkata: Tuhan kami adalah Allah, kemudian tetap istiqamah. Maka tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak pula bersedih. Mereka itulah para penghuni surga dan kekal di dalamnya sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S. Al-Ahqaf : 13-14)
Demikian, 3 pesan penting yang dapat disampaikan di hari kemenangan ini. Senantiasa bersyukur atas anugerah dan nikmat-nikmat-Nya; menanamkan rasa kasih sayang dan maaf memaafkan kepada sesama; serta melahirkan istiqamah untuk senantiasa menjaga motivasi dalam ibadah dan kebaikan kepada Allah SWT.

Sekian

SQ Blog - Penetapan 1 syawwal tiap negara bahkan daerah berpotensi memiliki perspektif dan perbedaan masing-masing. Dan perbedaan ini dalam Islam adalah sesuatu yang biasa. 

Hal ini dilatarbelakangi oleh beberapa perbedaan, baik perbedaan metode antara metode hisab (perhitungan) atau rukyat (melihat langsung); perbedaan letak geografis yang mempengaruhi visibilitas hilal; maupun perbedaan kriteria yang digunakan oleh masing-masing otoritas keagamaan tiap negara.

Terlepas dari perbedaan tersebut, pertanyaan yang patut diperhatikan, apakah Allah SWT sudah ridha terhadap amaliah yang telah dilaksanakan?


Demikian harapan yang senantiasa didambakan sejak awal ramadhan hingga hari terakhir. Hal ini nampak dalam doa yang dibaca setiap hari menjelang berbuka puasa.

أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلَهَ إِلاَّ اللّه، أَسْتَغْفِرُ اللّه، أَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ.

Doa tersebut sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam kitab shahihnya, meskipun didhaifkan oleh sejumlah ulama. Dalam riwayat tersebut disebutkan:

أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيمٌ ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ ، شَهْرٌ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ.

Wahai sekalian manusia telah datang kepada kalian bulan yang mulia, bulan yang penuh berkah, bulan yang di dalamnya terdapat malam yang lebih baik daripada 1000 bulan (Lailatul Qodar).

Dalam potongan keterangan berikutnya kemudian disebutkan:

 وَاسْتَكْثِرُوا فِيهِ مِنْ أَرْبَعِ خِصَالٍ.

Perbanyaklah di dalamnya dengan 4 perkara

4 perkara tersebut diberikan keterangan lanjutan bahwa: 

خَصْلَتَيْنِ تُرْضُونَ بِهِمَا رَبَّكُمْ ، وَخَصْلَتَيْنِ لاَ غِنًى بِكُمْ عَنْهُمَا.

2 perkara tersebut jika di amalkan dapat mendatangkan ridha Allah kepada kalian, dan 2 perkara lainnya jangan sampai tidak kalian raih.

Apa 4 perkara tersebut?

فَأَمَّا الْخَصْلَتَانِ اللَّتَانِ تُرْضُونَ بِهِمَا رَبَّكُمْ : فَشَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَتَسْتَغْفِرُونَهُ.

2 perkara dari 4 perkara tersebut yang dapat mendatangkan rahmat kepada kalian adalah senantiasa bersyahadat bahwa tiada Tuhan selain Allah dan perbanyaklah beristighfar kepada-Nya.


Perkara pertama; Senantiasa bersyahadat bahwa tiada Tuhan selain Allah. Senada dengan pesan Nabi kepada para sahabat:

جَدِّدُوا إِيمَانَكُمْ ، قِيلَ : يَا رَسُولَ اللهِ ، وَكَيْفَ نُجَدِّدُ إِيمَانَنَا ؟ قَالَ : أَكْثِرُوا مِنْ قَوْلِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ. 

Perbaharuilah iman kalian. Para sahabat bertanya, wahai Rasulullah bagaimana kami memperbahrui iman kami? Rasulullah menjawab : perbanyaklah mengucapkan laailaha illallah (tidak ada Tuhan selain Allah). (H. R. Ahmad)

Hadis ini diyakini dhaif juga oleh beberapa ulama. Namun dalam keterangan riwayat tersebut dapat dipahami bahwa syahadat adalah pondasi keimanan. Sebagai pondasi, maka harus dibina terlebih dahulu sebelum amaliah yang lainnya dilaksanakan.  

Perkara kedua; Perbanyak istighfar kepada Allah atas segala khilaf dan dosa. Dan ini merupakan di antara karakter orang-orang yang betakwa. Dalam surat Ad-Dzariyat ayat 15-18 disebutkan:

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ. آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ. كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ. وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ.

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga yang penuh taman-taman dan mata air. Mereka dapat mengambil apa saja yang dianugerahkan Tuhan kepada mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam dan pada akhir malam mereka memohon ampunan kepada Allah. (Q.S. Ad-Dzariyyat : 15-18)

Demikian juga dicontohkan baginda Rasulullah SAW bahwa beliau senantiasa beristighfar meskipun terhindar dari segala dosa dan sudah mendapatkan jaminan sorga di sisi Allah SWT. Disebutkan dalam hadis riwayat Imam Al-Bukhari dan Muslim sebagai berikut:

وَاللَّهِ إِنِّي لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً.

Demi Allah. Sungguh aku selalu beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali. (H. R. Al-Bukhari)

وَإِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِى الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ.

Dan sesungguhnya aku sungguh-sungguh beristighfar kepada Allah dalam saatu hari sebanyak 100 kali. (H. R. Muslim)

Setelah disebutkan 2 hal yang dapat mendatangkan ridha Allah, kemudian disebutkan 2 hal lainnya yang harus diraih, yaitu:

وَأَمَّا اللَّتَانِ لاَ غِنًى بِكُمْ عَنْهمَا : فَتُسْأَلُونَ اللَّهَ الْجَنَّةَ ، وَتَعُوذُونَ بِهِ مِنَ النَّارِ.

Adapun 2 hal yang jangan sampai kalian tidak meraihnya di ramadhan ini, yaitu mengharapkan surga dan berlindung dari siksa neraka.


Perkara ketiga dan perkara keempat dalam riwayat yang telah disebutkan di awal yaitu meraih kebahagiaan dan kesuksesan yang sesunguhnya, yaitu menjadi ahlul jannah dan terhindar dari siksa api neraka. Dalam surat Ali Imran ayat 185 diingatkan:

فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ.

Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan. (Q.S. Ali Imran : 185)

Inilah dambaan setiap orang-orang yang beriman. Sehingga dalam doa mereka juga senantiasa mengharapkan hal ini. Dalam surat Al-Baqarah ayat 201-202 disebutkan:

وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ . أُولَئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا.

Di antara manusia ada yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari azab neraka.” Mereka itulah yang memperoleh bagian dari apa yang telah mereka kerjakan. (Q. S. Al-Baqarah : 201-202)

[tab] [content title="Ibnu Khuzaimah"]Shahih Ibnu Khuzaimah[/content] [content title="Lihat Riwayat Hadis"]حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ السَّعْدِيُّ ، حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ زِيَادٍ ، حَدَّثَنَا هَمَّامُ بْنُ يَحْيَى ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدِ بْنِ جُدْعَانَ ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ ، عَنْ سَلْمَانَ قَالَ : خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي آخِرِ يَوْمٍ مِنْ شَعْبَانَ فَقَالَ : أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيمٌ ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ ، شَهْرٌ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ، جَعَلَ اللَّهُ صِيَامَهُ فَرِيضَةً ، وَقِيَامَ لَيْلِهِ تَطَوُّعًا ، مَنْ تَقَرَّبَ فِيهِ بِخَصْلَةٍ مِنَ الْخَيْرِ ، كَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيضَةً فِيمَا سِوَاهُ ، وَمَنْ أَدَّى فِيهِ فَرِيضَةً كَانَ كَمَنْ أَدَّى سَبْعِينَ فَرِيضَةً فِيمَا سِوَاهُ ، وَهُوَ شَهْرُ الصَّبْرِ ، وَالصَّبْرُ ثَوَابُهُ الْجَنَّةُ ، وَشَهْرُ الْمُوَاسَاةِ ، وَشَهْرٌ يَزْدَادُ فِيهِ رِزْقُ الْمُؤْمِنِ ، مَنْ فَطَّرَ فِيهِ صَائِمًا كَانَ مَغْفِرَةً لِذُنُوبِهِ وَعِتْقَ رَقَبَتِهِ مِنَ النَّارِ ، وَكَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْتَقِصَ مِنْ أَجْرِهِ شَيْءٌ ، قَالُوا : لَيْسَ كُلُّنَا نَجِدُ مَا يُفَطِّرُ الصَّائِمَ ، فَقَالَ : يُعْطِي اللَّهُ هَذَا الثَّوَابَ مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا عَلَى تَمْرَةٍ ، أَوْ شَرْبَةِ مَاءٍ ، أَوْ مَذْقَةِ لَبَنٍ ، وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ ، وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ ، وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ ، مَنْ خَفَّفَ عَنْ مَمْلُوكِهِ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ، وَأَعْتَقَهُ مِنَ النَّارِ ، وَاسْتَكْثِرُوا فِيهِ مِنْ أَرْبَعِ خِصَالٍ : خَصْلَتَيْنِ تُرْضُونَ بِهِمَا رَبَّكُمْ ، وَخَصْلَتَيْنِ لاَ غِنًى بِكُمْ عَنْهُمَا ، فَأَمَّا الْخَصْلَتَانِ اللَّتَانِ تُرْضُونَ بِهِمَا رَبَّكُمْ : فَشَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَتَسْتَغْفِرُونَهُ ، وَأَمَّا اللَّتَانِ لاَ غِنًى بِكُمْ عَنْهمَا : فَتُسْأَلُونَ اللَّهَ الْجَنَّةَ ، وَتَعُوذُونَ بِهِ مِنَ النَّارِ ، وَمَنْ أَشْبَعَ فِيهِ صَائِمًا سَقَاهُ اللَّهُ مِنْ حَوْضِي شَرْبَةً لاَ يَظْمَأُ حَتَّى يَدْخُلَ الْجَنَّةَ.[/content] [/tab]

Demikianlah 4 perkara yang menjadi tujuan penting untuk diraih di bulan ramadhan yang penuh berkah. Semoga dapat dipertahankan di bulan syawwal ini dan juga pada bulan-bulan berikutnya. 

Keempat perkara tersebut menjadi lantunan zikir dan doa yang senantiasa dibaca. Dan semoga senantiasa diresapi pesan dan hikmah di dalamnya.

أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلَهَ إِلاَّ اللّه، أَسْتَغْفِرُ اللّه، أَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ.

Aamiin yaa Rabbal Aalamiin

SQ Blog - Perjalanan hidup manusia tidak lepas dari liku-liku kehidupan. Baik itu menyenangkan, menyedihkan, maupun memilukan. Setiap hal dan rintangan yang dihadapi manusia akan menjadi tolak ukur pribadi masing-masing. Baik dalam hal kenikmatan dan kebaikan, demikian juga dalam berbagai kesulitan dan kesukaran. Allah SWT mengingatkan dalam surat Al-Ankabut ayat 2:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ.

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan saja berkata, “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji? (Q.S. Al-Ankabut : 2)

Warna warni kehidupan dengan berbagai fenomenanya menjadi ujian dan cobaan setiap manusia. Pemahaman terhadap berbagai ujian dan cobaan tersebut dapat dilihat dalam beberapa ayat Al-Quran. Memberikan kesan dan pesan dalam banyak hal. Salah satunya bahwa setiap hal yang menimpa seseorang untuk meninggikan derajat dan kedudukannya di sisi Allah SWT. 

Berkenaan dengan ini, pada satu sisi lain memberikan kesan bahwa segala anugerah dan nikmat bersumber dari Allah. Dan segala keburukan akibat ulah perbuatan manusia sendiri. Sungguhpun perlu diyakini segala sesuatu terjadi atas izin Allah, baik itu dalam hal yang menyenangkan maupun yang memilukan. Maka perlu pemahaman yang mendalam untuk memahami bahwa segala sesuatu terjadi atas izin-Nya, tetapi hal-hal yang buruk dan memilukan disebabkan akibat ulah diri sendiri.


Pada aspek lain, disebutkan segala hal yang terjadi di bumi dan pada diri manusia telah tertulis dalam ketetapan Allah sebelum terjadinya. Ini menjadi ranah keimanan yang dapat diterima dengan memahami berbagai hikmah dan contoh-contoh kenyataan hidup yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai wilayah iman, langkah awal tentu meyakini dengan sepenuh hati sembari memperkaya pemahaman dan mengambil hikmah dari berbagai hal yang terjadi dalam kehidupan.

Demikian juga, beragam istilah yang digunakan Al-Quran dalam menyampaikan hal ini memiliki kesan dan pesan masing-masing dalam penggunaanya. Maka perlu dikemukakan untuk melihat setiap perbedaan dan ruang lingkupnya. Diharapkan memberikan pemahaman yang baik dalam upaya menyikapi setiap hal yang terjadi. Dan juga dapat melahirkan prasangka yang baik atas setiap kondisi dan keadaan.

Pertama: Musibah (المصيبة), kata ini sering dan populer digunakan dalam menyebutkan setiap hal yang menimpa manusia. Dalam keterangan ayat-ayat Al-Qur'an terkait kata ini, dapat dimulai dari surat As-Syura' ayat 30:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ.

Musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri dan Allah memaafkan banyak kesalahanmu. (Q.S. As-Syura [42] : 30)

Ayat ini mengingatkan bahwa setiap hal, khususnya yang buruk dan tidak menyenangkan yang menimpa manusia adalah akibat perbuatannya sendiri. Hal ini juga menjadi teguran kepada mereka yang ingkar kepada Allah khususnya orang-orang munafik yang mengatakan bahwa apa yang menimpa mereka berupa hal yang menggembirakan bersumber dari Allah, dan yang tidak menyenangkan akibat dari sisi Nabi Muhammad.

Allah SWT menegaskan hal ini dalam surat An-Nisa' ayat 78:

وَإِنْ تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَقُولُوا هَذِهِ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَقُولُوا هَذِهِ مِنْ عِنْدِكَ.

Jika mereka memperoleh suatu kebaikan, mereka berkata, “Ini dari sisi Allah” dan jika mereka ditimpa suatu keburukan, mereka berkata, “Ini dari engkau (Nabi Muhammad).” (Q.S. An-Nisa' [4] : 78)

Potongan ayat ini pun memberikan penegasan:

قُلْ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ.

Katakanlah, “Semuanya (datang) dari sisi Allah.” (Q.S. An-Nisa' [4] : 78)


Dalam ayat berikutnya pun diberikan penjelasan yang lebih rinci:

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ.

Kebaikan apa pun yang kamu peroleh berasal dari Allah, sedangkan keburukan apa pun yang menimpamu itu disebabkan oleh kesalahan dirimu sendiri. (Q.S. An-Nisa' [4] : 79)

Penegasan rangkaian ayat di atas menyebutkan bahwa segala sesuatu terjadi atas izin dan kehendak Allah SWT. Namun segala hal yang baik bersumber dari-Nya dan segala hal yang buruk akibat ulah perbuatan diri sendiri. Dalam surat Al-Hadid ayat 22 juga disebutkan:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ.

Tidak ada bencana apa pun yang menimpa di bumi dan tidak juga yang menimpa dirimu, kecuali telah tertulis dalam Kitab Lauh Mahfuz sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya hal itu mudah bagi Allah. (Q.S. Al-Hadid [57] : 22)

Penerimaan bahwa segala sesuatu terjadi atas izin Allah adalah salah satu rukun iman, yaitu kepada Qada' dan Qadar Allah SWT. Dan pemahaman terhadap segala hal yang buruk bersumber dari diri sendiri dapat diilustrasikan seperti ini:

Seorang ayah membuatkan mainan di rumah buat anak-anaknya. Sang ayah menyiapkannya dengan seksama agar dapat dipakai dengan baik oleh sang anak. Setelah mainan tersebut selesai, sang anak mulai memainkan mainan tersebut dengan hati senang.

Ketika sang anak menggunakannya dengan baik dan hati-hati sesuai arahan sang ayah, maka anak tersebut dapat menikmati dengan senang dan selamat dengan mainan tersebut. Sehingga dapat dikatakan, anak tersebut sangat senang karena telah dibuatkan mainan oleh ayah.

Namun, jika sang anak memainkan mainan tersebut tanpa hati-hati dan tidak memperhatikan arahan sang ayah, lalu anak tersebut mengalami hal yang tidak diharapkan seperti terjatuh dan lainnya. Maka dapat dikatakan sang anak terjatuh karena tidak hati-hati, akibat ulah perbuatannya sendiri. Tidak dapat disalahkan sang ayah yang telah mebuatkan permainan tersebut.

Demikian adanya dalam kehidupan ini, Allah SWT telah menciptakan alam semesta ini dengan segala hukum-hukum di dalamnya, termasuk hukum sebab akibat. Demikian juga manusia telah dibekali dengan petunjuk Al-Quran dan Hadis serta dianugerahi qalbu dan akal agar dapat memilih dan memilah setiap langkah mereka dalam hidup ini. Dan sekali lagi diingatkan dalam surat Ar-Rum ayat ayat 41:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ.

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. Melalui hal itu Allah membuat mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar. (Q.S. Ar-Rum [30] : 41)

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Musibah (المصيبة) dalam redaksi Al-Quran dapat dimaknai segala hal yang tidak menyenangkan yang menimpa manusia akibat ulah perbuatannya sendiri.


Seseorang yang makan makanan yang tidak sehat atau kotor kemudian sakit, maka dapat dikatakan musibah. Seseorang yang berkendara dengan tidak hati-hati, lalu terjatuh maka dapat dikatakan musibah. Singkat kata, segala hal yang menimpa yang tidak menyenangkan akibat perbuatan sendiri dapat dikatakan musibah.

Kedua : Bala (البلاء), kata ini juga sudah familiar dalam kehidupan sehari-hari. Seperti bala bencana, tolak bala, membuang bala dan lainnya. Dalam redaksi ayat-ayat Al-Quran dapat diawali dari surat Al-Mulk ayat 2:

 الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ.

Allah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. (Q.S. Al-Mulk [67] : 2)

Demikian juga kata bala disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 155:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ.

Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang sabar. (Q.S. Al-Baqarah [2] : 155)

Redaksi ayat di atas menunjukan bahwa bala adalah bentuk ujian Allah kepada setiap hamba-hambanya. Hal ini juga sesuai ungkapan Nabi Sulaiman a.s ketika menerima berbagai nikmat dan anugerah. Sebagaimana disebutkan dalam surat An-Naml ayat 40:

هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ.

Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau berbuat kufur. (Q.S. An-Naml [27] : 40)

Dari rangkaian ayat tersebut, bala dapat dimaknai segala sesuatu yang menimpa manusia yang datang dari Allah dan setiap manusia mengalaminya.

Keterangan ini mengingatkan pesan baginda Rasulullah SAW yang bersumber dari sahabat Shuhaib bin Sinan:

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ.

Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya. (H.R. Muslim)

Ketiga : Fitnah (الفتنة), kata ini sering digunakan dalam arti berita bohong atau palsu.

Dalam konteks diskusi ini, Fitnah (الفتنة) dimaknai sesuatu yang menimpa manusia, baik orang-orang yang benar maupun orang-orang yang bersalah.

Artinya, boleh jadi hanya satu atau dua orang saja yang berbuat, namun yang lainnya dapat merasakan akibatnya. Seperti sebuah perahu yang ditumpangi sejumlah orang. Hanya satu atau dua oknum saja yang melubangi perahu, namun semua penumpang akan tenggelam akibat perbuatan tersebut.


Contoh lain dalam kecelakaan beruntun. Boleh jadi hanya satu pengendara yang ugal-ugalan, namun pengendara lainnya turut merasakan akibatnya. Dan contoh-contoh lain yang banyak terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Keterangan ini dapat dilihat dalam surat Al-Anfal ayat 25: 

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً.

Peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. (Q.S. Al-Anfal [8] : 25)

Ayat ini mengingatkan agar setiap orang juga tampil melakukan amar ma'ruf nahi munkar. Artinya jangan lesu dan jemu mengajak kepada kebaikan dan mencela kemungkaran. Sendi-sendi bangunan masyarakat akan melemah jika kontrol sosial melemah. Akibat kesalahan tidak hanya menimpa yang bersalah, maka perlu upaya dan kerja sama dalam setiap hal.

Ayat ini tidak bertentangan dengan firman Allah: "Seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain" (Q.S. Al-An'am [6] : 164). Karena, apabila kemungkaran telah meluas, dan tidak ada yang tampil meluruskannya, itu berarti bahwa masyarakat atau pihak yang berwajib tidak lagi terusik perasannya dan gairah keagamaannya akibat kemungkaran itu.

Siapa yang sikapnya seperti itu, dapat dinilai merestui kemungkaran dan ini menjadikan yang bersangkutan terlibat secara tidak langsung dalam kemungkaran itu sehingga ia pun berdosa. Namun, tentu juga disadari banyak orang-orang yang tidak bersalah dan tidak tahu menahu dalam suatu fitnah yang juga turut merasakan akibatnya meskipun tidak terlibat sama sekali di dalamnya.

Keempat : Azab (العذاب), yaitu sesuatu yang menimpa kepada mereka yang ingkar kepada Allah SWT. Kata ini banyak disebutkan dalam ayat-ayat Al-Quran.

Di antaranya dalam surat Al-Isra' ayat 10:

وَأَنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا.

Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang tidak beriman pada akhirat telah Kami sediakan bagi mereka azab yang sangat pedih. (Q.S. Al-Isra' [17] : 10)

Dalam surat As-Sajdah ayat 21 juga diingatkan:

وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنَ الْعَذَابِ الْأَدْنَى دُونَ الْعَذَابِ الْأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ.

Kami pasti akan menimpakan kepada mereka sebagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat) agar mereka kembali ke jalan yang benar. (Q.S. As-Sajdah [32] : 21)


Demikian juga dalam surat Al-Qalam ayat 33 ditegaskan:

كَذَلِكَ الْعَذَابُ وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ.

Seperti itulah azab (di dunia). Sungguh, azab akhirat lebih besar sekiranya mereka mengetahui. (Q.S. Al-Qolam [68] : 33)

Dari uraian di atas, setelah menyebutkan kata Musibah (المصيبة), Bala (البلاء), Fitnah (الفتنة), Azab (العذاب) dapat memberikan gambaran arti dari masing-masing redaksinya dalam Al-Quran. Hal ini dapat melahirkan nilai-nilai yang baik dalam menghadapi segala kenyataan hidup ini.

Di antara nilai-nilai tersebut adalah:

  • Senantiasa berprasangka baik kepada Allah SWT;
  • Mengambil pelajaran dalam setiap hal yang menimpa, bahwa Allah menguji hamba-hamba-Nya untuk meninggikan derajatnya di sisi-Nya. Di sisi lain dapat menjadi penghapus kesalahan dan dosa yang penah dilakukan;
  • Mendokan sesama yang sedang diuji agar mereka senantiasa diberikan ketabahan, kesabaran, kekuatan iman, dan semoga diberikan jalan keluar yang sebaik-baiknya. Di samping itu, memberikan bantuan kepada mereka sesuai kemampuan masing-masing. Agar timbul kesadaran bahwa setiap kita tidak luput dari ujian dan cobaan dari Allah SWT. 

Demikian, semoga bermanfaat

SQ Blog - Doa adalah senjata orang beriman (الدُعَاءُ سِلَاحُ الْمُؤْمِنِ), artinya menjadi alat atau kekuatan utama yang dimiliki seorang Muslim untuk menghadapi kesulitan dan mengharapkan pertolongan Allah SWT. Para Nabi dan Rasul pun senantiasa berdoa sebagaimana banyak ditemukan dalam ayat-ayat Al-Quran dan Hadis.

Salah satu keistimewaan doa para Nabi dan Rasul disebutkan Imam Muslim dalam kitab shahihnya:

لِكُلِّ نَبِىٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ فَتَعَجَّلَ كُلُّ نَبِىٍّ دَعْوَتَهُ وَإِنِّى اخْتَبَأْتُ دَعْوَتِى شَفَاعَةً لأُمَّتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَهِىَ نَائِلَةٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِى لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا.

Setiap Nabi memiliki doa mustajabah, dan setiap Nabi telah menggunakan doa mustajab mereka. Adapun aku menangguhkan doa mustajabah tersebut sebagai syafaat untuk umatku pada hari kiamat kelak. Maka setiap umatku memperoleh syafaat tersebut insyaAllah bagi mereka yang meninggal tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun. (H.R. Muslim)

Demikian salah satu harapan terbesar setiap insan pada hari akhir kelak, dapat mendapatkan syafaat dari baginda Rasulullah SAW dan juga mengharapkan syafaat Al-Quran yang senantiasa dibacanya. Jika syafaat Al-Quran dapat diperoleh dengan membaca, mempelajari, menghafalkan, dan kemudian mengamalkannya. Adapun syafaat Nabi dapat diraih dengan menjadi umatnya yang istiqomah dalam menjalankan ajaran-ajarannya.


Menjadi umat Nabi Muhammad SAW merupakan anugerah yang patut di syukuri kepada Allah SWT. Betapa banyak kemuliaan dan anugerah yang Allah berikan kepada umat terakhir ini yang tidak diberikan pada umat-umat sebelumnya berkat keagungan dan kemuliaan baginda Rasulullah SAW.

Imam Ibnu Majah dalam kitab sunannya dan juga Imam Al-Baihaqi dalam kitab sunan al-kubranya menyebutkan riwayat yang bersumber dari sahabat Ibnu Abbas:

إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِى عَنْ أُمَّتِى الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ.

Sesungguhnya Allah SWT mengampuni umatku dalam beberapa hal karena aku, yaitu ketika berbuat keliru, lupa, dan dipaksa. (H.R. Al-Baihaqi dan H.R. Ibnu Majah)

Anugerah tersebut dipahami dan dimaknai sebagai bentuk karunia dari Allah yang diperoleh berkat kemuliaan Rasululullah SAW. Kemudian melahirkan rasa terima kasih atas kedudukan sebagai umatnya. Dalam keterangan hadis Nabi disebutkan:

لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ.

Belum dianggap bersyukur seorang hamba, atau belum sempurna rasa syukur seorang hamba sampai ia mampu berterima kasih kepada sesama manusia. (H.R. Abu Dawud)

Berterima kasih kepada sesama di antaranya dilakukan kepada kedua orang tua, guru, kerabat, tetangga, rekan, teman dan yang lainnya. Dan sosok, pribadi, insan yang paling pantas kita berterima kasih atasnya adalah baginda Rasulullah SAW. Beberapa tuntunan yang dapat dilaksanakan sebagai upaya untuk berterima kasih kepada Nabi, dan juga sekaligus menunjukan bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat kenabian ini. Tuntunan tersebut tidak terlepas dari kewajiban-kewajiban yang harus dijalankan sebagai umat Nabi Muhammad SAW, di antaranya:

Pertama : الإيمان به (Beriman dengan sepenuh hati)

Langkah pertama dengan menyakini sepenuh hati bahwa nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah dan menjadi penutup para nabi dan rasul. Tidak ada lagi nabi dan rasul setelahnya. Beliaulah sebagai penutup risalah yang diutus untuk membimbing umat manusia.

Demikian adanya salah satu rukun iman adalah beriman kepada para rasul termasuk Rasulullah SAW. Dalam surat Al-Ahzab disebutkan:

.مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ    

Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, melainkan dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. (Q.S. Al-Ahzab : 40)

Kedua : محبته (Mencintainya)

Setelah beriman dengan sepenuh hati, berikutnya mencintai Nabi dengan tulus melebihi dari segala yang lainnya setelah kecintaan kepada Allah. Bukti kecintaan tersebut tidak hanya sekedar di lisan, tetapi tergambar dalam sikap dan perbuatan dengan menjadikan Nabi sebagai prioritas dalam setiap hal dan rela berkorban untuk menegakkan ajaran-ajarannya.

Nabi SAW bersabda:

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا.

ِAda 3 kelompok orang yang dapat merakan manisnya iman, salah satu dari mereka adalah orang yang mencintai Allah dan rasul-Nya melebihi dari segala yang lainnya. (H.R. Muslim)

Ketiga : طاعته (Taat kepadanya)

Ketika keimanan dan kecintaan kepada Nabi telah tumbuh, maka berikutnya akan melahirkan ketaatan dalam menjalankan sunnah-sunnahnya. Ketaatan kepada Nabi hakikatnya adalah ketaatan kepada Allah SWT karena atas izin dan kehendak-Nyalah memilih dan mengutus setiap nabi dan rasul. Sehingga kedua bentuk ketaatan ini tidak dapat dipisahkan. Dalam surat Al-Nisa ayat 80 ditegaskan:

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ.

Siapa yang menaati Rasul (Muhammad), maka sungguh telah menaati Allah. (Q.S. Al-Nisa : 80)

Keempat : تعظيم شعنه (Mengagungkan pribadinya)

Disamping beriman, mencintai, dan taat kepada Nabi, juga memuliakan dan mengagungkan pribadi baginda Nabi Muhammad SAW. Menanamkan rasa ta'zim terhadap segala hal yang berkaitan dengan Nabi dan menjadikannya sebagai uswatun hasanah.

Sebagai umatnya yang datang kemudian sehingga belum pernah berjumpa dengan beliau, mempelajari dan mengamalkan hadis-hadisnya merupakan salah satu upaya untuk mengagungkan dan menghormati pribadi Nabi. Para ulama telah menulis dan menyusun hadis-hadis Nabi dalam berbagai kitab yang jumlahnya ratusan bahkan ribuan untuk meraih keberkahan pada diri Nabi.

Hadis-hadis tersebut dapat ditemukan dalam beberapa metode penyusunan yang telah dituliskan oleh para ulama sebagai berikut:

  1. Metode shahih, yaitu Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim;
  2. Metode sunan, yaitu Sunan Abu Dawud, Sunan An-Nasa'i, Sunan Al-Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah, Sunan Al-Kubra Al-Baihaqi, dan lainnya;
  3. Metode muwatta seperti Muwatta Imam Malik bin Anas;
  4. Metode mushannaf seperti Mushannaf Hammad bin Salamah,
  5. Metode musnad seperti Musnad Ahmad bin Hanbal, Musnad Imam Abu Ya'la,
  6. Metode mustakhraj seperti Mustakhraj Al-Isfirayni,
  7. Metode mustadrak seperti Mustadrak ala As-Shahihain karya Imam Al-Hakim,
  8. Metode mu'jam seperti Al-Mu'jam Al-Kabir, Al-Mu'jam Al-Ausat, Al-Mu'jam Al-Saghir karya imam Al-Thabrani,
  9. Metode zawaid seperti Misbah Al-Zujajah karya Jalaluddin Al-Suyuti,
  10. Termasuk metode shahifah yang dipakai para sahabat dalam mencatat hadis, di antaranya Shahifah Umar bin Khattab, Shahifah Ali bin Abi Thalib, Shahifah Abdullah bin Mas'ud, dan lainnya.
Kitab-kitab hadis tersebut saat ini hampir semuanya mudah dijumpai, baik dalam bentuk cetak maupun digital kecuali dalam bentuk shahifah. Demikian juga syarah dari masing-masing kitab tersebut telah ditulis para ulama dalam kitab yang berjilid-jilid jumlahnya. Seperti Fath Al-Bari' syarah kitab Shahih Al-Bukhari karya imam Ibnu Hajar, Al-Minhaj syarah Shahih Muslim karya imam An-Nawawi. 

Kelima : كثرة الصلوات عليه (Memperbanyak sholawat kepadanya)

Tuntunan berikutnya ialah senantiasa bersholat kepada Nabi Muhammad SAW. Dalam surat Al-Ahzab ayat 56 disebutkan:

 إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya. (Q.S. Al-Ahzab : 56)
Para mufassir menjelaskan bahwa sholawat Allah kepada Nabi berupa mencurahkan rahmat-Nya, sholawat para Malaikat berupa doa atasnya, dan sholawat orang-orang yang beriman artinya mengharapkan kemulian dan keberkahan melalui perantara Nabi Muhammad SAW.


Bersholawat kepada Nabi dapat diibaratkan mengisi gelas yang penuh, maka airnya akan mengalir dan kembali kepada yang menuangkannya. Artinya, pribadi Nabi adalah pribadi yang sudah penuh dengan kebaikan dan kemuliaan, maka segala kebaikan dan kemuliaan yang ditujukan kepadanya termasuk doa dan sholawat akan kembali kepada yang memberikannya.

Keenam : محبة أهل بيته وأصحابه (Mencintai keluarga dan para sahabatnya)

Terakhir, mencintai juga keluarga Nabi dan para sahabat-sahabatnya. Merekalah yang senantiasa mendampingi Nabi dalam setiap keadaan dan perjuangan untuk mensyiarkan agama Islam.

Maka menghormati dan memuliakan mereka termasuk memuliakan Nabi, membenci dan memusuhi mereka secara tidak langsung akan menyakiti Nabi juga. Mengetahui sejarah dan jasa mereka akan melahirkan nilai-nilai yang dapat dicontoh dalam meneladani Nabi. Karena merekalah yang menyaksikan segala perbuatan dan kondisi yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW.

Demikian beberapa tuntunan yang harus dibina dan ditanamkan untuk menjadi umat Nabi Muhammad SAW. Tuntunan ini menggambarkan rasa terima kasih atas risalah Nabi sekaligus menjadi bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta Allah SWT dengan menggunakan segenap anugerah-Nya sesuai dengan ketentuan dan bimbingan-Nya.

Dan semoga dengan tuntunan ini dapat mengantarkan kita menjadi umat Nabi Muhammad SAW yang kelak mendapatkan syafaatnya di hari akhir kelak, aamiin yaa Rabb.

Sya'ban merupakan bulan ke-8 dalam kalender hijriyah, dan juga bulan yang terletak di antara bulan Rajab dan bulan Ramadhan. Hal ini menunjukkan kemuliaan bulan sya'ban karena diapit oleh dua bulan yang juga memiliki keagungan di sisi Allah SWT.

Bulan Rajab yang mendahului bulan sya'ban adalah salah satu dari bulan-bulan haram di sisi Allah, dan bulan Ramadhan yang mengiringinya adalah bulan dimana Al-Quran diturunkan, bulan yang di dalamnya terdapat lailatul qodar, dan bulan yang penuh kesucian, keberkahan dan maghfiroh di sisi Allah SWT.

Bulan sya'ban secara bahasa dapat di artikan jalan atau celah dari asal kata syi'ab (شِعْب). Menunjukkan bulan ini menjadi jalan yang dimulai untuk meraihkan kebaikan serta kemuliaan dalam bulan ramadhan. Dalam tradisi masyarakat Arab, saat sya'ban datang mereka mempersiapkan diri berupa sumber-sumber mata air sebelumnya datangnya bulan panas. Persiapan itu dilakukan dengan membuat kelompok-kelompok kecil (شَعَّبَ) di antara mereka untuk mencari sumber-sumber air.

Setelah Islam datang, makna tersebut dipahami sesuai dengan nilai dan tuntunan ajaran-ajaran Islam. Sehingga sya'ban menjadi bulan untuk mulai mempersipakan diri dengan berbagai ibadah dan kebaikan sebelum datangnya bulan suci Ramadhan. 


Bulan sya'ban menjadi jembatan antara rajab dan ramadhan. Kedudukannya menjadi gerbang untuk menyambut bulan suci ramadhan. Baginda Rasulullah SAW mengajarkan salah satunya agar mulai mempersiapkan diri menjalankan ibadah puasa di dalam bulan ini.

Siti Asiyah, istri baginda Rasulullah SAW berkata:

.َمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَ رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ 

Tidaklah aku melihat Rasulullah SAW berpuasa sebulan penuh kecuali Ramadhan, dan aku tidak melihat beliau berpuasa sebanyak pada bulan Sya’ban. (H.R. Al-Bukhari dan H.R. Muslim)

Setelah bulan Ramadhan, dimana kaum muslimin diwajibkan berpuasa sebulan penuh di dalamnya. Sebagaimana dicontohkan Nabi SAW dan para sahabat, ada bulan sya'ban dimana baginda Rasulullah SAW lebih banyak banyak berpuasa dibandingkan bulan-bulan lainnya.

Dalam riwayat lain disebutkan, seorang sahabat bernama Usaman bin Zaid bertanya kepada Nabi:

.يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ 

Wahai Rasulullah, aku tidak melihatmu berpuasa sebanyak pada bulan Sya’ban. 

.قَالَ: ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ

Nabi bersabda: “Sya’ban adalah bulan yang dilalaikan oleh manusia, yang terletak di antara Rajab dan Ramadhan.

 وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الأعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِم.

Sya’ban juga bulan diangkatnya amal perbuatan ke suatu tempat di langit yang dimuliakan oleh Allah Sang Pemilik alam semesta, dan aku senang kata Nabi, jika amal perbuatanku diangkat sedangkan aku dalam keadaan berpuasa.

Riwayat di atas disebutkan Imam Ahmad dalam kitab musnadnya, demikian juga Imam Al-Nasa'i dan kitab sunannya.

Keterangan di atas menunjukkan salah satu kemuliaan sya'ban, yaitu bulan tempat diangkatnya amalan seorang hamba dalam setahun kepada Allah SWT. Sehingga Nabi menyatakan, "aku senang jika amal perbuatanku diangkat sedangkan aku dalam keadaan berpuasa."

Amalan seorang hamba di angkat kepada Allah dalam beberapa waktu, ada yang langsung diangkat seperti sholat, ada yang diangkat pada setiap senin dan kamis, dan ada yang setiap pagi dan petang. Adapun pengangkatan amalan pada bulan sya'ban mencakup perbuatan secara umum yang dilakukan selama setahun.


Kemulian kedua, peristiwa pengalihan kiblat dari masjidil Aqsa ke masjidil Haram terjadi pada bulan sya'ban. Hal ini disebutkan imam Al-Qurtubi dalam tafsirnya saat menjelaskan ayat:

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ.

Sungguh, Kami melihat wajahmu (Nabi Muhammad) sering menengadah ke langit. Maka, pasti akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Lalu, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Di mana pun kamu sekalian berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu. (Q.S. Al-Baqarah 144)

Dalam Al-Jami' li Ahkam al-Quran disebutkan bahwa peristiwa ini, perintah kepada Nabi mengalihkan kiblat dari madjidil Aqsa ke Masjidil Haram terjadi pada bulan Sya'ban. Hal ini terjadi setelah Nabi dan para sahabat melaksanakan sholat menghadap Masjidil Aqsa selama 1 tahun lebih.

Pesan ini memberi isyarat kepatuhan kepada Allah dan sholat sebagai ibadah utama dalam mengabdi dan mendekatkan diri kepada Allah.


Kemuliaan ketiga, sya'ban adalah bulan sholawat. Ibnu Hajar Al-Asqalani berpendapat bahwa surat Al-Ahzab ayat 56 tentang perintah sholawat diturunkan pada tahun ke-2 hijriah bertepatan pada bulan sya'ban. Sehingga sebagian menyebutkan sya'ban sebagai bulan sholawat.

Kemuliannya lainnya, di dalamnya terdapat nisfu sya'ban, yaitu pertegahan bulan sya'ban. Imam Ibnu Majah dalam kitab sunannya menyebutkan:

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ : إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ ، فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا.

Jika tiba malam Nishfu Sya’ban, maka shalatlah (sunnah) pada malam harinya dan berpuasalah (sunnah) pada siang harinya. (H.R. Ibnu Majah)

Semoga kemulian bulan ini dapat dimaksimalkan dalam mendekatkan diri kepada Allah, dan meningkatkan kualitas ibadah, baik yang sunnah demikian juga yang wajib. Sehingga di bulan Ramadhan dapat merasakan manisnya iman dan ibadah yang dilaksanakan.

Sekian

Rasa syukur semoga senantiasa dipanjatkan ke hadirat Allah SWT, atas izin-Nya masih memanjangkan usia kita sehingga dapat bertemu kembali dengan tahun baru. Hal ini bertepatan juga dengan suasana awal bulan rajab yang penuh kemuliaan di sisi Allah. Yaitu salah satu bulan-bulan haram, yang penuh kemuliaan di dalamnya.

Nabi SAW menyatakan:

السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَان

Tahun terdiri atas 12 bulan, di antaranya 4 bulan haram. 3 bulan berturut-turut, yaitu Dzulqa'dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Adapun Rajab terletak di antara Jumada (Jumadil Akhir) dan Sya'ban. (H.R. Al-Bukhari)

Demikian juga dalam surat At-Taubah ayat 36 ditegaskan:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lauh Mahfuz) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu padanya. (Q.S. At-Taubah: 36)


Limpahan anugerah dan rahmat Allah tersebut mengantarkan kita pada gerbang dan pintu-pintu kebaikan. Awal tahun ini mendorong kita untuk meningkatkan kualitas diri yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Dan suasana awal bulan Rajab mendorong kita untuk membenahi diri dalam upaya menyambut bulan Sya'ban dan bulan Ramadhan yang penuh kemuliaan di sisi Allah SWT.

Berkenaan dengan ini, satu ayat yang patut disampaikan dalam rangka meningkatkan kulitas diri kita ialah firman Allah SWT dalam surat Al-Hasyr ayat 18:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al-Hasyr: 18)

Pesan pertama : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَwahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah. Dalam pengertian umum taqwa adalah:

امتثال أوامر الله واجتناب نواهيه

Melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Dari pengertian takwa ini dan beragam makna lainnya yang telah dikemukakan para ulama, satu kesimpulan yang dapat dikemukakan bahwa taqwa adalah upaya menjauhkan diri dari hal-hal yang dapat mendatang azab, musibah, bencana, keburukan dan lainnya. Baik itu berkenaan dengan pelanggaran terhadap hukum-hukum alam raya yang dapat menyebabkan datangnya musibah dan bencana, maupun pelanggaran terhadap hukum-hukum syariat yang dapat mengakibatkan datangnya azab dan siksa Allah SWT.

Melanggar hukum hukum-hukum alam raya, berlaku umum dan prinsipnya menyebabkan datangnya musibah, bencana, dan malapetaka di dunia. Dan melanggar hukum-hukum agama dan syariat, prinsipnya mengakibatkan datangnya azab dan siksa di akhirat kelak.


Sesuai prinsip ini, seseorang yang melanggar syariat belum tentu mendapat azab di dunia. Demikian juga orang alim yang rajin sholat, puasa, dan sebagainya jika melanggar hukum-hukum alam raya boleh jadi terkena sanksinya. Para ulama misalnya, bisa sakit perut karena memakan makanan kotor. Di sisi lain, orang yang jarang sholat, suka melakukan maksiat dan sebagainya, jangan beranggapan bahwa mereka tidak dapat kaya. Bisa saja mereka kaya raya karena mengikuti sunnatullah dan ketetapan yang berlaku di alam raya ini.

Ini pesan pertama yang dapat dikemukakan bahwa taqwa bukan hanya berkenaan dengan tuntunan agama. Tetapi taqwa memiliki dua sisi, yaitu sisi dunia dan sisi akhirat. Sisi dunia menuntun seorang hamba untuk giat dalam bekerja dan berusaha untuk mencari ridha Allah, dan sisi akhirat menuntun seorang hamba untuk senantiasa beribadah dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Pesan kedua: وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍdan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Boleh jadi hari esok yang dekat yaitu dunia, dan hari esok yang jauh yaitu akhirat.

Hendaklah seorang hamba memperhatikan apa yang telah ia lakukan, apa yang telah ia perbuat, dan apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok. Setiap orang penting untuk memeriksa, mengevaluasi, dan menghitung apa yang telah ia siapkan hari ini untuk Besok. Boleh jadi besok di masa muda, di masa remaja, di masa tua, dan tentunya besok di akhirat kelak.

Dalam tuntunan agama, upaya ia disebut muhasabah. Sebagai upaya untuk intropeksi, renungan, dan refleksi terhadap diri selama ini. Sekiranya dalam beribadah niatnya masih salah, maka berupaya untuk diperbaiki dan diluruskan. Jika masih keliru karena kurangnya ilmu, maka berusaha membekali diri dengan wawasan dan ilmu yang lebih baik. Jika kiranya sudah baik, maka tinggal ditingkatkan atau paling tidak dipertahankan.

Satu rumus yang dapat menjadi patokan dalam evaluasi diri ialah bandingkan diri anda hari ini dengan hari esok, seperti dikemukakan dalam sebuah atsar:

مَنْ كَانَ يَوْمُهُ خَيْرًا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ رَابِحٌ. وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ مِثْلَ أَمْسِهِ فَهُوَ مَغْبُوْنٌ. وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ شَرًّا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ مَلْعُوْنٌ

Siapa saja yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia tergolong orang yang beruntung. Siapa saja yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia tergolong orang yang merugi. Dan siapa saja yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka ia orang yang dilaknat (celaka).

Orang yang hari ini sama saja dengan hari kemarin masih termasuk orang yang merugi. Paling tidak ia telah rugi modal dan waktu. Dan orang yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin termasuk orang yang celaka. Ia telah banyak menyianyiakan anugerah Allah dan tidak mendapatkan kebaikan apapun dari anugerah dan nikmat-nikmat tersebut sebagaimana mestinya. Bahkan boleh menjadi disalahgunakan dengan melakukan berbagai dosa dan maksiat.

Harapan setiap hamba agar termasuk orang-orang beruntung adalah memperoleh hari ini lebih baik dari hari kemarin. Tahun ini dapat lebih baik lagi dari tahun-tahun sebelumnya. Untuk meraih harapan ini, mempergunakan sebaik-baik waktu adalah kunci untuk merealisasikannya. Berkenaan hal ini, terdapat tuntunan penting yang diriwayatkan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya:

على العاقل - مالم يكن مغلوباً على عقله- أن تكون له ساعات: ساعة يناجي فيها ربه، وساعة يحاسب فيها نفسه، وساعة يتفكر فيها في صنع الله، وساعة يخلو فيها لحاجته من المطعم والمشرب

Bagi seseorang yang masih berakal sehat, hendaklah ia memiliki beberapa waktu. Waktu untuk bermunajat kepada Tuhannya, waktu untuk muhasabah dirinya, waktu untuk memikirkan ciptaan Allah, dan waktu untuk bekerja memenuhi kebutuhannya seperti makan dan minum.

Waktu untuk bermunajat, yaitu waktu untuk beribadah dan curhat kepada Sang Maha Pencipta. Seperti mendirikan sholat, puasa, zakat, membaca al-Quran, berdoa, dan beragam ibadah lainnya, baik yang wajib demikian juga amaliah yang sunnah.

Waktu untuk bermuhasab, yaitu waktu untuk mengevaluasi diri. Baik perbuatan, perkataan, dan tindakan lainnya dalam kehidupan sehari-hari. Apa yang masih kurang dibenahi dan yang sudah baik dipertahankan dan ditingkatkan demi meraih ridha Allah SWT.

Waktu untuk bertafakkur, yaitu waktu untuk merenung dan memikirkan ciptaan-ciptaan Allah SWT. Termasuk di dalamnya mencari ilmu dan menambah wawasan pengetahuan.

Waktu untuk bekerja, yaitu waktu untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan. Baik itu untuk diri sendiri, maupun untuk memenuhi kebutuhan yang menjadi tanggung jawabnya.

Pesan ketiga: وَاتّقُوا اللّهَ إِنَّ اللّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ, bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. Ayat ini ditutup dengan mengingatkan kembali perintah taqwa, kemudian dirangkaikan dengan penegasan bahwa Allah Maha Teliti terhadap setiap perbuatan hamba-hamba-Nya.

Para ulama memberikan perbedaan antara Maha Mengetahui (عليم) dan Maha Teliti (خبير). Sifat Alim (عليم) adalah pengetahuan Allah mencakup segala sesuatu, sedangkan Habiir (خبير) adalah pengetahuan Allah secara rinci terhadap segala sesuatu. Dengan demikian, Allah Maha Mengetahui secara rinci dari ketakwaan seorang hamba. 


Ini mengisyaratkan dan mengingatkan seorang hamba untuk senantiasa menjaga, memelihara, dan meningkatkan keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT dimanapun ia berada, dan dalam kondisi dan suasana apapun ia berada.

Nabi SAW mengingatkan:

اتَّقِ اللهِ حَيْثُمَا كُنْتَ ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا

Bertakwalah kepada Allah dimanapun engkau berada, dan iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, maka akan menghapuskannya. (H.R. Al-Tirmidzi)

Semoga kita senantiasa dalam keberkahan Allah SWT.

Sekian

SQ Blog

{picture#https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEimSap9ccYY8FQp44yNvjVK6lRtOVpD-gpVKKWSk__oyc8ChkbooHIuh52uDXiZGchcOoPlIazgMEjOjQ5r0b-DftM48h8gDub2yWyKzDdH1VSYDrsmbf1qfYgl5hKaEuiAW8WAQeTmErDqcHjIm3C4GJKWRJv52o5uHAW10S2gOWj4o8nMsdahVxSo/s500/sq%20vlog%20official%20logo%20png%20full.png} SQ Blog - Wahana Ilmu dan Amal {facebook#https://web.facebook.com/quranhadisblog} {youtube#https://www.youtube.com/user/Zulhas1}

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.